#1Day1StoryForIkha: Masih Berbicara Tentang Kebetulan

Aku berada di suatu tempat. Terang. Nyaris menyilaukan mata. Seperti di sebuah padang rumput. Angin berhembus lembut berirama. Masih dengan sangat kebingungan, aku terkejut dengan kedatangan sesosok gadis yang muncul dari kejauhan. Dengan dress putih panjang, tersenyum dengan sangat manis. “Sial! Aku sedang dimana? Aku sudah di surga? Kenapa disini indah sekali? Itu berarti, apakah aku sudah mati?”. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang begitu meledak di benakku. Bahkan andai saja aku sudah mati, aku akan sangat menyesal. Aku belum lunas membayar uang sewa indekos-ku bulan ini kepada Bu Odah, aku belum selesai mengerjakan desain baliho yang dipesan Pak Jarwo, dan bahkan, aku belum bertemu Emak dan Abah di pertengahan tahun ini.

Kembali kepada sesosok gadis yang tadi muncul, dia berjalan menuju ke arahku. Aku hanya bisa menatapnya dengan heran. Ditambah lagi dengan dia yang tiba-tiba duduk di sebelahku, bahkan tanpa permisi. Seakan dia sudah mengenalku sejak lama. Jika saja aku mengenalnya, seharusnya aku merasa de javu dengan situasi seperti ini. Tapi, aku sama sekali tidak merasakannya. Aku belum pernah mengenalnya.

“Namaku Riskha. Panggil aja Ikha.” sembari menyunggingkan senyum manisnya. Aku sampai terpana dibuatnya.

“Hei.. Hei.. Kok bengong sih?” sambil menggoyang-goyangkan bahuku.

“Eh.. anu.. nggg.. Aku gapapa kok. Gapapa. Hehehe.” Ucapku sambil tertawa kecil menahan malu. Bagaimana tidak, dia membuatku tanpa sadar bengong sambil melihat wajahnya. Ah! Senyumnya! Aku ingat sekali! Aku yakin, jika kalian melihatnya juga pasti akan terpana.

“Iiihh.. Kakak tuh aneh yah. Hahaha. Kakak pasti bertanya-tanya, sebenarnya tempat apa ini

. Ya kan?”

“Lah kok tahu? Kamu perhatian amat, padahal kita baru ketemu. Hahaha.”

“Yeee, kegeeran dia. Bukan gitu, kak. Sewaktu aku pertama kali kesini, aku juga mikir gitu. Bahkan, aku sendirian malah. Kakak mah enak gak bosen, kan udah ada aku disini.”

“Ooh gitu. Bentar, bentar.. Kita Cuma berdua disini? Dan kenapa kamu manggil aku kakak? Emang lebih muda kamu ya daripada aku?”

“Iyap. Cuma kita berdua. Dan aku lebih muda, jadi biar lebih akrab aja aku panggil kamu ‘kakak’. Hihihi.”

“Duh, bingung ah! Jadi kenapa kita ada dis..” belum sempat aku menyelesaikan pertanyaanku, dia sudah menarik tanganku dan mengajak aku berjalan.

“Ih Ikha! Ada apa? Mau kemana kita?”

“Udah lah, Kak Upi ikutin aku aja. Kita bakal ngeliat sesuatu yang baguuusss banget!”

“Lho, lho, lho.. Kok kamu tau namak..”

“Sssttt. Diem! Ayo jalan aja!”

Dan aku pun berjalan di belakangnya sembari tanganku masih berpegangan dengan tangannya. Halus. Lembut. Dan hangat. Ada sensasi yang muncul saat kami berpegangan saat itu. Sensasi yang perlahan makin menjalar ke seluruh tubuhku. Seakan aku sedang mendapatkan suatu kebahagian tanpa batas.

Setelah berjalan agak lama, kami pun berhenti di suatu tempat seperti di tebing jurang. Dan pemandangan di depannya adalah..

“Waaaahh! Indah banget disini, Kha! Woaaahh! Aku udah udah lama banget gak ke tempat yang ada air terjunnya. Kereeennn!” Aku berteriak-teriak sendiri seperti seorang anak kecil yang akhirnya dibelikan mainan impiannya.

“Eh tapi, kenapa kamu tahu aku lagi pengen banget ngeliat sesuatu yang indah? Kenapa kamu tahu nama panggilan aku? Cuma orang-orang yang aku kenal dekat yang manggil aku gitu. Kenapa cuma kita berdua disini? Siapa kamu sebenarnya?” Aku mencecarnya dengan banyak pertanyaan yang sedari tadi aku ingin ungkapkan.

“Siapa yang peduli dengan pertanyaan-pertanyaan kayak gitu, kak? Aku sudah beberapa kali kesini, dan aku menikmatinya. Bukannya yang lebih penting sekarang, kita menikmati keindahan yang tempat ini suguhkan ke kita? Nah kan, tuh liat tuh, kak” sembari menunjuk ke dekat air terjun itu berada.

“Ada pelangi tuh, kak. Pelangi adalah simbol keindahan. Keindahan, kebahagiaan.. Bukannya itu yang diidamkan semua orang kak? Hidup indah dan berbahagia. Semua orang menginginkannya, kak.”

Aku masih tidak mengerti dengan apa yang Ikha katakan. Belum jauh aku berpikir, tiba-tiba..

“Kalau aku bertanya ke diri aku sendiri, kenapa aku ada disini, mungkin aku udah tau jawabannya.”

Dengan penasaran, aku bertanya, “Apa? Emangnya apa alasan kamu disini?”

“Ih, mau tau yah, kak? Mau tau banget apa mau tau aja? Kepo dasar! Hahahaha!”

“……”, aku tidak tahu harus berkata apa.

“Hahaha. Gini lho, kak.. Kalau menurut aku sih, tempat ini menyajikan suatu pemandangan yang memang sebenarnya ingin kita lihat. Kita sedang mencari-cari perasaan itu, tapi gak juga ketemu. Makanya tempat ini menghadirkannya. Gitu, kak.”

“Ikha, aku masih gak ngerti.”, ucapku sambil menggarukgaruk kepala. (Eh, orang bingung biasanya garuk-garuk kepala kan?)

Setelah menghela nafas dalam-dalam, akhirnya Ikha berkata lagi..

“Fuuuuhh. Kak Upi, jadi gini.. Ini cuma teori aku ya. AKu mau sedikit cerita. Aku merindukan sosok seorang ayah. Aku pengen kebahagiaanku lengkap. Aku pengen hidup aku kerasa indah. Selama ini aku nyari cara biar aku bisa ngerasain itu semua, tapi gak bisa. Dan, ketika aku terus mengharapkan aku bisa ngerasain suatu kebahagiaan yang aku cari-cari itu, tanpa sadar aku udah ada disini. Tempat ini membuat aku nyaman. Disini aku bisa melihat keindahan dan merasakan kebahagiaan itu. Ngerti?”

“Oh gitu, maaf ya ya sebelumnya, Kha”, aku menjawabnya pertanda aku mengerti maksud dari perkataannya.

“Iya gapapa kok, kak.” Jawab Ikha.

“Aku ngerti sekarang, Kha. Soalnya kehidupan aku sekarang juga lagi nggak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Ekonomi keluargaku sedang pas-pasan. Semua serba pas-pasan. Ditambah dengan berbagai masalahku di lingkungan kampus. Ah! Dan aku emang lagi mengharapkan hidup aku bisa santai gitu. Jadi, mungkin itu alasan aku ada disini?”

“Mmm.. Iya, kak. Mungkin gitu.” Lagi-lagi dia memberikan senyumannya padaku. Manis sekali.

“Eh, terus kenapa kamu bisa tau namaku, Kha?”, aku kembali bertanya pada Ikha.

“Mmm.. Kalo soal itu..  Entahlah. Bukannya suatu kebetulan kita berdua bisa bertemu disini dan sekarang bisa saling kenal? Tetiba aja aku bisa tau nama kakak. Tetiba aja kita bisa jadi akrab gini. Tuhan selalu punya skenario untuk ciptaan-Nya. Tapi, aku seneng kok bisa kenal sama kakak.”

“Hmm.. Aneh ya.. Haha, aku juga seneng kok bisa kenal sama kamu.”

Kami pun saling mengobrol banyak hal disitu. Hal-hal yang disukai, tentang teman, tentang apapun. Panjang lebar. Aku tertawa, dia tertawa. Aku merasa beban yang selama ini aku rasakan, hilang seketika saat aku berbicara banyak hal dengannya.

Namun tiba-tiba saja, kepalaku terasa berat. Mataku terasa berputar-putar. Pusing sekali. Hingga perlahan, aku mulai merasa ngantuk. Aku tiba-tiba ingin merasa tidur. “Kenapa ini? Kenapa tidak bisa biarkan aku berlama-lama dengan Ikha?”

Tak kuat lagi, aku jatuh di atas hamparan rumput di tepi tebing itu, dan mulai tertidur. Samar-samar aku melihat Ikha yang bangun dari duduknya. Samar-samar pula aku mendengar Ikha mengucapkan sesuatu.

“Kebetulan itu skenario yang telah disiapkan. Tuhan punya berjuta rencana untuk kita. Bahkan untuk dua orang yang tetiba saja akrab dan merasa nyaman satu sama lain. Sampai juga lagi, kak” Dan gadis itu akhirnya pergi lalu hilang dari pandanganku. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kepalaku makin terasa berat, hingga sangat sulit aku melawan rasa kantukku. Aku hanya bisa menyebut-nyebut nama Ikha. Yang kurasa, semakin lama, semakin kencang.

“Ikha..”

“Ikhaa..”

“Ikhaaa..”

“Ikhaaaaaa!!”

BYUUUUURRRRRRR!!!!

Aku kaget! Tiba-tiba aku merasa dingin. Perlahan aku mulai mencoba membuka mata. Aku lihat sekeliling, dan aku menyadari bahwa aku ada di kamar indekos-ku. Dan kulihat di sampingku, Bu Odah sedang memegang ember kosong. Sepertinya dia menyiramku tadi.

“Kamu dari tadi berisik banget, tau nggak?! Subuh-subuh kok udah berisik?! Kamu mimpi apa sih, hah?!” Bu Odah marah-marah, lalu pergi keluar dari kamarku. Sepertinya dia akan membangunkan anak kos yang lain.

“Mimpi? Jadi yang kualami itu sebuah mimpi? Tapi aku merasa, itu terlalu nyata kalau itu Cuma sebuah mimpi!” gumamku dalam hati. Masih dengan langkah malas-malasan, kusimpan semua kebingungan ini dan aku berusaha merapikan kasurku yang sudah basah. Akan kujemur nanti sebelum aku ke kampus. Ah iya! Hari ini adalah hari pertama aku menjadi panitia orientasi mahasiswa baru di kampusku. Aku langsung bergegas menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk pergi.

Setelah semua persiapan selesai, aku menjemur kasur dan lain-lainnya yang tadi basah disiram oleh Bu Odah. Sembari memanaskan motorku, aku membuat beberapa roti lapis plus susu hangat untuk sarapan pagi ini. Semuanya selesai, dan aku pun berangkat menuju kampusku.

—||—

Aku sendirian sedang menjaga pintu gerbang kampus, kalau-kalau ada mahasiswa baru yang telat lagi. Sebelum mereka masuk, aku memberi mereka sedikit hukuman. Cuma push-up 10x kali kok. Aku tidak terlalu tega memberikan hukuman untuk orang lain. Tiba-tiba, di depanku sana, aku melihat ada motor yang berhenti. Seorang gadis turun dari motor itu dan memberikan sejumlah uang kepada si pengendara motor. Sepertinya tukang ojek. Setelah itu, sambil setengah berlari, dia lari menghampiriku. Masih dengan sedikit ngos-ngosan, dia menunduk dan meminta maaf padaku, “Maaf kak. Aku telat. Tadi macet banget. Sampe akhirnya aku turun di tengah jalan terus.. terus aku naik ojek deh. Maaf banget ya kak. Jangan dihukum dong. Plisss.. Capek nih..”

“Eh, anak baru udah nawar-nawar aja! Gak sopan banget! Harusnya kamu lebih pagi dong biar gak kena macet! Udah lah, cepat kamu ambil posisi push-“, belum sempat aku melanjutkan sandiwara marah-marahku, dia bangun dari posisinya tadi dan aku bisa melihat wajahnya sekarang.

“I-Ikha? Kamu kok.. Kamu beneran Ikha?”

Dengan tatapan yang kaget dia menjawab, “Lho, kok kakak tau nama aku?”

“Nggg.. anuu.. itu..” Aku tidak tahu harus menjawab apa. Konyol sekali kalau aku menceritakan mimpi anehku kepada seseorang yang bahkan belum ku kenal.

“Udah lah, sana ikut barisan mahasiswa baru yang lain. Untung belum dimulai tuh. Sana masuk!”, ujarku sambil masih mencoba sedikit marah.

“Hahahahaha..” Tiba-tiba dia malah tertawa melihatku sok-sok marah tadi. Aku bingung.

“Udah aku tebak, Kak Upi mah gabisa marah orangnya. Gak usah sok-sok marah deh.. Gak serem wee.. Hahaha. Yaudah aku masuk dulu yah. Makasih ya, Kak Upi. Aku gak dikasih push-up. Hehehe.”

Gadis itu melenggang masuk ke dalam kampus lalu bergabung dengan barisan mahasiswa baru yang lainnya.

Dan aku hanya bisa mematung keheranan.

Advertisements

One thought on “#1Day1StoryForIkha: Masih Berbicara Tentang Kebetulan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s