Side Story @kuran666er: Prolog

Malam itu, di sebuah restoran Asia, terjadilah percakapan antar 2 orang pemuda.

“Eh, Dena cantik banget ya hari ini! Ya walaupun cuma backdancer sih. Tapi tetep aja cantik ya. Hehe.”
“Iya Bov. Beby juga ya. Total banget perform nya malem ini.”
“Menurutmu, Dena bisa di promosiin ke tim laen gak. Yaa.. Kemana aja gitu. Pasti dia seneng banget deh!”
“Menurutku sih bisa dengan kemampuannya yang udah terus diasah banget gitu. Cuma ya keputusan tetap ada di manajemen kan, Bov? Kita fans bisa apa?”
“Iya sih ya. Sistemnya begitu ya kita cuma bisa nunggu aja, Mar. Eh balik yuk, udah malem banget ini. Udah kan makannya?”
“Udah kok, yok lah. Eh jangan lupa samperin yak besok pagi pas mau ke DS.”
“Okesip lah.”

Malam berlanjut sampai esok harinya, Bovie mengunjungi rumah Mario untuk mengajaknya pergi ke event direct selling. Sesampainya di depan pintu rumah dan akan mengetuk pintunya, terdengar suara Mario yang sepertinya sedang menelepon atau di telepon seseorang.

“Hahaha. Ya bukannya gabisa sih. Cuma yaa.. Kalo diliat dari usaha dan latihan, trainee memang selalu memperlihatkan usaha keras. Tapi ya lo tau sendiri. Manajemen gabisa langsung mengangkat mereka masuk suatu tim. Apalagi Bovie yang semangat banget support Dena. Kasian sama Bovie kalau tahu manajemen bakal lama masukin trainee ke dalem tim atau bahkan sebelum masuk tim, Dena udah jenuh dan grad. Kasian juga ya tim trainee. Sama temen segenerasinya malah kayak terpisah gitu. Terbuang..”

Tak sampai selesai percakapan itu, Bovie sudah tak tahan mendengarnya. Sakit hatinya sahabatnya sendiri mengatakan hal seperti itu di belakangnya. Dia bergegas masuk ke dalam mobil dengan perasaan kesal lalu memacu mobil dengan kencang. Mario yang sedang menelepon sepertinya kaget dengan suara mobil tersebut dan langsung menutup teleponnya.

“Suara mobilnya Bovie kan? Tapi kok bisa.. Ah, sial!”. Mario bergegas pergi ke garasi, mengambil motor sportnya lalu berusaha mengejar Bovie.

Di bekas pelabuhan kecil yang sudah tidak terawat itu, Bovie termenung. Dia benar-benar tak percaya, sahabatnya sendiri akan mengatakan hal yang bahkan tak berani dia katakan di hadapannya. Dia lebih memilih mengatakan hal itu di belakangnya, yang justru bagi Bovie sangat mengecewakan. Perlahan tapi pasti, kekesalan Bovie semakin memuncak. Ada yang tak biasa dalam dirinya. Seperti ada kekuatan besar dalam dirinya yang ingin berontak.

Tiba-tiba, Mario datang dengan motor sportnya. Dia pun langsung menghampiri Bovie sampai akhirnya..

“Diam disitu, Mar! Aku benar-benar tidak percaya kau.. Bisa-bisanya.. berkata begitu di belakangku. apakah salah, aku mendukung Dena yang masih trainee?!”
“Nggak, Bov. Nggak. tapi kan, kita harus realis..”
“Realistis? Manusia selalu punya harapan, Mar! Dan aku yakin dengan harapanku. Gapapa kalau kau sebagai sahabat tak setuju dengan harapanku. Aku bisa berharap sendiri!”
“Ooke. Oke, Sori, Bov, tapi yang tadi itu cuma sal..”
“Cukup! Tak usah banyak omong lagi, Mar!”

Tiba-tiba suasana di sekitar bekas pelabuhan itu menjadi gelap. Angin kencang berdatangan. Cuaca yang tadinya cerah tetiba saja menjadi sangat mengerikan.

“Bov, apa-apaan ini? Kenapa sebenernya?!”
“…”
“Bov! Sadar!”
“Kau akan merasakan akibatnya karena meremehkan Dena & juga trainee lainnya, Mar!”
“Bov! Aku kan bilang, itu cuma salah pah..”

Belum selesai Mario melanjutkan perkataannya, tiba-tiba badan Mario melayang jauh seperti didtabrak oleh sesuatu yang keras. Lebih seperti terkena hentakan sebuah gelombang tak terlihat. Mario jauh melayang dan menabrak tembok. Mario mulai kehilangan kesadaran. Dari jauh, nampak samar-samar, Bovie yang sedang menunjuk ke arahnya. Tangannya bergerak, dan tubuh Mario pun bergerak melayang mengikuti arah tangan Bovie.

“Kau harus tahu rasanya selalu diremehkan, Mario!”

Mario yang mulai benar-benar jatuh sadarkan diri, tiba-tiba merasakan sesuatu yang bergejolak dalam tubuhnya. Kesadarannya mulai pulih. Perlahan tapi pasti, Mario mengarahkan telapak tangannya ke arah Bovie, dan tiba-tiba.. WUUSSSHH!! Sebuah sinar keluar dari tangannya dan menuju ke arah Bovie lalu mementalkannya jauh ke belakang. Sementara Mario jatuh dari ketinggian ke permukaan tanah dengan lumayan keras.

“Apa ini? Aku.. Apa yang.. Aku kenapa?! Bovie! Kamu gak kenapa-kenapa?, ujar Mario sambil berlari ke arah Bovie.

Dengan terluka dan napas yang terengah-engah, Bovie pun bangkit.

“Jangan kesini, Mar! Aku bukan Bovie yang kau kenal. Aku bukan lagi seorang sahabat yang selalu bersamamu. Prinsip kita sudah berbeda.”
“Bov, dengerin gue dulu!”, ujar Mario sambil berjalan pincang. Keesadarannya kembali memudar.
“Aku bukan Bovie! Mulai sekarang, aku adalah Woshrek. Jenderal Woshrek. Aku akan buktikan, aku akan menghancurkan semuanya. JKT48 akan bubar! Dan kalian para wota-wota tak berguna akan meratapi kesedihan tak berujung!”
“Tapi Bov! Kau harus dengar! Aku tak pernah meremehkan trainee! Aku..”
“Tak usah banyak omong, Mar! Kita liat aja nanti siapa yang akan menang dari pertarungan ini. Mulai saat ini, aku nyatakan kita mulai pertarungan ini, Mar! Ya, kau dan aku! Bovie..ah, bukan! Woshrek dan Mario! Ada saatnya kita bertemu lagi nanti. Dan aku pastikan kau akan mendapatkan balasannya! TELEPORT!”, dan Bovie pun menghilang.

Mario tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Dia bingung. Dia kesakitan. Dia lemas. Dia bahkan tak percaya apa yang terjadi pada dia dan Bovie hari ini. Dan bahkan sekarang Bovie menghilang. Ya. Menghilang dalam arti sebenarnya. Hilang tak berbekas, tanpa jejak. Dan dia belum tahu kenapa tubuhnya tadi sesaat bergejolak dan merasakan sesuatu yang kuat memberontak. Langi sore itu cerah kembali, dan Mario perlahan menutup mata lalu tak sadarkan diri.

BEBERAPA BULAN KEMUDIAN..

Mario sedang bersantai di sebuah kedai kopi. Lalu sebuah suara menyapanya dari belakang.

“Lama tak bertemu, Mario.”
“Kemana saja kau? Aku mengkhawatirkanmu.”, balas Mario tanpa menoleh ke belakang.
“Aku sudah menyusun kekuatan dan strategi. Untuk menghancurkan kalian semua!”
“Kamu yakin, Bov..ah maksudku..Woshrek?”
“Kau selalu sombong, Mar. Lihat saja nanti.”
“Baiklah. Tapi ada baiknya kau berubah pikiran, Bov. Oh hei, temani aku minum kopi dulu..”

Tak ada siapapun di belakang Mario saat dia menoleh. Dan saat pandangannya beralih ke depan teras kedai tersebut, dia melihat sesosok orang yang sangat dikenalnya itu tersenyum lalu hilang di tengah kerumunan manusia. Mario pun menghela nafas panjang.

“Haaaahhh. Mungkin sudah saatnya aku mencari.”

Mario bangkit dari tempat duduknya, membayar bill di kasir, lalu keluar dari kedai kopi itu. Di tangan kirinya tergenggam 5 photopack yang bahkan tak pernah ada dimana pun. Dan dia pun sepertinya sudah menemukan apa yang dia cari.

“Hmm, langsung pada pergi makan ya? Apa mereka benar-benar wota JKT48? Harus aku periksa, apakah mereka benar-benar kuran666.”

Advertisements

2 thoughts on “Side Story @kuran666er: Prolog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s