#1Day1StoryForIkha: Jangkrik Sendu

“Ikha! Itu ada jangkriknya! Ayo kita tangkep!”
“Eh, mana..mana? Ayo kita kejar!”

Percakapan seperti itulah yang biasanya muncul setiap harinya saat aku masih kecil. Aku dan temanku, Dika namanya, seringkali mencari jangkrik sehabis pulang sekolah. Kami bermain-main di padang rumput yang ada di desa itu. Kami selalu bermain sampai sore hari menjelang maghrib. Jangkrik-jangkrik yang kami tangkap, kami pelihara beberapa hari sebelum akhirnya kami lepaskan lagi.

Waktu terus berjalan. Sampai akhirnya saat ku duduk di kelas 8, aku bersama orangtuaku harus pindah ke kota.

“Ikha, kamu gak bakal lupa kan sama aku? Sama desa ini?”
“Ya nggak dong, Dik. Tenang aja. Nanti aku bakal sering main kesini. Nanti kita main-main lagi lah ya. Ke sawah, sungai, kemana pun. Hehehe.”
“Ya takutnya kamu nggak bisa kesini dan gak ketemu aku lagi.”
“Hah?! Maksud kamu?”
“Hahaha. Nggak apa-apa kok. Nih, aku kasih kamu beberapa jangkrik buat dipelihara. Terserah kamu nanti mau dilepas apa nggak. Pelihara yang bener ya.”
“Wah, makasih Dika. Iya bakal aku pelihara kok. Eh, itu mobilnya udah mau berangkat. Aku pergi dulu ya. Sampai ketemu lagi.”

Setahun pun berlalu. Saat aku pindah ke kota, aku punya banyak teman baru. Aku seakan lupa akan kenanganku di desa. Lupa pada jangkrik-jangkrik, padang rumputnya dan juga Dika. Beberapa kali orangtuaku mengajak untuk berlibur ke desa. Aku selalu menolaknya, aku selalu memilih pergi bersama teman-temanku. Aku lupa, aku punya Dika. Sahabat kecilku. Hingga sampai hari itu datang. Aku sedang berada di rumah temanku saat Mama meneleponku.

*ringtone ponsel berbunyi*
“Halo Ma. Ada apa? Aku lagi main sama temen-temenku.”
“Kamu cepet pulang, nak. Kita harus cepet pergi ke desa.”
“Hah?! Mau ngapain? Nggak ah. Kayak biasanya aja. Mama sama Papa aja lah. Aku nunggu aja di rumah.”
“Ikha, tapi sekarang penting bang..”
“Nggak deh. Aku nggak ikut ma. Udah yah, Ma.”
*ponsel dimatikan*

Mamaku terus meneleponku berkali-kali. Aku kesal. Aku selalu menolak panggilannya. Terakhir kali Mama menelepon, kutolak, langsung kumatikan ponselku. Aku sedang asyik bersama geng ku. Teman-temanku. Aku tak mau mama merusak kegiatanku. Selesai bermain di rumah temanku, aku langsung pulang ke rumah dengan taksi. Setelah sampai rumah, ku tak menemukan siapapun. Cuma pembantuku yang asyik menonton televisi.

“Bibi, orang-orang rumah pada kemana?”
“Lho, Dek Ikha gatau? Kan pada pergi ke desa. Katanya darurat.”
“Oh iya, lupa. Emang ada apa sih, Bi? Kok ribut banget sih kayaknya tadi pas mama telepon?”
“Katanya sih, anak temennya Mama sama Papa Dek Ikha lagi sakit keras. Namanya kalo gak salah Dika.”
“Oh, Dika. Hmm. Hah?! Dika?!”
“I-iya non. Kok kaget gitu? Ada apa?”

Kutinggalkan pembantuku yang kebingungan melihatku. Aku langusng menyalakan ponselku lagi. Banyak pesan masuk dari Mama dan Papa. Hampir semua isinya sama.

“Dika sakit leukimia. Dia mungkin butuh kamu.”

Aku lemas. Aku sedih. Akuu merasa bersalah. Aku sangat sedih. Aku menangis disitu. Kubaca-baca lagi pesan masuk dari orangtuaku. Kubaca yang terakhir masuk ke kotak masuk.

“Mama sama Papa lagi di RS XXX sama Pak Andi & Bu Heni. Dika lagi kritis. Kalo kamu baca ini, cepet kesini.”

Aku tak bisa banyak berpikir lagi. Aku langsung keluar rumah. Kucegat taksi yang lewat dan langsung mengatakan untuk pergi ke rumah sakit itu. Setelah beberapa lama, akhirnya aku sampai ke rumah sakit. Aku langsung mencari orangtuaku. Kutanya pada resepsionis dimana tempat yang kucari. Aku langsung bergegas kesana. Setelah aku sampai kesana, semua orang langsung melihatku. Bu Heni yang sedang tertunduk, berjalan menghampiriku dan langsung memelukku erat. Aku masih bingung. Pak Andi pun menghampiriku juga.

“Maafkan Dika yah, kalau selama ini ada salah kata atau perbuatan sama kamu, Ikha.”

Kulihat Pak Andi menangis. Bu Heni yang sedang memelukku juga menangis. Kulihat sekitarku, Mama dana Papa hanya melihatku dengan tatapan sedih. Kakak-kakakku sedang tertunduk lesu. Aku melepas pelukan Bu Heni.

“Nggak. Nggak mungkin. Dika bakal sembuh kan? Dika bakal bangun lagi kan, Pak?”

Tidak ada orang yang menjawabku. Semua hanya diam.

“Dika pasti bangun lagi. Dika pasti sembuh! Nggak mungkin!”

Aku menangis sejadi-jadinya. Aku juga berteriak-teriak sampai perawat atau orang yang sedang lewat memperhatikanku. Mama dana Papa langsung berdiri dan memelukku. Bu Heni dan Pak Andi pun hanya bisa menitikkan air mata. Kakak-kakakku pun ikut menangis.
Aku takut.
Aku sedih.
Aku merasa bersalah.
Aku tak menyangka, persahabatanku dan Dika akan berakhir seperti ini. Bahkan setahun ini, aku tak sempat berkomunikasi deagannya lewat apapun. Aku menyesal. Sangat.

Pagi pun tiba. Kami sudah di desa. Dan baru saja prosesi pemakaman Dika selesai. Semua keluarga dan tamu masih diliputi atmosfir abu-abu. Penuh kesedihan. Tamu-tamu mengucapkan bela sungkawa kepada Pak Andi dan Bu Heni. Aku pun masih sedih. Aku hanya terdiam, memandangi kuburan Andi yang ada di hadapanku. Sesekali kutaburi bunga yang kuharap bisa mewakili rasa maafku. Tiba-tiba, Bu Heni datang kepadaku.

“Ikha, sebenernya, sebelum Dika benar-benar pergi, dia sempet titip surat ini buat kamu. Cuma karena kemarin situasi lagi tidak pas, jadi baru bisa kasih sekarang. Ini, bacalah.”

Aku menerima surat itu. Bu Heni kembali ke kerumunan orang-orang yang ada disitu. Aku agak melangkah jauh dari tempat itu agar aku bisa tenang membaca surat ini. Kubuka lipatan kertas itu, kulihat tulisan di dalamnya. Tak rapi. Sering kusebut seperti cakar ayam. Aku hanya tersenyum kecil sambil menitikkan air mata ketika mengingatnya.

Hai Ikha. Gimana kabar kamu? Udah setahun lebih kita gak ketemu. Kita gak ngobrol-ngobrol. Aku kangen masa-masa kita berdua suka maen-maen di desa, hehehe. Sebelumnya, aku mau minta maaf karena aku ga bilang sama kamu. Dan orangtuaku gak bilang sama keluarga kamu. Aku baru tau kalo aku mengidap leukimia ini, beberapa hari sebelum kepindahan kamu. Aku sengaja bilang sama orangtuaku biar mereka gak bilang ke kamu atau orangtua kamu. Aku gak mau kalian sedih.

Kamu udah lama gak ke desa. Katanya kamu udha punya banyak temen baru ya? Aku seneng dengernya. Akhirnya kamu punya banyak temen baru. Yang aku harap, kamu gak lupa sama aku dan yang lainnya di desa, hehehe. Tepat pas kamu baca surat ini munkgin aku udah pergi ke tempat yang lain. Yang belum bisa kamu jangkau saat ini. AKu cuma mau bilang, jangan lupain aku ya. Sering-seringlah main ke desa. Jangan lupain semua kenangan yang ada di desa. Dan aku sekarang lega, akhirnya aku bisa ngasih tau alasan kenapa aku bilang ‘aku takut kamu gak bisa ketemu aku lagi’ pas kamu mau pindahan. Semoga kamu maafin aku ya, karena aku gak bilang-bilang soal penyakitku ini. Jangan sedih ya. Karena aku selalu melihat kamu. Dimanapun, kapanpun. Sampai jumpa nanti di keabadian.

Sahabatmu,

Andika

Aku tak bisa menahan-nahan lagi air mataku. Aku sangat merasa bersalah, walau aku tahu itu sangat terlambat. Maafkan aku, Dika. Dan sayup-sayup aku mendengar jangkrik-jangkrik bersenandung di sekitar makam. Indah, namun dibalut kepedihan yang sendu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s