Balon Polkadot Malam Itu

Malam itu sepertinya tidak terlalu dingin, karena orang-orang disana tidak tampak seperti orang yang kedinginan. Raut kebahagiaan dan keceriaan menyebar di seluruh area festival. Anak-anak beserta bapak ibunya, sekumpulan remaja, pasangan muda mudi, semua membaur untuk memeriahkan acara malam itu. Sementara semua asyik bersenang-senang, aku masih harus mencari-cari sesuatu untuk kujadikan berita dan mengabadikan momen-momen di acara itu dengan lensa kameraku sambil menahan rasa kesal dan marah.

Seharusnya aku meliput acara ini berdua dengan temanku, Ryan, yang tiba-tiba saja menelepon ketika aku sudah sampai di tempat acara.

Sori, bro. Gue tetiba mules sama mencret-mencret nih. Lemes banget dari sore. Lo sendirian gapapa kan, ya? Soalnya, pas tadi gue nelpon ke kantor katanya gaada yang bisa gantiin. Semangat ya, bro. Entar gue traktir deh ya, hehe.

Tapi bukan karena itu aku marah malam ini. Bayangkan saja, ketika kita sedang sibuk bekerja dan ternyata pacar kita sedang asyik masyuk bercanda bersama lelaki lain. Saat tadi, aku melihat pacarku, Desy, sedang memancing ikan sambil dipeluk lelaki lain, kuhampiri dia dan akhirnya pertengkaran itu terjadi. Sebuah bogem mentah dariku melayang ke wajah si lelaki. Persetan dengan cacian dan makian dari si lelaki dan (mantan) pacarku. Aku berjalan menjauh dari mereka dan kembali bekerja walau dengan hati dongkol.

Setelah tadi aku melakukan wawancara terakhirku (dan juga capek setelah pertengkaran tadi), aku berjalan ke arah tempat parkir sambil melihat-lihat gambar apa saja yang kuambil sedari tadi. Potret keceriaan anak-anak bersama orangtuanya, main kembang api, badut-badut yang menampilkan kelucuannya (atau keseramannya? Entahlah) Lalu, aku melihat foto seorang gadis yang sedang duduk di bangku sambil memegang balon di tangannya. Ah, gadis ini yang tadi aku wawancara dan mengobrol denganku.  Siapa tadi namanya? Gracia?

***

Kuakui sih, pacarku Rendy, memang sedikit urakan kelakuannya. Tapi bukan berarti Rendy orang seperti yang Ayah bicarakan. Lagipula Ayah tahu darimana kalau Rendy itu orang yang brengsek? Pengalaman? Apa Ayah seorang cenayang? Aku yang masih saja kesal memikirkan perkataan Ayah langsung beringsut keluar rumah dan kulihat sebuah motor diparkir diluar rumah. Kulihat Rendy melambai-lambai ke arahku sambil menelepon seseorang. Aku bergegas menghampirinya.

“Abis nelpon siapa, Ren?”

“Ah, nggak, bukan siapa-siapa. Yuk, kita jalan. Kamu bilang apa sama ayah kamu?”

“Ya, aku bilang sama Ayah kalo aku mau pergi sama temen-temen perempuanku, awalnya kan emang gitu. Tapi kan gak jadi. Jadinya sama kamu, Ren.”

“Haha, dasar kamu. Udah yuk, buruan kita pergi.”

Setelah memacu motor sekitar setengah jam, kita sampai di tempat festival itu. Ramai sekali ya. Aku menunggu di dekat pintu masuk venue itu selagi Rendy memarkir motornya. Setelah dia memarkir motornya, kulihat lagi Rendy sedang melihat ponselnya seperti sedang membaca pesan saat berjalan. Aku memperhatikannya dari jauh.

“Tumben sering ngecek HP.”

“Ah, nggak, sayang. Barusan ortuku SMS, makanya aku baca dulu. Oiya, aku mau ke tempat temen aku jualan dulu ya. Ada urusan bentar. Kamu duluan aja, entar SMS aku yah kamu ada dimana.”

“Hmm. Oke deh. Aku kesana dulu ya.”

Aku berjalan-jalan ke sekitar wahana-wahana yang ada. Sesekali mampir ke booth makanan untuk beli camilan. Niatnya kan kita kesini buat jalan-jalan berdua kenapa Rendy malah pergi segala, pikirku. Ya sudah. Daripada menunggu lama, aku langsung mencoba semua permainan disitu.

Selesai banyak mencoba permainan yang ada, aku duduk-duduk di bangku sambil memegang balon berwarna biru dengan corak polkadot putih yang tadi kubeli. Sampai tiba-tiba ada suara bunyi klik kamera dari depanku.

“Hai. Maaf ya saya foto-foto barusan. Saya wartawan dari Teen Magz. Boleh nanya-nanya sedikit mengenai kesan dari acara ini? Nama kamu siapa? Saya Yosua.”, ujarnya sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.

“Oh iya. Boleh-boleh. Aku Gracia.”, jawabku. Setelah itu, si lelaki menanyai beberapa pertanyaan, menanyakan kesan dan pesan untuk acara ini dan lain-lain. Tidak lama, dia selesai mewawancaraiku lalu bertanya, “Aku boleh duduk disini nggak sebentar? Capek nih habis keliling-keliling.”

“Ya boleh lah. Nggak ada yang ngelarang kok. Nggak ada di undang-undang tuh ‘Seorang wartawan dilarang duduk di bangku setelah melakukan wawancara’. Gitu..”, aku sedikit berkelakar.

“Haha, kamu lucu juga yah.”

“Nggak ah. Kalau lucu mungkin aku udah jadi pelawak.”

“Yaudah deh. Yang lucu balon polkadotnya. Hahaha.” Sambil menunjuk balon yang aku pegang.

“Ih apaan sih?”

Kita sama-sama tertawa. Kita mulai mengobrol ringan disitu. Dia lelaki yang menarik dan mengasyikkan. Dia banyak bercerita dan aku disitu bahwa hari itu sepertinya dia sedang sial. Mulai dari dia harus meliput acara festival ini sendirian sampai ternyata pacarnya selingkuh tepat di depan dia, di tempat dia sedang bekerja. Aku merasa kasihan sambil sempat berpikir kemana saja Rendy sampai sekarang dia belum muncul juga.

“Eh maaf ya, aku malah curhat gini, haha. Maaf lho ya.”

“Ah gapapa, kok. Aku malah makasih ada temen ngobrol sementara aku sendirian disini.”

“Lho, iya. Kamu kok sendirian? Pacarnya mana?”

“Dia lagi.. eh, lho.. kok kamu tau aku punya pacar?”, tanyaku heran.

“Keliatan lah, masa perempuan manis kayak kamu gak punya pacar? Wah parah nih, masa bisa-bisanya dia ninggalin ceweknya sendirian disini. Haha.”

“Ih, apaan sih kamu! Cowok aku lagi ke tempat temennya katanya. Aku udah SMS dia kok aku nunggu disini.”

“Oh yaudah. Aku pulang dulu yah. Tugas aku udah selesai. Selamat nunggu pacar kamu yah.”

“Iya. Kamu jangan lupa move on. Hati-hati entar sampe rumah malah nyilet lagi. Haha.”

Setelah laki-laki itu pergi, dari kejauhan Rendy datang menghampiriku.. sambil memegangi wajahnya dengan es batu. Kenapa Rendy?

“Hei sayang, sori lama. Tadi ada orang gajelas, sambil bawa-bawa kamera, terus mukulin aku. Mabok kayaknya.”, sambil meringis kesakitan.

“Ya ampun. Bisa-bisanya ada orang mabok disini. Kamunya ngga apa-apa? Coba sini aku liat dulu.”

Saat aku melihat lukanya dan mengelap lukanya dengan es, aku jadi teringat sesuatu.

Kamera.

Laki-laki yang tadi.

Bertengkar karena pacarnya selingkuh. Apa mungkin..

Tanpa ba-bi-bu aku mengambil ponsel dari saku celananya, lalu melihat-lihat isi ponselnya. Dan.. aku tidak pernah merasa semarah ini.

“Gre! Apa-apaan sih? Balikin hape aku. Kamu ngapain sih..”

PLAAKK! Pertama kalinya dalam hidupku, aku menampar seorang lelaki, bahkan pacarku sendiri. Di depan orang banyak.

Rendy menatapku. Merasa bingung, dia bertanya, “Gre, kamu kenap..”

PLAAKK! Dua kali. Aku menampar seorang lelaki dua kali. Aku benar-benar tidak pernah merasa semarah itu. Tapi kali ini.. Ah, air mataku mulai keluar. Dengan terisak-isak aku mulai bicara pada Rendy.

“Harusnya.. aku percaya sama Ayahku kalau kamu memang brengsek. Mulai sekarang, jangan pernah temuin aku lagi.”, lalu aku banting ponselnya ke tanah dan kuinjak-injak layarnya yang menampilkan percapakan SMS Rendy dengan selingkuhannya, Desy.

“Gre, aku bisa..”

Suara Rendy .. dan pandangan orang-orang disekitar juga tidak aku hiraukan. Aku berlari dan terus berlari keluar dari area festival itu sambil menangis.

***

Setelah selesai melihat-lihat foto-foto tadi, aku memasukkan kameraku ke dalam tas sampai aku melihat seorang gadis yang sedang berlari sambil.. menangis? Membawa balon pula. Setelah kulihat-lihat.. balon polkadot? Itu kan Gracia! Kenapa dia menangis? Aku pun berlari menghampirinya sambil memanggilnya, “Gracia! Hei!”.

Dia berhenti. Masih menangis, dia berkata,

“Rendy..  Desy..”

Aku terkejut dia menyebut nama Desy.

“Jadi, Desy sama Rendy..”

“Iya, mereka..”

Sambil masih menangis, Gracia memelukku. Aku pun balas memeluknya, mencoba menenangkannya. “Udah, Gre. Jangan nangis lagi ya. Aku ada disini.”

Bahkan saat masih menangis, wajah cantiknya tak juga pudar. Gracia mencoba menghapus air matanya. Lalu dia menatapku.

“Yos, apa kamu tipe lelaki brengsek?”

Aku menatapnya lekat-lekat.

“Aku? Brengsek? Entahlah. Tapi, kalau menjadi lelaki brengsek di hadapanmu dan melukai hatimu, itu bakal jadi penyesalan terberat buatku.”

Gracia menyunggingkan senyuman manisnya lalu kembali memelukku. Balon polkadotnya terlepas dan terbang ke atas seakan menandakan bahwa kami sudah membuang semua masa lalu dan kesedihan kami.

Advertisements

One thought on “Balon Polkadot Malam Itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s