The Untold Story of Our Heroes: Part 1

Akhir pekan. Macet bukanlah hal yang baru untuk sebuah kota metropolitan. Waktu tepat menunjukkan pukul 00.48 disaat Dio sedang menggerutu karena mobilnya yang tak kunjung jalan karena macet yang panjang.

“Shit! Ini kagak bakal jalan apa gimana? Masa iya gue bakal tidur di jalan?!”

Dio pun mengecek linimasa sosial medianya dan langsung mengecek kicauan dari akun kepolisian setempat. Mengharap ada kicauan yang membahagiakan dirinya. Tentang jalur alternatif misalnya. Namun sayang..

“00.48 Ada perbaikan dan pelebaran ruas Jalan xxx. Kemacetan sudah berlangsung selama hampir 1,5 jam. Tidak ada jalan alternatif. Pengendara dimohon bersabar. Mohon maaf atas segala ketidaknyamanan ini.”

“Damn! Beneran gue harus tidur dijalan ini mah!”, teriak Dio yang sudah benar-benar kesal.

Dio membuka jendela mobilnya, merogoh kantung celana jinsnya lalu mengambil sebungkus rokok. Satu batang diselipkan di antara bibirnya. Dengan satu jentikan jari, ujung rokok itu tersulutnya. Dio tak habis pikir, pemimpin kota ini sudah berkali-kali berganti. Namun, tetap saja masalah kemacetan tak pernah tuntas untuk diselesaikan. Bahkan di tengah malam seperti ini. “Ah, jangan sok ngeritik lah. Gue aja masih pake mobil pribadi gini”, ucap Dio dalam hati.

Satu batang telah habis dihisapnya, “Ah! Bosen banget kalo gue cuma duduk terus ngerokok gini doang.” Dio pun bersiap menyulut batang kedua sampai tiba-tiba Dio melihat orang-orang di kemacetan itu keluar dari kendaraannya, lalu berlari berhamburan. Dio sangat bingung dengan apa yang terjadi. Orang-orang berlarian seakan-akan sedang dikejar sesuatu.

“Yaelah! Udah macet gini, malah pada rusuh. Ada apa lagi sih sebenernya?!”, umpat Dio dengan sangat kesal. Lalu dia keluar dari mobil dan mencoba memahami keadaan di sekitarnya. Seakan memberikan jawaban, Dio tersadar ketika tiba-tiba ada sesuatu yang terlempar ke arahnya lalu jatuh tersungkur di depannya, tak bernyawa. Banyak pula orang-orang yang jatuh terkapar di sekelilingnya. Banyak mobil-mobil hancur, terbakar dan rusak. Dari balik pekatnya kabut, tiba-tiba muncul desisan dan bunyi keletak yang sudah tidak asing lagi untuk Dio.

“Skeletus! Bahkan disaat macet gini?! Cih! Eh tunggu.. Hahahahaha!!”, tiba-tiba Dio tertawa terbahak-bahak di tengah kacaunya suasana saat itu.

“Setidaknya gue bisa ngilangin kebetean dengan adanya lo semua”, ujar Dio. “Maju lo semua, tulang-tulang lemah!”

Keadaan sudah menjadi sepi. Orang-orang yang tadi ramai melarikan diri sudah menghilang, mungkin sudah menemukan tempat persembunyian, pikir Dio. Segerombolan tengkorak mengarah ke Dio dengan pedang-pedang yang seakan menyiratkan hawa membunuh yang buas. Mereka bergerak dengan lincah dan liar. Dio tak kalah lincah dari mereka, dia bisa menghindari mereka semua. Seakan tak mau kalah, Dio pun mulai melakukan serangan.

Beberapa kali Dio melayangkan pukulan ke beberapa gerombolan tengkorak hidup itu. Hanya abu yang tersisa dari mereka yang terkena serangan Dio. Beberapa menghantam ke arah kendaraan di sekitarnya. Tapi semua belum usai. Tengkorak-tegkorak itu masih saja terus bermunculan seakan tak ada habisnya.

“Cih! Untung gue lagi bosen. Ayolah gue ladenin lu semua sambil nyantai aja deh!”, ujar Dio dengan setengah tertawa.

Dio masih terus melawan mereka. Tentu saja Dio tak bisa terus menerus bertarung dengan tubuh manusianya. Akhirnya, Dio melakukan kuda-kuda. Membuat gerakan melingkar dengan kedua tangannya. Perlahan mucul pusaran api yang melahap sekeliling tubuh Dio.

“Berubah!’
“KSATRIA NERAKA, BELIAL!”

Sesosok tubuh melangkah keluar dari pusaran api itu. Dengan perlahan api di sekelilingnya melahap beberapa tengkorak-tengkorak itu sampai habis tak tersisa. “Oiya, gue udah lama gak pake ini nih!”, ujar Dio yang lalu berteriak “MANTICORE!”. Dari telapak tangannya, keluar lidah api yang menjadi sebuah tombak bermata tiga di satu sisi dan bermata satu di sisi yang lain. Dengan santai, Dio menebas dan menusuk semua tengkorak yang menyerangnya. Satu persatu dari mereka semua terlahap api yang membara, habis tak bersisa. Jumlah tengkorak-tengkorak itu mulai berkurang drastis. Dio yakin ini akan cepat selesai, karena dia pun mulai merasa kelelahan. Hingga tiba-tiba..

“Bau apa nih? Busuk banget! Sial! Gue jadi susah nafas gini! Argh!”

Tersibak aroma menyengat yang bahkan lebih tepat disebut busuk itu. Belum pernah Dio mencium bau ini walaupun sudah sering berhadapan dengan makhluk-makhluk mengerikan ini. Apapun yang mengeluarkan bau ini adalah makhluk yang lebih menjijikkan ketimbang Skeletus, pikirnya. Perlahan-lahan Dio mulai lemas. Hampir-hampir tak bertenaga. Dio mulai lebih berkonsentrasi agar dia tak lengah oleh bau menyengat tersebut.

Dio menegakkan tubuhnya, memasang kuda-kuda, lalu bergerak berputar. Semakin lama, putarannya semakin kencang. Dio pun mulai mengeluarkan api dari sekeliling tubuhnya. Mobil dan kendaraan di sekelilingnya beterbangan, terbakar. Skeletus yang tersisa pun hancur seketika. Aroma busuk itu perlahan-lahan memudar digantikan oleh bau sisa-sisa Skeletus yang terbakar walau masih tersisa aroma busuk tadi. Lalu Dio menghentikan putarannya dan tampak sangat kelelahan. Dio pun kaget, banyak makhluk yang nampaknya Dio belum pernah temui sebelumnya mulai menghampirinya sambil berdesis pelan seperti meneriakkan sesuatu dan mereka bergerak pelan seperti zombie. Mulutnya lebih tampak seperti sebuah corong.

“Anjrit! Makhluk apalagi mereka?! Jadi mereka asal dari semua bau ini?!

Dengan tiba-tiba, sebuah sosok yang diselimuti kegelapan dengan senjata besar yang tampak seperti sabit menyerang Dio. Dio terlempar jauh. Bahkan dadanya pun terluka terkena serangan dari sosok tersebut. Dio mencoba bangkit, lalu tangannya membentuk salib dan diarahkan kepada sosok yang tadi menyerangnya dan makhluk-makhluk mulut corong tersebut.

“Appolyon! Aku tahu itu dirimu! Tapi apapun yang kau perbuat tadi, dan apapun makhluk-makhluk ini, matilah kalian! CROSS FIRE!”

Sebuah tembakan api dahsyat yang berbentuk salib mengarah kepada sosok tersebut dan makhluk-makhluk tadi. Sosok itu pun tersungkur jatuh. Saat Dio hendak menghampiri sosok tersebut, Dio pun terperanjat.

“Hah! Mereka semua manusia?! Dan mereka masih hidup!”, ucap Dio setelah memeriksa apakah mereka semua masih hidup atau tidak.
“Jadi, makhluk mulut corong itu aslinya adalah manusia?! Apa-apaan ini?!” Dio masih bingung dengan semua yang terjadi. Tiba-tiba, terdengar suara dan raungan-raungan yang menyakitkan telinga muncul dari makhluk mulut corong yang lain.

“Argh! Apalagi ini, Appolyon?! Apa yang kau perbuat pada orang-orang tak bersalah ini?! ARGH!”

Dio tak sanggup lagi berdiri. Dia terus menutup telinganya, lalu jatuh berlutut dengan lemas. Tombaknya sudah tergeletak entah dimana. Dio sudah tak bisa melihat sekelilingnya dengan jelas. Pandangannya sudah sangat kabur. Sosok yang dia kira dari tadi Appolyon itu pun mendatangi dirinya. Dio kaget. Dengan sisa-sisa kesadarannya, dia melihat bahwa sosok itu bukanlah Appolyon.

Matanya tajam memandang Dio.

“Dia bukan Appolyon. Lalu dia siapa?”

Dia menyiapkan sabit besarnya seakan siap untuk mencincang sebuah daging.

“Masa gue harus mati disini? Nanti kalo Fira tau kakaknya ini mati buat kedua kalinya gimana?”

Perlahan sosok itu mengangkat sabitnya sambil berdesis pelan.

“Yaah.. Setidaknya, gue matinya anti-mainstream deh. Dibunuh pake sabit gini”

Sabit itu pun diayunkan dan menebas tubuh Dio. Tebasan yang sangat hebat sampai Dio terpental dan sekujur tubuhnya mati rasa. Dio yakin lukanya ini sangat parah. Dio benar-benar hampir kehilangan kendali kesadarannya. Perlahan sebelum menutup mata, Dio melihat sosok tadi menghilang di telan oleh pusaran hitam diikuti oleh makhluk-makhluk mulut corong tadi.

“Jadi, gue mati lagi, nih? gumam Dio sampai akhirnya dia benar-benar menutup mata.

—=—

Hanya sisa bara api yang masih terang benderang menghiasi jalanan tersebut dan banyaknya tubuh-tubuh yang tergeletak sembarangan di jalan itu. Juga ada beberapa kendaraan yang tersisa, yang tak habis terbakar atau hancur akibat pergolakan yang tadi terjadi.

Beberapa saat kemudian, muncul sosok-sosok misterius. Mereka tampak benar- benar kebingungan dengan apa yang terjadi.

“Kayaknya kita telat deh, guys. Udah sepi aja nih.”, ujar sosok yang sepertinya pemimpinnya.

Mereka tampak mengamati keadaan sekitar dan mencari-cari berbagai benda yang sekiranya dapat dijadikan petunjuk.

“Wah, bekas baunya masih ada nih, tapi udah pada jadi manusia semua.”, ujar sosok lain yang membawa cakar besar di kedua tangannya.

Setelah agak lama melihat-melihat, si pemimpin itu tampak kaget setelah menemukan tubuh Dio yang tergeletak di sana. “Hei semuanya! Gue kenal orang ini. Ayo kita bawa dia ke markas! Kumpulkan semua yang bisa jadi petunjuk. Ayo kita pulang.”

“Hah? Lo kenal dia? Oke oke, ayok kita pulang. Yang pasti kita masih harus mencari tau kenapa ‘dia’ mengacau di tempat yang ramai seperti di jalan raya ini. Kita juga masih harus menemukan tempat dimana ‘mereka’ disembunyikan.”, kata sosok lain yang terlihat membawa bumerang besar di punggungnya.

Mereka pun bersiap untuk pergi. Dio yang masih tak sadarkan diri dituntun oleh si pemimpin kelompok tadi. Lalu bersama-sama mereka semua berteriak “TELEPORT!” Wuusshh! Dan sebuah pusaran cahaya muncul lalu menghisap hilang mereka semua termasuk Dio.

Tak lama kemudian, polisi dan aparat lainnya berdatangan di tempat itu. Mereka mengevakuasi korban dan juga kendaraan-kendaraan yang ada. Saat orang-orang yang tadinya tak sadarkan diri itu pun siuman, mereka sama sekali tak ingat apa-apa. Orang-orang yang tewas, segera dilarikan ke rumah sakit untuk autopsi. Semua orang tak habis pikir, apa yang sebenarnya terjadi tadi.

—=—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s