#1Day1StoryForIkha: Suatu Pagi di London

Seisi mall sudah mulai gelap. Maklum saja, sudah benar-benar malam saat itu. Tapi, aku tetap menunggu dia keluar dari teater untuk menemuinya.

“Aku gak nyangka kakak bakal bener-bener masih ada disini. Ini kan udah malem banget.”
“Aku laki-laki. Mana mungkin aku mencederai janji yang kubuat sendiri? Toh, intinya, aku dan kamu udah bisa ketemu.”
“Hahaha. Iya, Kak. Eh, bukannya hari ini juga kakak pertama kalinya nonotn teater?”
“Oh, iya. Hari ini pertama kali aku nonton teater. Kamu lucu banget di setlist ini. Perjaka teater aku udah direnggut sama kamu hari ini.”
“Ih apaan coba? Bisa aja sih. Hahaha. Makasih yah udah nonton dan bilang aku lucu.”
“Eh gak lucu deh. Cantik.”

Kita banyak mengobrol malam itu. Teman-temannya masih ada di dalam teater. Jemputannya pun belum datang. Kita masih asyik saja berbincang-bincang.

“Nanti di teater selanjutnya aku mau demachi ah di depan mall. Nungguin kamu pulang.”
“Hahaha. Buat apa demachi kalo kakak bisa nemuin aku disini.”
“Aku juga fans kamu, kan? Wajar-wajar aja dong?”
“Ahh, iya-iya lah. Terserah kakak aja. Hahaha. Eh, kakak jadi pergi ke London?”
“Alhamdulillah, minggu depan. Mungkin 3 tahun disana. Aku seneng bisa banggain ortu aku akhirnya aku bisa dapet beasiswa kesana. Kamu gak bakal kangen kan?”
“Kangen? Enak aja. Buat apa? Kita kan baru kenal seminggu.”
“Tapi kan aku udah sering mention kamu di Twitter.”
“Kan aku gak bales.”
“Tapi dibaca kan? Kamu juga beberapa kali ketangkep Reupload nge-favorite tweet aku. Hehehehe.”
“Eh, anu.. Ya gitu doang mah biasa aja keleeuuss. Gak cuma aku. Member yang lain juga.”
“Tapi akhirnya kamu DM aku. Weeeekk.”
“….”
“Gak bisa ngomong lagi yaa? Hehehe.”
“Ihhh! Apaan sih?! Pukul juga nih!” Wajahmu memerah. Sepertinya kamu tak bisa lagi menyembunyikan malu.
“Sini kalo bisa! Hahaha.” Aku pun berlari berkeliling lantai 4 sambil kamu mengejar-ngejarku. Tak lama, karena kamu lelah juga. Kamu berhenti, terduduk, masih mencoba mengatur nafas.

“Ah kakak mah. Aku capek tau.”
“Kuberikan air minum yang ada di tasku. “Nih, minum dulu cantik.”
“Ah, ngegombal mulu.” Lalu kamu meninum air mineral itu sampai habis.
“Gapapa kan ngegombalnya dari hati.”
“Ah elah, gombal mulu. DM-nya dihapusin nggak?”
“Ya iyalah. Untuk menjaga karir kamu. Aku gamau kalau kamu harus tiba-tiba berurusan dengan manajemen karena hubungan ini.”
“Hubungan? Emangnya hubungan kita apa? Hahaha.”, sambil tertawa jahil.
“Oh gitu. Jadi aku di PHP-in? Yaudah, aku pulang sekarang ya.”, ujarku sambil mengambil tasku. Aku bergegas melangkah pergi.
“Ih kakak. Aku bercanda doang ih. Ngambekan gitu.”

Aku masih berpura-pura tak mendengarnya. Aku tetap melanjutkan langkahku. Ku dengar dia setengah berteriak.

“Kakak! Aku gak PHP-in kakak kok! Aku beneran suka sama kakak. Jangan marah dong.” Suaranya sudah terdengar lirih. Ah, aku memang tak berbakat menjadi orang jahat. Aku berbalik ke arah, lalu di depannya aku berteriak, “Surprise!! Aku gak marah kok. Weeekkk!!”

Seketika wajahnya tampak marah, “Ih jahat! Jahat! Bodo ah, aku marah ah!”
“Ya ampun, kan aku bercanda. Jangan marah gitu laaah.”
“Bodo amat! Aku kesel!”
“Hmm. Yaudah deh aku pulang beneran yaa.”
“Yaudah sana! Bodo amat!”
“Yaudah, sampai ketemu 3 tahun lagi ya. Aku mungkin bakal jarang ngontek kamu disana paling sesekali. Dan aku juga bakal jarang pulang ke Indonesia soalnya tiket mahal dan itu gak disediain di paket beasiswa aku. Aku juga kayanya gak bisa ngasih kamu gift ataupun fanletter soalnya..”
“Ah! Kakak mah bisa aja bikin aku biar gak marah. Huh!”, katanya sambil masih cemberut.
Sembari tersenyum aku mendekati dia. Aku mengambil saputangan dari saku celana ku, kuhapus air matanya yang tadi membasahi pipinya.

“Gak usah nangis lagi ya. Itu yang aku bilang bohong kok. Hehehe. Tapi kamu gak PHP-in aku kan?”
“Nggak kak. Kan aku udah bilang tadi. Suaranya masih terdengar lirih. “Emang kakak suka sama aku? Jangan-jangan kakak yang PHP-in aku. Huh!”
“Iya, aku nggak suka sama kamu..”
“Tuh kan! Aku benci sama kakak! Aku benci!”
“Eits.. Aku emang gak suka sama kamu. Tapi aku udah sayang sama kamu.”
Dia terdiam. Lalu berkata, “Hmmm. Tau ah! Kakak mah gitu..” Dia tersenyum, tertawa, tapi sambil menangis.
“Hahaha. Kamu emang lucu yah. Eh udah jam segini. Kayaknya member yang lain udah pada mau keluar. Aku pulang dulu yah. Baik-baik yah kamu disini. AKu berangkat ke London besok pagi.”
“Umm, iya kak. Nanti ngontek kakak lewat apa?”
“Yaa kayak biasa Line aja. Nanti gampang lah. KAu berangkat kesana aja belom, udah kangen aja.”
“Iiih! Apaan sih?! Sana pergi, katanya mau pulang?”
“Hehehe. Iya iya. Aku pulang dulu ya.” Aku berjalan ke arah lift.
“Iyaa, eh kak..”, dia berlari menghampiriku.
“Ada apa lag..” Dia mencium pipiku. Aku diam. Waktu seakan berhenti berjalan.
Aku mencoba sadar kembali. Dengan sedikit kaku aku pamit padanya.
“M..ma..makasih ya. Aku pulang dulu ya.”
“Iya, kak. Hati-hati ya.” Dia tersenyum dan.. Ah! Manis sekali senyumnya ditambah matanya yang sipit itu.
“Iya, Ikha. Daaahh.”

***

Aku terbangun. London pagi ini cerah. Walau agak sedikit dingin. Aku langsung mencuci muka. Lalu aku melakukan ibadah pagi, walau tak ada panggilan karena masjid agak jauh dari sini. Setelah selesai, aku membaca kicauan-kicauan di linimasa Twitter ku. Tiba-tiba muncul pop-up chatting Line di ponselku.

“Ikha: Bangun ih! Di Indonesia udah siang tauk. Hahaha :p Selamat pagi ^^”

Muncul lagi pesan baru selang beberapa detik.

“Ikha: Semalem kakak mimpi aneh gak? Aku mimpi lho. Ceritanya kayak pas kita pertama ketemu waktu kakak mau pamit ke London.”

Aku tersenyum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s