Mempertanyakan Esensi Berpuasa

Alhamdulillah, tahun ini kita masih mendapat kesempatan untuk bertemu kembali dengan bulan suci Ramadan. Dan bulan puasa tahun ini terasa sekali perbedaannya, khususnya untuk para pemerhati media sosial atau berita-berita lainnya. Bagaimana tidak? Banyak sekali peristiwa-peristiwa yang terjadi selama bulan Ramadan ini.

Yang paling mencolok tentu adalah kasus Ibu Saeni. Ibu-ibu penjual warteg yang dirazia oleh Satpol PP dan selanjutnya mendapat bantuan dana dari banyak pihak hingga ratusan juta. Wow! Dan dimana ada sesuatu yang menarik perhatian, disitulah ada banyak kontroversi. Mulai dari Ibu Saeni yang katanya adalah seseorang yang mampu secara ekonomi dan punya tiga warteg, pemberian bantuan yang katanya settingan dan banyak lah pokoknya semua dijadikan perdebatan. Yang mana yang benar? Wallahu’alam.

Ada pula kicauan-kicauan di Twitter yang jadi bahan perbincangan. Ehm, kicauan di Twitter memang sering juga menjadi bahan obrolan dan perdebatan bahkan di saat bukan bulan puasa. Entah saya yang tidak terlalu memantau Twitter di setiap bulan puasa atau memang baru kali ini saja, banyak sekali orang-orang yang berkicau perihal orang-orang yang tidak berpuasa haruslah menghormati yang puasa. Melalui pengamatan pribadi saya (ndak ilmiah ya, karena saya ndak punya data, ngira-ngira saja), kicauan sejenis ini banyak sekali bermunculan di tahun ini dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Entah kenapa, saya tidak terlalu paham. Mungkin karena prinsip minoritas harus mengikuti jalannya pihak mayoritas, katanya. Ndak paham juga saya. Kalau perkara hormat-menghormati yang menjadi masalah, ya harusnya sebuah penghormatan lahir dari keinginan sadar dan bukan paksaan ya? Bukan begitu idealnya? Sudah banyak pula tokoh-tokoh sekaliber Pak Lukman dan Gus Mus yang memberikan pernyataan bahwa puasa ya seyogyanya tidak perlu sampai bergesekan dengan kegiatan muamalah lainnya. Tapi ya seperti inilah yang terjadi.

Banyak artikel dan literatur mengenai hukum berjualan di bulan dipublikasikan. Kita bisa melihatnya banyak di internet. Silakan anda bisa baca sendiri. Kebanyakan artikel tersebut mengatakan bahwa tidak diperbolehkan berjualan di saat bulan Ramadan dengan alasan setidaknya berusaha menghindari dosa yang mungkin bisa terjadi kalau ada yang berjualanan makanan di siang hari saat puasa. Banyak sekali ragam dalil yang diberikan. Tapi mungkin ada yang luput dari pengamatan bahwa Tuhan juga tidak memperkenankan seseorang untuk menghalangi, merampas atau mengambil hak dan rejeki orang lain.

Banyak pendapat dari orang-orang yang bilang “Buat apa puasa kalau semua hal yang jadi pantangannya hilang? Bukankah puasa adalah menahan diri dari yang tidak diperbolehkan?” atau “Puasa tapi godaannya gak ada, lalu merayakan hari kemenangan. Kemenangan atas melawan apa?”. Saya sendiri setuju dengan pendapat seperti ini karena memang menurut saya benar seperti ini prinsipnya. Toh, di luar bulan Ramadan, banyak juga orang-orang yang berpuasa sunah, dan ya biasa saja. Puasa jalan, kegiatan yang lain juga jalan. Apa karena lantas ini bulan Ramadan maka semuanya harus menjalani ibadah Ramadan? Lah, yang tidak berkewajiban dan yang berkeyakinan lain bagaimana?

Saya yakin bahwa terjadinya banyak fenomena-fenomena yang kita saksikan selama bulan puasa tahun ini pasti ada hikmahnya. Semua pasti bisa menyimpulkan dan mengambil kesimpulan dari berbagai kejadian tersebut. Kalau saya pribadi percaya, hanya Tuhan dan makhluk-Nya yang tahu betul atas apa-apa yang dilakukan makhluk-Nya tersebut. Hubungan satu arah. Hablumminallah. Jadi, ya, masalah saya puasa atau nggak, dosa atau nggak, benar atau salah, ya nanti juga Gusti Allah yang menilai.

Pada akhirnya, timbullah pertanyaan, untuk apa saya berpuasa? Dan bagaimana saya harus berpuasa? Ah, saya yakin semuanya sudah paham dan pasti bisa menjawabnya masing-masing. Udah ah, saya mah mau ngabuburit main Twitter dulu nih. Mumpung belum ada peraturan yang melarang Twitter-an selama bulan puasa dengan alasan banyak foto makanan berseliweran di linimasa.

Advertisements

Balon Polkadot Malam Itu

Malam itu sepertinya tidak terlalu dingin, karena orang-orang disana tidak tampak seperti orang yang kedinginan. Raut kebahagiaan dan keceriaan menyebar di seluruh area festival. Anak-anak beserta bapak ibunya, sekumpulan remaja, pasangan muda mudi, semua membaur untuk memeriahkan acara malam itu. Sementara semua asyik bersenang-senang, aku masih harus mencari-cari sesuatu untuk kujadikan berita dan mengabadikan momen-momen di acara itu dengan lensa kameraku sambil menahan rasa kesal dan marah.

Seharusnya aku meliput acara ini berdua dengan temanku, Ryan, yang tiba-tiba saja menelepon ketika aku sudah sampai di tempat acara.

Sori, bro. Gue tetiba mules sama mencret-mencret nih. Lemes banget dari sore. Lo sendirian gapapa kan, ya? Soalnya, pas tadi gue nelpon ke kantor katanya gaada yang bisa gantiin. Semangat ya, bro. Entar gue traktir deh ya, hehe.

Tapi bukan karena itu aku marah malam ini. Bayangkan saja, ketika kita sedang sibuk bekerja dan ternyata pacar kita sedang asyik masyuk bercanda bersama lelaki lain. Saat tadi, aku melihat pacarku, Desy, sedang memancing ikan sambil dipeluk lelaki lain, kuhampiri dia dan akhirnya pertengkaran itu terjadi. Sebuah bogem mentah dariku melayang ke wajah si lelaki. Persetan dengan cacian dan makian dari si lelaki dan (mantan) pacarku. Aku berjalan menjauh dari mereka dan kembali bekerja walau dengan hati dongkol.

Setelah tadi aku melakukan wawancara terakhirku (dan juga capek setelah pertengkaran tadi), aku berjalan ke arah tempat parkir sambil melihat-lihat gambar apa saja yang kuambil sedari tadi. Potret keceriaan anak-anak bersama orangtuanya, main kembang api, badut-badut yang menampilkan kelucuannya (atau keseramannya? Entahlah) Lalu, aku melihat foto seorang gadis yang sedang duduk di bangku sambil memegang balon di tangannya. Ah, gadis ini yang tadi aku wawancara dan mengobrol denganku.  Siapa tadi namanya? Gracia?

***

Kuakui sih, pacarku Rendy, memang sedikit urakan kelakuannya. Tapi bukan berarti Rendy orang seperti yang Ayah bicarakan. Lagipula Ayah tahu darimana kalau Rendy itu orang yang brengsek? Pengalaman? Apa Ayah seorang cenayang? Aku yang masih saja kesal memikirkan perkataan Ayah langsung beringsut keluar rumah dan kulihat sebuah motor diparkir diluar rumah. Kulihat Rendy melambai-lambai ke arahku sambil menelepon seseorang. Aku bergegas menghampirinya.

“Abis nelpon siapa, Ren?”

“Ah, nggak, bukan siapa-siapa. Yuk, kita jalan. Kamu bilang apa sama ayah kamu?”

“Ya, aku bilang sama Ayah kalo aku mau pergi sama temen-temen perempuanku, awalnya kan emang gitu. Tapi kan gak jadi. Jadinya sama kamu, Ren.”

“Haha, dasar kamu. Udah yuk, buruan kita pergi.”

Setelah memacu motor sekitar setengah jam, kita sampai di tempat festival itu. Ramai sekali ya. Aku menunggu di dekat pintu masuk venue itu selagi Rendy memarkir motornya. Setelah dia memarkir motornya, kulihat lagi Rendy sedang melihat ponselnya seperti sedang membaca pesan saat berjalan. Aku memperhatikannya dari jauh.

“Tumben sering ngecek HP.”

“Ah, nggak, sayang. Barusan ortuku SMS, makanya aku baca dulu. Oiya, aku mau ke tempat temen aku jualan dulu ya. Ada urusan bentar. Kamu duluan aja, entar SMS aku yah kamu ada dimana.”

“Hmm. Oke deh. Aku kesana dulu ya.”

Aku berjalan-jalan ke sekitar wahana-wahana yang ada. Sesekali mampir ke booth makanan untuk beli camilan. Niatnya kan kita kesini buat jalan-jalan berdua kenapa Rendy malah pergi segala, pikirku. Ya sudah. Daripada menunggu lama, aku langsung mencoba semua permainan disitu.

Selesai banyak mencoba permainan yang ada, aku duduk-duduk di bangku sambil memegang balon berwarna biru dengan corak polkadot putih yang tadi kubeli. Sampai tiba-tiba ada suara bunyi klik kamera dari depanku.

“Hai. Maaf ya saya foto-foto barusan. Saya wartawan dari Teen Magz. Boleh nanya-nanya sedikit mengenai kesan dari acara ini? Nama kamu siapa? Saya Yosua.”, ujarnya sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.

“Oh iya. Boleh-boleh. Aku Gracia.”, jawabku. Setelah itu, si lelaki menanyai beberapa pertanyaan, menanyakan kesan dan pesan untuk acara ini dan lain-lain. Tidak lama, dia selesai mewawancaraiku lalu bertanya, “Aku boleh duduk disini nggak sebentar? Capek nih habis keliling-keliling.”

“Ya boleh lah. Nggak ada yang ngelarang kok. Nggak ada di undang-undang tuh ‘Seorang wartawan dilarang duduk di bangku setelah melakukan wawancara’. Gitu..”, aku sedikit berkelakar.

“Haha, kamu lucu juga yah.”

“Nggak ah. Kalau lucu mungkin aku udah jadi pelawak.”

“Yaudah deh. Yang lucu balon polkadotnya. Hahaha.” Sambil menunjuk balon yang aku pegang.

“Ih apaan sih?”

Kita sama-sama tertawa. Kita mulai mengobrol ringan disitu. Dia lelaki yang menarik dan mengasyikkan. Dia banyak bercerita dan aku disitu bahwa hari itu sepertinya dia sedang sial. Mulai dari dia harus meliput acara festival ini sendirian sampai ternyata pacarnya selingkuh tepat di depan dia, di tempat dia sedang bekerja. Aku merasa kasihan sambil sempat berpikir kemana saja Rendy sampai sekarang dia belum muncul juga.

“Eh maaf ya, aku malah curhat gini, haha. Maaf lho ya.”

“Ah gapapa, kok. Aku malah makasih ada temen ngobrol sementara aku sendirian disini.”

“Lho, iya. Kamu kok sendirian? Pacarnya mana?”

“Dia lagi.. eh, lho.. kok kamu tau aku punya pacar?”, tanyaku heran.

“Keliatan lah, masa perempuan manis kayak kamu gak punya pacar? Wah parah nih, masa bisa-bisanya dia ninggalin ceweknya sendirian disini. Haha.”

“Ih, apaan sih kamu! Cowok aku lagi ke tempat temennya katanya. Aku udah SMS dia kok aku nunggu disini.”

“Oh yaudah. Aku pulang dulu yah. Tugas aku udah selesai. Selamat nunggu pacar kamu yah.”

“Iya. Kamu jangan lupa move on. Hati-hati entar sampe rumah malah nyilet lagi. Haha.”

Setelah laki-laki itu pergi, dari kejauhan Rendy datang menghampiriku.. sambil memegangi wajahnya dengan es batu. Kenapa Rendy?

“Hei sayang, sori lama. Tadi ada orang gajelas, sambil bawa-bawa kamera, terus mukulin aku. Mabok kayaknya.”, sambil meringis kesakitan.

“Ya ampun. Bisa-bisanya ada orang mabok disini. Kamunya ngga apa-apa? Coba sini aku liat dulu.”

Saat aku melihat lukanya dan mengelap lukanya dengan es, aku jadi teringat sesuatu.

Kamera.

Laki-laki yang tadi.

Bertengkar karena pacarnya selingkuh. Apa mungkin..

Tanpa ba-bi-bu aku mengambil ponsel dari saku celananya, lalu melihat-lihat isi ponselnya. Dan.. aku tidak pernah merasa semarah ini.

“Gre! Apa-apaan sih? Balikin hape aku. Kamu ngapain sih..”

PLAAKK! Pertama kalinya dalam hidupku, aku menampar seorang lelaki, bahkan pacarku sendiri. Di depan orang banyak.

Rendy menatapku. Merasa bingung, dia bertanya, “Gre, kamu kenap..”

PLAAKK! Dua kali. Aku menampar seorang lelaki dua kali. Aku benar-benar tidak pernah merasa semarah itu. Tapi kali ini.. Ah, air mataku mulai keluar. Dengan terisak-isak aku mulai bicara pada Rendy.

“Harusnya.. aku percaya sama Ayahku kalau kamu memang brengsek. Mulai sekarang, jangan pernah temuin aku lagi.”, lalu aku banting ponselnya ke tanah dan kuinjak-injak layarnya yang menampilkan percapakan SMS Rendy dengan selingkuhannya, Desy.

“Gre, aku bisa..”

Suara Rendy .. dan pandangan orang-orang disekitar juga tidak aku hiraukan. Aku berlari dan terus berlari keluar dari area festival itu sambil menangis.

***

Setelah selesai melihat-lihat foto-foto tadi, aku memasukkan kameraku ke dalam tas sampai aku melihat seorang gadis yang sedang berlari sambil.. menangis? Membawa balon pula. Setelah kulihat-lihat.. balon polkadot? Itu kan Gracia! Kenapa dia menangis? Aku pun berlari menghampirinya sambil memanggilnya, “Gracia! Hei!”.

Dia berhenti. Masih menangis, dia berkata,

“Rendy..  Desy..”

Aku terkejut dia menyebut nama Desy.

“Jadi, Desy sama Rendy..”

“Iya, mereka..”

Sambil masih menangis, Gracia memelukku. Aku pun balas memeluknya, mencoba menenangkannya. “Udah, Gre. Jangan nangis lagi ya. Aku ada disini.”

Bahkan saat masih menangis, wajah cantiknya tak juga pudar. Gracia mencoba menghapus air matanya. Lalu dia menatapku.

“Yos, apa kamu tipe lelaki brengsek?”

Aku menatapnya lekat-lekat.

“Aku? Brengsek? Entahlah. Tapi, kalau menjadi lelaki brengsek di hadapanmu dan melukai hatimu, itu bakal jadi penyesalan terberat buatku.”

Gracia menyunggingkan senyuman manisnya lalu kembali memelukku. Balon polkadotnya terlepas dan terbang ke atas seakan menandakan bahwa kami sudah membuang semua masa lalu dan kesedihan kami.

Berpulangnya Sang Pemberi Nama

21 Mei, 20 tahun yang lalu, pukul 3 sore lewat 15 menit, jiwa baru diturunkan ke Bumi. Dititipkan oleh Tuhan kepada sepasang suami-istri yang berbahagia. Konon, pada saat itu, baik sang suami maupun istri masih bingung untuk memberikan nama kepada buah hatinya. Akhirnya, bapak dari sang suami memberikan usulan agar beliau yang memberikan nama kepada si jabang bayi ini. Beliau, yang kupanggil Bapa Aki, memberikan sebuah nama.

Muhammad Luthfi Ismail.

***

Kejadian yang kuceritakan seperti diatas tadi kudapat dari ayah saat aku masih SD. Aku tak pernah secara langsung menanyakan kepada Bapa Aki (panggilanku untuk kakek dari ayahku) kenapa beliau memberiku nama Muhammad Luthfi Ismail. Tapi ayahku-lah yang menceritakan alasan kenapa Bapa Aki memilih nama itu untukku.

“Nama kamu mengandung 2 nama orang nabi besar sepanjang sejarah. Satu, Muhammad SAW. Nabi terakhir, nabi penutup dan penyempurna dari semua nabi-nabi yang turun sebelumnya. Dua, Ismail As. Kakek moyang dari Muhammad SAW itu sendiri, anak dari Khalilullah, Ibrahim As. Bahkan kalau kamu mengeja namamu dengan ejaan Bahasa Indonesia, ada kata ‘Luth’ di namamu, dan kamu punya 3 nama nabi di nama kamu.”

Aku dari dulu sangat bangga dengan namaku ini. Orang-orang pun acapkali memuji namaku. Lalu, waktu entah kapan (aku lupa) ayah berkata lagi:

“Inti dari Bapa Aki ngasih nama itu ke kamu adalah, kamu harus bisa mencontoh semua tauladan mereka. Misalnya: jadilah terpuji bagai Muhammad SAW, jadilah bijak bagai Ismail As, dan membela juga menyerukan sesuatu kepada yang benar walaupun kamu minoritas bagai Luth As.”

Aku sangat bangga pada kakekku.

***

Aku lumayan sering mengunjungi kakekku. Minimal setiap tahun aku pasti mengunjunginya. Walaupun perjalan yang kutempuh lumayan jauh karena rumahnya ada di Desa Saguling. Terdengar familiar? Ya, rumahnya ada disekitar Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Menyembelih ayam, berkebun dan banyak kegiatan lainnya yang Bapa Aki ajarkan. Dan beberapa tahun terakhir ini, aku sering juga menjenguknya baik di RS Dustira, Cimahi atau di rumah pamanku di Cipatat. Karena akhir-akhir ini, Bapa Aki sering sakit.

***

20 Juli 2014. Bulan Puasa. Hari Minggu. Dan aku bermalas-malasan sejak pagi hari. Entah kenapa, tapi aku merasakan hari ini seperti berjalan cepat dan lambat. Ah susah mendeskripsikannya. Beberapa kali aku ketiduran saat aku sedang menonton atau membaca. Aku merasa tidur pulas dan dalam waktu yang lama. Setelah terbangun, saat melihat jam, aku ternyata hanya tertidur 30 menit atau 1 jam. Tidak selama yang aku rasakan. Aneh.
Jam 2 siang aku lagi-lagi terbangun dari ketiduran. Jam setengah 3 sore, aku mendapat sms dari ibuku.

screenshot

Bingung. Aku hanya bisa diam. Kenapa tidak ada yang memberikan kabar Bapa Aki padaku? Aku masih tidak tahu harus berbuat apa, bagaimana. Ibuku akhirnya meneleponku dan bilang bahwa ayah dan ibuku tidak bisa langsung pergi kesana. Baru malam bisa berangkat dari Salatiga. Cepat-cepat aku beritahu bibi dan paman di rumah. Paman dan aku bersiap-siap untuk pergi rumah Bapa Aki. Aku berangkat jam setengah 4 sore dan sampai disana setengah 6 sore. Aku terlambat. Bapa Aki sudah dimakamkan.
Sedih. Cuma itu yang aku rasakan.
Aku belum bisa sepenuhnya melaksanakan nasehat-nasehatnya. Yang lebih ku sesalkan adalah aku taku punya dokumentasi bersama beliau dalam handphone ku. Semua dokumentasi ada di rumah di Salatiga. Aku tidak tahu, tapi aku merasa benar-benar sedih. Ah, bahkan aku tidak bagaimana harus mengakhiri tulisan ini.

Bapa Aki, terimakasih untuk nama yang telah Bapa Aki berikan untukku. Aku akan menjaganya dengan baik. Tuhan tahu Bapa Aki sudah siap, makanya Tuhan ingin bertemu. Keluarga Bapa Aki termasuk aku, ayah, mama, Ikhsan dan semuanya.. Insya Allah akan baik-baik saja dan akan selalu mendo’akan Bapa Aki. Terus awasi kami dari sana, ya.

Tentang 9 Juli 2014

Akhirnya saya nulis lagi setelah sekian lama gak nulis!
Hehehe (•ˆ Oˆ•)//

Sekarang sudah tanggal 10 Juli 2014. Gak ada yang istimewa sih. Sebenernya yang agak istimewa itu kemarin. Yap. Ada Pilpres untuk periode 2014-2019 di tanggal 9 Juli 2014 kemarin. Dan buat saya sendiri, pilpres tahun ini sangat heboh.

Bagaimana tidak? Buat saya pribadi, kapan lagi anda melihat pendukung capres dan cawapres yang tingkat fanatik nya bisa disamakan dengan fans-fans boyband, girlband, idolgroup dll? Hanya di tahun ini saya melihat fenomena yang seperti ini. Gak di dunia nyata, di media sosial, semuaaaaaa banjir akan koar-koar dari para pendukung capres dan cawapres ini.

Pilpres tahun ini memang pertama kalinya pilpres yang diikuti hanya oleh 2 pasang kontestan. Kontestan No. 1 pasangan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa, dan kontestan No. 2 pasangan Joko Widodo – Jusuf Kalla. Tentunya, semua calon memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Udah lah ya gak usah dibahas lagi, pilpres udah lewat hehe :p

Sepanjang kampanye banyak cara dilakukan oleh para pendukung dan relawan dari masing-masing kubu. Ada yang berkampanye lewat media sosial, ada yang membuat karya-karya, ada konser-konser gratis, bagi-bagi sesuatu (kaos, stiker, pin, sembako dll) (kebanyakan sih gitu, tanpa bermaksud menilai negatif) daaaan masih banyak hal lain yang dilakukan untuk menggalang dukungan.

Yang unik lagi dalam pilpres tahun ini (setidaknya menurut saya), dikabarkan pula beberapa tokoh yang biasanya golput (tidak menentukan pilihan) akhirnya menentukan pilihannya pada pilpres tahun ini. Setidaknya, itu adalah suatu kemajuan sistem demokrasi yang ada (bagi saya pribadi). Mungkin pengaruh dari capres cawapres yang ada ya?

Lembaga-lembaga survei pun berserakan..eh bertebaran (ya pokoknya itu lah) di pilpres tahun ini. Saya sarankan untuk para pembaca, agar pandai-pandai menilai dan memperhatikan hasil quick count yang sedang berlangsung, terlepas dari berbgai macam pendapat soal quick count yang ada. Beberapa lembaga survei ternyata banyak yang memiliki masalah sehingga dalam kredibiltasnya perlu dipertanyakan kembali.

Dan pada pilpres tahun ini, yang paling menonjol (setidaknya bagi saya) adalah keterlibatan anak-anak muda dalam kegiatan pilpres ini. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam bersuara, berpendapat, manggalang dukungan, melilih, berperan sebagai relaawan dan lain-lain. Secara gambaran umum, bisa disimpulkan bahwa golongan muda sudah mulai aktif dan peduli terhadap ekosistem politik di negara kita. Yaa, yang apatis juga masih ada sih.

Mungkin itu saja kilas balik Pemilu Presiden 9 Juli 2014 yang bisa saya tulis. Kurang dan lebihnya mohon maaf. Maklum, saya mah belum pandai menulis. Hehe.

Bonus:

Melody JKT48

Frieska JKT48

Jeje JKT48

Dhike JKT48

Desy JKT48

Chika JKT48

Lidya JKT48

Tata JKT48

Veranda JKT48

P.S: Bagian dimana saya secara sadar membuat postingan ini cuma yang bagian bonus aja. Gak ding, bercanda.

#1Day1StoryForIkha: Diam-Diam Saja

“Ayo Ikha! Buruan! Barang-barang kamu udah belum?”, tanya Kak Naomi setengah berteriak.
“Udah Kak Omi. Udah siap!”
“Yaudah yuk buruan naik bus. Siapa lagi yang belum?”
“Kayaknya udah semua. Terakhir kan aku sama Nat. Itu Nat udah masuk.”
“Iya. Aku disini!”, kata Nat.
“Yaudah. Yuk berangkat.”, tutup Kak Naomi sambil masuk bus.

Hari ini kita berangkat untuk persiapan event meet and greet plus konser esok hari di Bandung. Jarang-jarang banget kita bisa perform dengan formasi penuh. Ya. Yang ke Bandung hari ini Semuanya adalah Tim KIII. Aku senang sekali. Ditambah lagi, aku jarang sekali pergi ke Bandung. Bahkan untuk berlibur. Makanya, ketika kita sampai nanti di Bandung, aku bersama yang lain sudah mempersiapkan banyak agenda untuk mengisi waktu kosong nanti. Jalan-jalan yeay! Haha. Tapi, ada hal lain juga yang sudah aku tunggu-tunggu untuk hari ini. Hmm..

***
“Bro, maneh nonton konser besok?”
“Gak tau euy. Kalo ada yang jual tiket murah mah gapapa deh.”
“Eh, kalo mau sama urang, yuk. Aing ada kenalan sama pantianya. Tadi sih udah mesen 1 tiket. Kalo mau 1 lagi bisa urang pesenin. Setengah harga, lho! Ambil gak?”
Serius?! Yaudah atuh, pesenin yak.”
“Tapi ada persenan buat aing dong ya! Hehehehe.”
“Eeeeuuuhh.. Iya deh, iya.. By the way, maneh gausah lah ngomong pake Bahasa Sunda lagi.”
“Lah, emangnya kenapa?”
“Maksa banget kedengerannya tauk.”
“Errrrrr..”

Selama berkecimpung di fandom ini, aku memang tak pernah memaksakan keuanganku untuk memenuhi hasrat idoling-ku ini. Kalau memang aku sedang tak punya uang atau memang sesuatu itu terlalu mahal untukku, ya aku tak akan memaksakan diri. Makanya, aku tak berniat membeli tiket untuk konser esok hari. Tapi, Anton temanku, ternyata memang orang baik. Hahaha. Akhirnya aku dapat tiket dengan setengah harga. Yaah sudahlah. Yang terpenting aku bisa bertemu oshimenku besok. Atau nanti?

***
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sudah sekitar 3 jam kita ada di Bandung. Sedari tadi sore, kita lebih banyak menghabiskan waktu dengan istirahat di hotel. Aahh.. Aku bosan terus-terusan disini. Aku sekamar dengan Tata, Nadila, Nat, Sinka dan Della. Sedari tadi kita hanya mengobrol dan ngemil. Kecuali Nat. Dia baru saja bangun dari tidurnya. Seakan tahu keinginan kita, manajer kita tiba-tiba masuk ke dalam kamar.

“Hei gals! Pada mau jalan-jalan gak? Aku yang ngawal kalian.”
“Wah! Serius nih?!”, ujar Hanna kaget.
“Yes! Jalan-jalan malem kita! Untung gue udah bangun.”, kata Nat lagi.
“Yaudah ayok semuanya, kita siap-siap yuk.”, kata Sinka.
“Aku tunggu kalian diluar ya. Akau mau manggil LO-nya dulu buat jadi guide kita nanti.”, ujar sang manajer.

Kita pun semua bersiap-siap. Yaa kalian ngerti lah gimana persiapannya para gadis-gadis muda kalau mau jalan-jalan. Hahaha. Rempong banget. Aku pun sedang bersiap-siap saat smartphone ku berbunyi. Ada pesan masuk. Kuambil ponselku dan kubaca pesannya. Aku pun tersenyum-senyum sendiri.

***
“Wah, Pi. Maneh udah dikosan aja. Tumben pulang cepet. Baru juga jam setengah 12.”
“Iya nih, Ton. Aku tidur duluan yak. Maneh begadang kan?”
“Nggg.. Iya sih. Emang kenapa?”
“Bangunin urang yah sekitar jam 3-an. Urang mau pergi?”
“Hah, kemana, Pi?”
“Gausah kepo, Ton. Gak baek, gak ada manfaatnya. Yaudah intinya gitu. Udah yah, urang tidur duluan. Oyasumikhaaa!”
“Terserah maneh! Bebas!

Aku langsung menuju kasurku. Dan tidur sambil tersenyum-senyum.

***
“Fiiuuhh.. Capek juga yak!”, kata Tata.
“Aku gak capek. Aku kenyang. Hohoho.”, Sinka tersenyum-senyum.
“Ah, Sinka mah makan mulu! Pantes gendut. Hahaha.”, timpal Della.
“Ih! Gak gendut-gendut amat kok. Weekkk.”

Nadila dan Nat langsung tertidur. Aku sendiri masih membereskan beberapa belanjaan yang tadi kubeli. Capek sekali rasanya. Setelah semuanya beres, aku langsung menuju kasur dan tidur. Tak sabar untuk esok hari.

***
Fajar mulai menampakkan dirinya. Dua orang muda-mudi ini sedang melihat proses terjadinya fenomena alam yang indah ini.

“Waaahh! Liat deh Kak! Udah mulai muncul mataharinya!”
“Bener kan? Di bukit ini tuh indah banget kalo menjelang fajar.”
“Waaahh! Cantik banget! Makasih yah udah bawa aku kesini, Kak!”
“Hahaha. Sama-sama. Ngomong-ngomong, kayaknya istilah “menculik” lebih pas buat aku. Dan istilah “kabur” pas buat kamu. Hahaha. Kan kamu kabur dari hotel buat ngeliat sunrise ini.”
“Iya nih. Kakak nyulik aku nih dari hotel. Hahaha.”
“Tapi seneng kan diculik gini?”, ucapku sambil setengah menggoda.
“Ah! Tau ah!”, jawabnya sambil tersipu malu. “Tapi, sekali lagi, makasih ya kak udah mau ngasih pengalaman yang berkesan di Bandung ini.” Ah! Manis sekali senyummu, dik.
“Iya Riskha Fairunissa. Sama-sama.”, ujarku sambil tersenyum.

Kenapa Saya Jadi Fans JKT48?

tuan ganjil

Sekedar curhat, tidak lebih.

Jawaban pertanyaan itu ketika pertama kali saya bilang saya menyukai JKT48 sekitar setahun lalu adalah lagu-lagunya. Di luar situasi bahwa saya sempat menggemari AKB48 sesaat di tahun 2008, saya kira hampir semua penggemar anime dan dorama Jepang yang banjir di televisi pada tahun 1990-an hingga awal 2000-an familiar dengan musik yang mereka bawakan. Lirik-lirik yang puitis tapi mengena permasalahan sehari-hari dengan musik yang kebanyakan upbeat menciptakan semacam rasa melankolik sekaligus optimisme secara bersamaan. Bagi orang awam penerjemahan lirik yang bergaya Haiku tersebut mungkin terdengar aneh ditambah lagi kualitas terjemahan lagu-lagu JKT48 pada saat itu tidak bisa dibilang memuaskan. Karena itu, saya pikir JKT48 hanya akan populer di kalangan pecinta budaya Jepang saja. Saya tidak pernah lebih salah lagi.

JKT48 adalah fenomena. Istilah bombastis ini belakangan seringkali digunakan berbagai media untuk menjelaskan perkembangan JKT48 yang sulit dipahami oleh kebanyakan orang Indonesia. Orang bisa mengerti ketika kebanyakan…

View original post 1,093 more words

#1Day1StoryForIkha: Senyum Yang Sama

“Nah anak-anak, ini dia teman baru kita. Ayo masuk, perkenalkan diri kamu dulu.”

Aku masuk ke dalam kelas. Suasana yang berbeda dengan sekolahku sebelumnya karena aku anak pindahan dari Jakarta dan kini aku ikut dengan keluargaku tinggal di Bandung.

“Hai semuanya..”
“Haaaiiii..”, seisi kelas menjawab, tapi perhatianku tertuju pada satu orang di bangku belakang.
“Mmm.. Nama aku Riskha Fairunissa. Panggil aja Ikha. Aku pindahan dari Jakarta. Aku mohon kerjasamanya ya untuk 1 tahun ke depan. Terimakasih.”
“Sama-samaa..”, lagi-lagi perhatianku tertuju pada anak itu. Hanya dia yang diam sambil menulis saat aku memperkenalkan diri. Sangat tidak menghormati orang yang bicara di depan, pikirku.

“Nah, itu tadi perkenalannya. Semoga Ikha bisa berteman baik dengan kalian semua ya. Nah, Ikha. Kamu duduk di belakang ya sama Fandi, soalnya cuma disitu bangku yang masih kosong.”
“Iya, Bu. Makasih.” Aku lantas berjalan ke belakang kelas untuk menempati bangkuku. Ah, ternyata nama anak itu Fandi. Aku jadi penasaran sebenarnya apa yang dia lakukan. Aku duduk di mejaku, menaruh tasku dan mengeluarkan alat tulisku. Aku mencoba untuk berkenalan dengannya.

“Hai! Aku Ikha.”, ucapku sambil menyodorkan tangan.
“Aku Fandi.” Dingin. Seakan tidak bersahabat. Tanganku yang kumaksudkan untuk bersalaman pun tidak dihiraukannya. Huh! Aku kesal. Tapi aku masih mencoba untuk berkenalan dengannya.

“Mmm.. Kamu lagi nulis apa, Fan?”
“Bukan urusan kamu.”
Apa-apaan lagi?! Dia berkata seperti itu tanpa ekspresi. Seakan aku dianggapnya tak ada. Angkuh sekali dia! Aku sudah terlanjur kesal. Lebih baik aku mulai belajar sekarang. Kuambil bukuku lalu mulai memperhatikan guru di depan kelas. Kucoba melirik kesampingku dan dia masih saja menulis.

“Baik anak-anak. Hari ini kita akan mempelajari tentang Zat-zat Aditif. Ayo semua perhatikan ke depan..”

***

Bel tanda istirahat berbunyi. Kelasku menjadi berisik karena banyak siswa yang pergi ke kantin, kelas lain atau bermain di luar kelas. Aku sendiri memilih di dalam kelas saja karen aku membawa bekal makan dari rumah. Kulihat ke sampingku, Fandi masih saja menulis.

“Kamu nggak main keluar? Atau makan gitu?”, tanyaku padanya.
“Nggak ah. Tulisanku belum selesai.”
“Kayaknya kamu suka banget nulis ya. Mau tau dong, kenapa kamu suka banget nulis.” Aku bertanya padanya.
“Aku suka menulis sejak kedua orangtuaku udah nggak ada. Buatku, menulis adalah satu-satunya penghilang kejenuhan dan kesedihanku. Puas?” Fandi menjawabnya dengan datar, sepertinya pertanda dia tak suka ditanya-tanya.
“Ma-maaf Fan. Aku gak bermaks..”
“Biasa aja. Gak apa-apa.” Fandi memotong kata-kataku. Dan melanjutkan tulisannya.
“Aku juga kehilangan ayahku beberpa tahun yang lalu, kok.”

Gerakan tangan Fandi yang sedari tadi menulis, tiba-tiba saja berhenti sejenak. Menatapku, lalu kembali lagi menulis.
“Aku tahu rasanya kehilangan orang yang kita cintai. Tapi gak selamanya kita menutup diri, Fan. Aku tahu, mungkin kehidupan kamu lebih berat daripada aku. Aku harap kamu mau berteman denganku.”, ujarku sembari tersenyum.
Fandi berhenti menulis. Dia beranjak dari kursinya, lalu bertanya padaku, “Kamu mau titip apa? Aku mau ke kantin.” Masih dengan nada datarnya.
Aku bingung. “Err.. Anuu.. Jus mangga aja ya, Fan. Tolong ya.”
Dia pun langsung pergi keluar kelas. Hmm.. Aku melihat buku yang ada di mejanya. Ah, iseng saja kubuka buku itu. Kulihat-lihat secara acak, semua halaman tertulis tanggal dan hari. Sepertinya ini semacam buku harian. Ah, aku lebih penasaran dengan apa yang dia tulis hari ini. Kubuka beberapa halaman terakhir, kucari keterangan tanggal hari ini. Dan.. Aku menemukannya!

Senin, 17 Maret 2014

Hai, Ayah dan Ibu disana. Bagaimana keadaannya? Pasti sudah tenang bersama yang lainnya ya. Ayah dan Ibu enak ya sudah terlepas dari segala bentuk jerat dunia yang kadang membuat manusia terlupa akan dirinya. Semoga Ayah dan Ibu tenang disana ya. Aku, Lidya dan Kak Vera baik-baik saja kok disini bersama Paman dan Bibi. Kak Vera baru saja dapat beasiswa lagi dari universitasnya sehingga dia bisa kuliah tanpa memikirkan biaya lagi. Seperti biasa, Kak Vera adalah kebanggaan Ayah dan Ibu. Kak Vera juga cerita kalau dia sudah mulai mendapat banyak tawaran dari banyak digital agency. Lidya juga hebat kok. Lagi-lagi dia memimpin tim cheerleader sekolah kita. Aku bangga punya adik seperti Lidya. Pastinya Ayah dan Ibu juga bangga ya? Kalau aku, emm, seperti biasa. Nilai akademisku tak terlalu bagus, Yah, Bu. Tapi aku selalu ingat kata-kata Ayah bahwa “Kunci sebuah kesuksesan adalah kerja keras tiada henti”. Ditambah lagi Ibu bilang, “Kalau kamu berhenti di tengah jalan, maka kamu gagal.”, maka jadilah aku erus mengejar cita-cita menjadi penulis. Akhirnya, sejak sebulan yang lalu, cerita-cerita buatanku sudah mulai dimuat di beberapa media, Yah, Bu. AKu senang sekali. Dan rencanaku bulan ini, aku akan segera menerbitkan buku kompilasi cerita pendek bersama teman-temanku yang lain. Ah, andai nanti Ayah dan Ibu bisa membaca hasil karyaku. Tapi, Aku yakin Ibu bisa memperhatikanku dari sana. Oh iya, Bu. Ibu pernah tanya kan kenapa aku kayaknya nggak pernah lihat aku dekat sama perempuan. Yaa, taulah teman dekat atau pacar. Terus aku jawab kalau aku masih belum punya yang pas. Nah, sepertinya hari ini aku sudah tahu siapa yang pas denganku, Bu. Apalagi Ibu selalu bilang, “Pandangan pertama itu menentuka segalanya.” Dan aku merasakan ini, Bu. Namanya Ikha, anak baru di kelas ini. Pindahan dari Jakarta. Orangnya cantik, ramah, manis. Dia terus-terusan masih mau berteman denganku padahal aku sudah bersikap dingin padanya. Apa aku salah punya perasaan dengannya, Bu? Aku yakin Ibu akan suka dengannya seandainya Ibu masih disini. Sudah dulu ya, Yah, Bu. Nanti akan kulanjut lagi saat dirumah.

Salam sayang selalu dari anak laki-lakimu,

Fandi

Aku terharu membacanya, sampai aku tak sadar pipiku pun basah. Selesai membacanya, aku buru-buru menutup dan mengembalikan buku itu pada tempatnya. Tapi sepertinya itu telat, Fandi sudah masuk kelas dan melihatku sedang memegang buunya. Sial! Dia pasti marah padaku. Duh, aku harus bagaimana? Dia berjalan ke arahku dengan tatapannya yang tajam. Aku menunduk malu. Aku merasa bersalah.

“Maafin aku, Fan. Aku gak bermaksud buat lancang. Maafin aku. Kalau kamu marah juga gak apa-apa, kok. Silahkan.”, ucapku sambil merasa bersalah.

Hening. Dia tidak berkata apa-apa. Aku bingung. Aku bangun lalu melihat ke arahnya. Dia tersenyum kecil.

“Ini jusnya. Selain pendiam, aku juga agak pemalu. Maaf ya, aku cuma bis menulisnya.” Justru kali ini dia yang terlihat malu. Ah! Aku gemas melihatnya. Fandi akhirnya bisa tersenyum padaku. Dan untuk ukuran seorang laki-laki, senyumnya terlihat manis. Aku senang bisa melihatnya begitu.

“Makasih ya, Fan. Nih roti isi buatan aku. Makan bareng yuk.”

Fandi tersenyum lagi. Masih dengan senyum yang sama.