#1Day1StoryForIkha: Sepenggal Memori di Petshop

Hari ini toko hewanku sepi. Eh, toko hewan yang menjadi tempat kerjaku maksudnya. Yah, memang sih, hari ini bukan hari libur, jadi memang pantaslah kalau sepi. Kadang rasanya bosan juga hanya melakukan hal itu-itu saja. Mengecek jumlah hewan, menghitung jumlah makanan hewan, mengecek kembali aksesoris yang kita jual dan lain-lain.
Baru saja aku selesai mengecek makanan hewan yang tersisa, tiba-tiba pintu toko terbuka. Seorang gadis muda masuk, masih dengan seragam sekolahnya, langsung lari ke arahku yang masih berada di bagian rak makanan kucing. Tampaknya dia sedang mencari-cari makanan kucing. Aku pun bergeser ke pinggir rak, agar dia bisa lebih leluasa mencari apa yang dia cari.
“Kak, ada makanan kucing yang mereknya XXXXX nggak?”, tanya si gadis itu.
“Wah, yang merek itu mah lagi kosong kayaknya. Tapi, biar saya coba cariin di gudang dulu ya.”
“Oh iya deh. Makasih ya.”
“Iya sama-sama.”, ujarku sambil mengangguk dan tersenyum.
Aku berjalan menuju gudang penyimpanan. Sekilas aku merasa ada yang mengganjal hatiku. Sepertinya aku pernah tahu siapa dia. Tapi siapa? Ah! Jangan-jangan..

***

“Mama, toko hewan langganan kita tutup. Aku harus kemana lagi, Ma?”
“Wah, ya gatau lagi, Kha. Coba yang deket rumah aja. Tau kan yang disitu? Sebelum perempatan yang mau ke rumah? Maaf ya Mama gabisa jemput kamu dan nganter nyari makanan kucingnya.”
“Tau sih, Ma. Hmm. Yaudah deh aku kesana dulu aja, Ma. Nanti aku telpon lagi ya, Ma. Dadah.”
“Iya, hati-hati ya, Kha.”
Toko hewan langgananku tutup dan aku harus mencari toko lain yang menjual makanan kucing untuk Mou & Umikha. Cuaca pun sedang panas-panasnya. Akhirnya aku menemukan angkot yang jalurnya menuju ke arah rumahku, sedang mengetem. Aku naik angkot itu, tak lama akhirnya sampai tempat yang kutuju. Aku belum pernah ke toko hewan yang satu ini. Padahal dekat dari rumahku. Aneh ya? Soalnya aku sudah punya toko langganan untuk masalah segala keperluan kucing-kucingku..
Buru-buru aku masuk ke toko itu, langsung kucari-kucari rak untuk makanan kucing. Kucari-cari merek makanan kucing yang biasanya aku beli. Tidak ada. Aku pun bertanya pada penjaga toko tersebut, apa makanan kucing yang kucari itu masih ada stok atau tidak. Aku menunggu disitu, sementar penjaga toko itu pergi ke belakang untuk mencari makanan kucingku. Tunggu, aku seperti pernah tahu penjaga toko ini. Tapi sudahlah, sepertinya cuma perasaanku saja.

Sampai akhirnya aku melihat papan nama di meja kasir. Sekelebat mencuat kembali memoriku yang tenggelam.

***

Setelah lama mencari, ternyata makanan kucing yang gadis itu cari masih ada di gudang. Fiiuuh. Aku tak jadi mengecewakan pembeli. Kukira tadi makanan kucing merek ini sudah habis. Aku yakin bahwa aku mengenalnya. Aku tak mungkin bisa lupa.
Dia adik kelasku dulu, 2 tahun dibawahku. Dia duduk kelas 10 saat itu dan aku di kelas 12. Aku tipikal lelaki yang pemalu dan cenderung pendiam. Aku mulai mengenalnya saat aku menjadi panitia MOS. Menurutku dia adalah tipe perempuan yang memang pantas untuk disukai dan di idolakan oleh lawan jenisnya. Ramah, murah senyum, cantik dan masih banyak lagi yang bahakn jika kusebutkan tak akan pernah habis. Waktu itu, teman-teman seangkatanku pun sudah mulai banyak yang mendekatinya. Yaaa, namanya juga lelaki. Tapi aku tak ikut-ikutan. Entah kenapa, mungkin karena aku pemalu.
Kuhapus semua kenangan lama itu. Kuambil beberapa kotak makanan kucing yang tadi dia pesan. Aku keluar dari gudang penyimpanan dan menuju ke arah meja kasir untuk menemuinya. Saat menuju meja kasir, kulihat dia sedang terdiam sambil memegang papan namaku yang tadinya di meja kasir. Lalu dia menatapku. Lekat.

***

Sammy. Kak Sammy! Ya, aku ingat namanya. Dia seniorku dulu di sekolah. Orangnya pendiam dan katanya pemalu. Justru itu yang membuatku penasaran padanya. Namun sampai hari kelulusannya, aku tak pernah bisa bicara banyak padanya. Dekat pun tidak, apalagi aku harus mengatakan perasaan sukaku padanya. Sejak saat itu, sukaku hanya kusimpan rapi dalam hati. Terkunci.
Mari kembali kepada kenyataan. Saat sedang membaca papan namanya, tiba-tiba dia keluar dari gudang sambil membawa beberapa kotak makanan kucing yang kupesan. Aku tertegun. Aku hanya bisa menatapnya. Tiba-tiba, tanpa aku pikirkan, aku memanggil namanya. Spontan.
“Kamu.. Sammy? Kak Sammy? Kelas 12-A SMA Nusantara?”

***

Hari sudah mulai sore. Aku bergegas pamit pada pemilik toko untuk keluar toko sebentar. Aku langsung menyalakan mesin motorku dan langsung menuju ke sekolah SMA Nusantara. Perjalanan yang lumayan lama karena memang tadi agak macet. Akhirnya aku sampai di depan gerbang sekolah. Kucari-cari sekeliling, tapi tak juga ketemukan orang yang kucari. Fiiuuh. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya dia muncul juga dari dalam gerbang sekolah. Tentunya, dengan membawa senyum manisnya itu.
“Hai Kak Sam! Hari ini kita langsung pulang aja ya. Nanti mampir aja dulu bentar di rumah. Aku udah bisa masak lho. Hehehe”, ujarnya sambil naik ke atas jok belakang motorku.
“Iya, iya.. Tuan Putri Riskha Fairunissa yang cerewet” jawabku sambil tersenyum.

Dan dia membalas senyumanku dengan senyuman termanisnya.

Sungguh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s