#1Day1StoryForIkha: Senyum Yang Sama

“Nah anak-anak, ini dia teman baru kita. Ayo masuk, perkenalkan diri kamu dulu.”

Aku masuk ke dalam kelas. Suasana yang berbeda dengan sekolahku sebelumnya karena aku anak pindahan dari Jakarta dan kini aku ikut dengan keluargaku tinggal di Bandung.

“Hai semuanya..”
“Haaaiiii..”, seisi kelas menjawab, tapi perhatianku tertuju pada satu orang di bangku belakang.
“Mmm.. Nama aku Riskha Fairunissa. Panggil aja Ikha. Aku pindahan dari Jakarta. Aku mohon kerjasamanya ya untuk 1 tahun ke depan. Terimakasih.”
“Sama-samaa..”, lagi-lagi perhatianku tertuju pada anak itu. Hanya dia yang diam sambil menulis saat aku memperkenalkan diri. Sangat tidak menghormati orang yang bicara di depan, pikirku.

“Nah, itu tadi perkenalannya. Semoga Ikha bisa berteman baik dengan kalian semua ya. Nah, Ikha. Kamu duduk di belakang ya sama Fandi, soalnya cuma disitu bangku yang masih kosong.”
“Iya, Bu. Makasih.” Aku lantas berjalan ke belakang kelas untuk menempati bangkuku. Ah, ternyata nama anak itu Fandi. Aku jadi penasaran sebenarnya apa yang dia lakukan. Aku duduk di mejaku, menaruh tasku dan mengeluarkan alat tulisku. Aku mencoba untuk berkenalan dengannya.

“Hai! Aku Ikha.”, ucapku sambil menyodorkan tangan.
“Aku Fandi.” Dingin. Seakan tidak bersahabat. Tanganku yang kumaksudkan untuk bersalaman pun tidak dihiraukannya. Huh! Aku kesal. Tapi aku masih mencoba untuk berkenalan dengannya.

“Mmm.. Kamu lagi nulis apa, Fan?”
“Bukan urusan kamu.”
Apa-apaan lagi?! Dia berkata seperti itu tanpa ekspresi. Seakan aku dianggapnya tak ada. Angkuh sekali dia! Aku sudah terlanjur kesal. Lebih baik aku mulai belajar sekarang. Kuambil bukuku lalu mulai memperhatikan guru di depan kelas. Kucoba melirik kesampingku dan dia masih saja menulis.

“Baik anak-anak. Hari ini kita akan mempelajari tentang Zat-zat Aditif. Ayo semua perhatikan ke depan..”

***

Bel tanda istirahat berbunyi. Kelasku menjadi berisik karena banyak siswa yang pergi ke kantin, kelas lain atau bermain di luar kelas. Aku sendiri memilih di dalam kelas saja karen aku membawa bekal makan dari rumah. Kulihat ke sampingku, Fandi masih saja menulis.

“Kamu nggak main keluar? Atau makan gitu?”, tanyaku padanya.
“Nggak ah. Tulisanku belum selesai.”
“Kayaknya kamu suka banget nulis ya. Mau tau dong, kenapa kamu suka banget nulis.” Aku bertanya padanya.
“Aku suka menulis sejak kedua orangtuaku udah nggak ada. Buatku, menulis adalah satu-satunya penghilang kejenuhan dan kesedihanku. Puas?” Fandi menjawabnya dengan datar, sepertinya pertanda dia tak suka ditanya-tanya.
“Ma-maaf Fan. Aku gak bermaks..”
“Biasa aja. Gak apa-apa.” Fandi memotong kata-kataku. Dan melanjutkan tulisannya.
“Aku juga kehilangan ayahku beberpa tahun yang lalu, kok.”

Gerakan tangan Fandi yang sedari tadi menulis, tiba-tiba saja berhenti sejenak. Menatapku, lalu kembali lagi menulis.
“Aku tahu rasanya kehilangan orang yang kita cintai. Tapi gak selamanya kita menutup diri, Fan. Aku tahu, mungkin kehidupan kamu lebih berat daripada aku. Aku harap kamu mau berteman denganku.”, ujarku sembari tersenyum.
Fandi berhenti menulis. Dia beranjak dari kursinya, lalu bertanya padaku, “Kamu mau titip apa? Aku mau ke kantin.” Masih dengan nada datarnya.
Aku bingung. “Err.. Anuu.. Jus mangga aja ya, Fan. Tolong ya.”
Dia pun langsung pergi keluar kelas. Hmm.. Aku melihat buku yang ada di mejanya. Ah, iseng saja kubuka buku itu. Kulihat-lihat secara acak, semua halaman tertulis tanggal dan hari. Sepertinya ini semacam buku harian. Ah, aku lebih penasaran dengan apa yang dia tulis hari ini. Kubuka beberapa halaman terakhir, kucari keterangan tanggal hari ini. Dan.. Aku menemukannya!

Senin, 17 Maret 2014

Hai, Ayah dan Ibu disana. Bagaimana keadaannya? Pasti sudah tenang bersama yang lainnya ya. Ayah dan Ibu enak ya sudah terlepas dari segala bentuk jerat dunia yang kadang membuat manusia terlupa akan dirinya. Semoga Ayah dan Ibu tenang disana ya. Aku, Lidya dan Kak Vera baik-baik saja kok disini bersama Paman dan Bibi. Kak Vera baru saja dapat beasiswa lagi dari universitasnya sehingga dia bisa kuliah tanpa memikirkan biaya lagi. Seperti biasa, Kak Vera adalah kebanggaan Ayah dan Ibu. Kak Vera juga cerita kalau dia sudah mulai mendapat banyak tawaran dari banyak digital agency. Lidya juga hebat kok. Lagi-lagi dia memimpin tim cheerleader sekolah kita. Aku bangga punya adik seperti Lidya. Pastinya Ayah dan Ibu juga bangga ya? Kalau aku, emm, seperti biasa. Nilai akademisku tak terlalu bagus, Yah, Bu. Tapi aku selalu ingat kata-kata Ayah bahwa “Kunci sebuah kesuksesan adalah kerja keras tiada henti”. Ditambah lagi Ibu bilang, “Kalau kamu berhenti di tengah jalan, maka kamu gagal.”, maka jadilah aku erus mengejar cita-cita menjadi penulis. Akhirnya, sejak sebulan yang lalu, cerita-cerita buatanku sudah mulai dimuat di beberapa media, Yah, Bu. AKu senang sekali. Dan rencanaku bulan ini, aku akan segera menerbitkan buku kompilasi cerita pendek bersama teman-temanku yang lain. Ah, andai nanti Ayah dan Ibu bisa membaca hasil karyaku. Tapi, Aku yakin Ibu bisa memperhatikanku dari sana. Oh iya, Bu. Ibu pernah tanya kan kenapa aku kayaknya nggak pernah lihat aku dekat sama perempuan. Yaa, taulah teman dekat atau pacar. Terus aku jawab kalau aku masih belum punya yang pas. Nah, sepertinya hari ini aku sudah tahu siapa yang pas denganku, Bu. Apalagi Ibu selalu bilang, “Pandangan pertama itu menentuka segalanya.” Dan aku merasakan ini, Bu. Namanya Ikha, anak baru di kelas ini. Pindahan dari Jakarta. Orangnya cantik, ramah, manis. Dia terus-terusan masih mau berteman denganku padahal aku sudah bersikap dingin padanya. Apa aku salah punya perasaan dengannya, Bu? Aku yakin Ibu akan suka dengannya seandainya Ibu masih disini. Sudah dulu ya, Yah, Bu. Nanti akan kulanjut lagi saat dirumah.

Salam sayang selalu dari anak laki-lakimu,

Fandi

Aku terharu membacanya, sampai aku tak sadar pipiku pun basah. Selesai membacanya, aku buru-buru menutup dan mengembalikan buku itu pada tempatnya. Tapi sepertinya itu telat, Fandi sudah masuk kelas dan melihatku sedang memegang buunya. Sial! Dia pasti marah padaku. Duh, aku harus bagaimana? Dia berjalan ke arahku dengan tatapannya yang tajam. Aku menunduk malu. Aku merasa bersalah.

“Maafin aku, Fan. Aku gak bermaksud buat lancang. Maafin aku. Kalau kamu marah juga gak apa-apa, kok. Silahkan.”, ucapku sambil merasa bersalah.

Hening. Dia tidak berkata apa-apa. Aku bingung. Aku bangun lalu melihat ke arahnya. Dia tersenyum kecil.

“Ini jusnya. Selain pendiam, aku juga agak pemalu. Maaf ya, aku cuma bis menulisnya.” Justru kali ini dia yang terlihat malu. Ah! Aku gemas melihatnya. Fandi akhirnya bisa tersenyum padaku. Dan untuk ukuran seorang laki-laki, senyumnya terlihat manis. Aku senang bisa melihatnya begitu.

“Makasih ya, Fan. Nih roti isi buatan aku. Makan bareng yuk.”

Fandi tersenyum lagi. Masih dengan senyum yang sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s