#1Day1StoryForIkha: Diam-Diam Saja

“Ayo Ikha! Buruan! Barang-barang kamu udah belum?”, tanya Kak Naomi setengah berteriak.
“Udah Kak Omi. Udah siap!”
“Yaudah yuk buruan naik bus. Siapa lagi yang belum?”
“Kayaknya udah semua. Terakhir kan aku sama Nat. Itu Nat udah masuk.”
“Iya. Aku disini!”, kata Nat.
“Yaudah. Yuk berangkat.”, tutup Kak Naomi sambil masuk bus.

Hari ini kita berangkat untuk persiapan event meet and greet plus konser esok hari di Bandung. Jarang-jarang banget kita bisa perform dengan formasi penuh. Ya. Yang ke Bandung hari ini Semuanya adalah Tim KIII. Aku senang sekali. Ditambah lagi, aku jarang sekali pergi ke Bandung. Bahkan untuk berlibur. Makanya, ketika kita sampai nanti di Bandung, aku bersama yang lain sudah mempersiapkan banyak agenda untuk mengisi waktu kosong nanti. Jalan-jalan yeay! Haha. Tapi, ada hal lain juga yang sudah aku tunggu-tunggu untuk hari ini. Hmm..

***
“Bro, maneh nonton konser besok?”
“Gak tau euy. Kalo ada yang jual tiket murah mah gapapa deh.”
“Eh, kalo mau sama urang, yuk. Aing ada kenalan sama pantianya. Tadi sih udah mesen 1 tiket. Kalo mau 1 lagi bisa urang pesenin. Setengah harga, lho! Ambil gak?”
Serius?! Yaudah atuh, pesenin yak.”
“Tapi ada persenan buat aing dong ya! Hehehehe.”
“Eeeeuuuhh.. Iya deh, iya.. By the way, maneh gausah lah ngomong pake Bahasa Sunda lagi.”
“Lah, emangnya kenapa?”
“Maksa banget kedengerannya tauk.”
“Errrrrr..”

Selama berkecimpung di fandom ini, aku memang tak pernah memaksakan keuanganku untuk memenuhi hasrat idoling-ku ini. Kalau memang aku sedang tak punya uang atau memang sesuatu itu terlalu mahal untukku, ya aku tak akan memaksakan diri. Makanya, aku tak berniat membeli tiket untuk konser esok hari. Tapi, Anton temanku, ternyata memang orang baik. Hahaha. Akhirnya aku dapat tiket dengan setengah harga. Yaah sudahlah. Yang terpenting aku bisa bertemu oshimenku besok. Atau nanti?

***
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sudah sekitar 3 jam kita ada di Bandung. Sedari tadi sore, kita lebih banyak menghabiskan waktu dengan istirahat di hotel. Aahh.. Aku bosan terus-terusan disini. Aku sekamar dengan Tata, Nadila, Nat, Sinka dan Della. Sedari tadi kita hanya mengobrol dan ngemil. Kecuali Nat. Dia baru saja bangun dari tidurnya. Seakan tahu keinginan kita, manajer kita tiba-tiba masuk ke dalam kamar.

“Hei gals! Pada mau jalan-jalan gak? Aku yang ngawal kalian.”
“Wah! Serius nih?!”, ujar Hanna kaget.
“Yes! Jalan-jalan malem kita! Untung gue udah bangun.”, kata Nat lagi.
“Yaudah ayok semuanya, kita siap-siap yuk.”, kata Sinka.
“Aku tunggu kalian diluar ya. Akau mau manggil LO-nya dulu buat jadi guide kita nanti.”, ujar sang manajer.

Kita pun semua bersiap-siap. Yaa kalian ngerti lah gimana persiapannya para gadis-gadis muda kalau mau jalan-jalan. Hahaha. Rempong banget. Aku pun sedang bersiap-siap saat smartphone ku berbunyi. Ada pesan masuk. Kuambil ponselku dan kubaca pesannya. Aku pun tersenyum-senyum sendiri.

***
“Wah, Pi. Maneh udah dikosan aja. Tumben pulang cepet. Baru juga jam setengah 12.”
“Iya nih, Ton. Aku tidur duluan yak. Maneh begadang kan?”
“Nggg.. Iya sih. Emang kenapa?”
“Bangunin urang yah sekitar jam 3-an. Urang mau pergi?”
“Hah, kemana, Pi?”
“Gausah kepo, Ton. Gak baek, gak ada manfaatnya. Yaudah intinya gitu. Udah yah, urang tidur duluan. Oyasumikhaaa!”
“Terserah maneh! Bebas!

Aku langsung menuju kasurku. Dan tidur sambil tersenyum-senyum.

***
“Fiiuuhh.. Capek juga yak!”, kata Tata.
“Aku gak capek. Aku kenyang. Hohoho.”, Sinka tersenyum-senyum.
“Ah, Sinka mah makan mulu! Pantes gendut. Hahaha.”, timpal Della.
“Ih! Gak gendut-gendut amat kok. Weekkk.”

Nadila dan Nat langsung tertidur. Aku sendiri masih membereskan beberapa belanjaan yang tadi kubeli. Capek sekali rasanya. Setelah semuanya beres, aku langsung menuju kasur dan tidur. Tak sabar untuk esok hari.

***
Fajar mulai menampakkan dirinya. Dua orang muda-mudi ini sedang melihat proses terjadinya fenomena alam yang indah ini.

“Waaahh! Liat deh Kak! Udah mulai muncul mataharinya!”
“Bener kan? Di bukit ini tuh indah banget kalo menjelang fajar.”
“Waaahh! Cantik banget! Makasih yah udah bawa aku kesini, Kak!”
“Hahaha. Sama-sama. Ngomong-ngomong, kayaknya istilah “menculik” lebih pas buat aku. Dan istilah “kabur” pas buat kamu. Hahaha. Kan kamu kabur dari hotel buat ngeliat sunrise ini.”
“Iya nih. Kakak nyulik aku nih dari hotel. Hahaha.”
“Tapi seneng kan diculik gini?”, ucapku sambil setengah menggoda.
“Ah! Tau ah!”, jawabnya sambil tersipu malu. “Tapi, sekali lagi, makasih ya kak udah mau ngasih pengalaman yang berkesan di Bandung ini.” Ah! Manis sekali senyummu, dik.
“Iya Riskha Fairunissa. Sama-sama.”, ujarku sambil tersenyum.

#1Day1StoryForIkha: Sepenggal Memori di Petshop

Hari ini toko hewanku sepi. Eh, toko hewan yang menjadi tempat kerjaku maksudnya. Yah, memang sih, hari ini bukan hari libur, jadi memang pantaslah kalau sepi. Kadang rasanya bosan juga hanya melakukan hal itu-itu saja. Mengecek jumlah hewan, menghitung jumlah makanan hewan, mengecek kembali aksesoris yang kita jual dan lain-lain.
Baru saja aku selesai mengecek makanan hewan yang tersisa, tiba-tiba pintu toko terbuka. Seorang gadis muda masuk, masih dengan seragam sekolahnya, langsung lari ke arahku yang masih berada di bagian rak makanan kucing. Tampaknya dia sedang mencari-cari makanan kucing. Aku pun bergeser ke pinggir rak, agar dia bisa lebih leluasa mencari apa yang dia cari.
“Kak, ada makanan kucing yang mereknya XXXXX nggak?”, tanya si gadis itu.
“Wah, yang merek itu mah lagi kosong kayaknya. Tapi, biar saya coba cariin di gudang dulu ya.”
“Oh iya deh. Makasih ya.”
“Iya sama-sama.”, ujarku sambil mengangguk dan tersenyum.
Aku berjalan menuju gudang penyimpanan. Sekilas aku merasa ada yang mengganjal hatiku. Sepertinya aku pernah tahu siapa dia. Tapi siapa? Ah! Jangan-jangan..

***

“Mama, toko hewan langganan kita tutup. Aku harus kemana lagi, Ma?”
“Wah, ya gatau lagi, Kha. Coba yang deket rumah aja. Tau kan yang disitu? Sebelum perempatan yang mau ke rumah? Maaf ya Mama gabisa jemput kamu dan nganter nyari makanan kucingnya.”
“Tau sih, Ma. Hmm. Yaudah deh aku kesana dulu aja, Ma. Nanti aku telpon lagi ya, Ma. Dadah.”
“Iya, hati-hati ya, Kha.”
Toko hewan langgananku tutup dan aku harus mencari toko lain yang menjual makanan kucing untuk Mou & Umikha. Cuaca pun sedang panas-panasnya. Akhirnya aku menemukan angkot yang jalurnya menuju ke arah rumahku, sedang mengetem. Aku naik angkot itu, tak lama akhirnya sampai tempat yang kutuju. Aku belum pernah ke toko hewan yang satu ini. Padahal dekat dari rumahku. Aneh ya? Soalnya aku sudah punya toko langganan untuk masalah segala keperluan kucing-kucingku..
Buru-buru aku masuk ke toko itu, langsung kucari-kucari rak untuk makanan kucing. Kucari-cari merek makanan kucing yang biasanya aku beli. Tidak ada. Aku pun bertanya pada penjaga toko tersebut, apa makanan kucing yang kucari itu masih ada stok atau tidak. Aku menunggu disitu, sementar penjaga toko itu pergi ke belakang untuk mencari makanan kucingku. Tunggu, aku seperti pernah tahu penjaga toko ini. Tapi sudahlah, sepertinya cuma perasaanku saja.

Sampai akhirnya aku melihat papan nama di meja kasir. Sekelebat mencuat kembali memoriku yang tenggelam.

***

Setelah lama mencari, ternyata makanan kucing yang gadis itu cari masih ada di gudang. Fiiuuh. Aku tak jadi mengecewakan pembeli. Kukira tadi makanan kucing merek ini sudah habis. Aku yakin bahwa aku mengenalnya. Aku tak mungkin bisa lupa.
Dia adik kelasku dulu, 2 tahun dibawahku. Dia duduk kelas 10 saat itu dan aku di kelas 12. Aku tipikal lelaki yang pemalu dan cenderung pendiam. Aku mulai mengenalnya saat aku menjadi panitia MOS. Menurutku dia adalah tipe perempuan yang memang pantas untuk disukai dan di idolakan oleh lawan jenisnya. Ramah, murah senyum, cantik dan masih banyak lagi yang bahakn jika kusebutkan tak akan pernah habis. Waktu itu, teman-teman seangkatanku pun sudah mulai banyak yang mendekatinya. Yaaa, namanya juga lelaki. Tapi aku tak ikut-ikutan. Entah kenapa, mungkin karena aku pemalu.
Kuhapus semua kenangan lama itu. Kuambil beberapa kotak makanan kucing yang tadi dia pesan. Aku keluar dari gudang penyimpanan dan menuju ke arah meja kasir untuk menemuinya. Saat menuju meja kasir, kulihat dia sedang terdiam sambil memegang papan namaku yang tadinya di meja kasir. Lalu dia menatapku. Lekat.

***

Sammy. Kak Sammy! Ya, aku ingat namanya. Dia seniorku dulu di sekolah. Orangnya pendiam dan katanya pemalu. Justru itu yang membuatku penasaran padanya. Namun sampai hari kelulusannya, aku tak pernah bisa bicara banyak padanya. Dekat pun tidak, apalagi aku harus mengatakan perasaan sukaku padanya. Sejak saat itu, sukaku hanya kusimpan rapi dalam hati. Terkunci.
Mari kembali kepada kenyataan. Saat sedang membaca papan namanya, tiba-tiba dia keluar dari gudang sambil membawa beberapa kotak makanan kucing yang kupesan. Aku tertegun. Aku hanya bisa menatapnya. Tiba-tiba, tanpa aku pikirkan, aku memanggil namanya. Spontan.
“Kamu.. Sammy? Kak Sammy? Kelas 12-A SMA Nusantara?”

***

Hari sudah mulai sore. Aku bergegas pamit pada pemilik toko untuk keluar toko sebentar. Aku langsung menyalakan mesin motorku dan langsung menuju ke sekolah SMA Nusantara. Perjalanan yang lumayan lama karena memang tadi agak macet. Akhirnya aku sampai di depan gerbang sekolah. Kucari-cari sekeliling, tapi tak juga ketemukan orang yang kucari. Fiiuuh. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya dia muncul juga dari dalam gerbang sekolah. Tentunya, dengan membawa senyum manisnya itu.
“Hai Kak Sam! Hari ini kita langsung pulang aja ya. Nanti mampir aja dulu bentar di rumah. Aku udah bisa masak lho. Hehehe”, ujarnya sambil naik ke atas jok belakang motorku.
“Iya, iya.. Tuan Putri Riskha Fairunissa yang cerewet” jawabku sambil tersenyum.

Dan dia membalas senyumanku dengan senyuman termanisnya.

Sungguh.

Side Story @kuran666er: Epilog Merah

Pagi beranjak seperti biasanya. Menghangatkan bumi sejak pukul 5. Orang-orang kembali memulai aktivitasnya yang tertunda kemarin. Ramai, itulah pagi hari. Bagi sebagian orang, pagi hari adalah suatu hal yang sangat biasa bahkan mungkin membosankan karena menjadi rutinitas. Tapi bagi sebagian yang lain, bisa menjadi suatu awal yang baru dalam hidupnya.

Seperti di setiap paginya, Rangga selalu duduk di teras rumahnya sejak pagi hari. Mengambil koran yang sudah diantar oleh loper koran dan tersedia di atas meja di terasnya, lalu membawa kopi yang sudah dia seduh tadi di dapur. Sekilas membolak-balikkan lembar koran dan membaca beberapa berita.

Lalu, seorang perempuan yang tak jauh usianya dari Rangga, dengan paras cantik & menawan (bahkan mungkin terlalu cantik untuk seorang ibu rumah tangga biasa, haha), datang menghampirinya dari dalam rumah. Masih dengan pakaian piyamanya, tampak sedikit lelah jika dilihat dari raut wajahnya yang mungkin baru saja selesai bekerja di dapur.

“Heh, baca koran melulu! Inget gak sekarang hari apa?”
“Inget lah! Aku ini seorang ayah yang baik kok. Hahaha!”
“Hiih! Seriuss! Kamu tuh dari dulu sukanya ngelawak melulu, bercanda mulu.”
“Lah, bukannya itu yang bikin kamu suka?”
*pipi sang perempuan mulai merona merah* “Hah?! Apaan sih yeeeyy!”
“Udahlah masih aja sih malu-malu kayak anak muda, Ma. Hahaha. Eh, kamu udah siapin segala perlengkapan anak kita belum?”
“Udah dong. Walaupun aku agak jarang di rumah tapi aku ini ibu yang baik. Huh!”
“Udah napa jangan cemberut, Ma. Aku tiba-tiba jadi inget waktu pertama kali aku nyelametin kamu dari Woshrek dulu itu. Kamu bilang makasih gitu sambil sesenggukan. Hehehe.”
“Tuh kan, dibahas lagi! Hiiihh, Papa, ah!”, Melody pun masuk kembali ke dalam rumah sembari cemberut. Rangga pun hanya bisa tertawa melihat kelakuannya.

Rangga terkadang selalu mengingat masa mudanya. Dulu dia adalah salah satu bagian dari Kuran666er. Sekelompok pahlawan delusi yang bertugas menyelamatkan para member sebuah idol group yang terkenal saat itu. Banyak sekali petualangan dan pengalaman yang Rangga alami bersama semua teman-temannya. Suka, duka, semangat, gesrek.. Rangga terkadang rindu akan itu semua. Rangga sangat ingin bertemu muka dengan mereka lagi. Ketika sedang asyiknya Rangga mengingat-ingat masa mudanya, tibaa-tiba dia dikagetkan oleh sebuah suara seseorang dari arah belakang..

“DOOOOOORRRRRRR!! Hahahahahaha! Ayah kaget, hahaha!”
“AISSSHHH YA AMPUUNNN!!! KAMU KENAPA NGAGETIN AYAH SIH? HAH?”, kata Rangga kepada anaknya.
“Eiittss. Sssttt. Sama anak sendiri kok marah-marah? Katanya ayah yang baik?”, ujar Melody. Rangga hanya bisa menggerutu dalam hati.

Di hadapan Rangga dan Melody sekarang berdiri anak semata wayangnya. Tampaknya hari itu adalah hari dimana mereka berdua akan berpisah dengan anaknya untuk waktu yang agak lama. Ya, mungkin sangat lama.

“Seta, biar kamu udah kelas 1 SMA, sebenernya Mama sama Papa agak berat hati buat ngijinin kamu pergi.”, ujar Melody.
“Jaga kesehatan yah. Makan teratur. Jangan males olahraga. Makannya jangan..”
“..sembarangan beli. jangan lupa kerjain tugas-tugas sekolah. Cari teman yang benar-benar baik daaaaaaan lain-lain. Iya kan, Ma?”
*tarik nafas*
“Ma, Seta udah gede. 16 tahun. Seta yakin bisa jaga diri disana kok. Mama sama Papa gak usah khawatir”, ucap Seta sembari tersenyum.

Melody yang mendengar anak semata wayangnya berkata seperti itu, tak kuasa lagi menahan air matanya. Dia langsung memeluk Seta erat-erat. Rangga yang sedari mendengarkan percakapan itu, kemudian datang menghampiri.

“Seta, Papa gak bisa kasih kamu nasihat apa-apa lagi. Kamu pasti inget apa aja yang Papa bilang ke kamu. Tapi, jangan lupa 1 hal. Tetap jadi orang baik disana.”
Seta melepas pelukan ibunya lalu berkata, “Iya Pa. Aku Seta Pranendra, adalah anak dari Rangga Pranendra, Kuran666 Red! Kelak ada saatnya, aku juga akan jadi pahlawan kayak Papa dulu!”
Dengan agak kaget, Rangga berkata, “Waaah, kamu masih berambisi jadi seorang pahlawan yah? Nah, kamu harus terus berbuat baik kepada semua orang. Minimal itu dulu. Inget pesen Papa!”
“Siap Pa. Hehehe. Yaudah Pa, Ma.. Seta mau berangkat dulu ke stasiun.”
“Yasudah, hati-hati dijalan yah, nak”, jawab Rangga.

Melody yang masih menyeka air matanya pun berkata, “Iya Seta. Hati-hati, nak. Eh tunggu. Chimpz mana, Seta?”
Seta pun kaget. “Oiya! Chimpz mana?! Chimpz! Chimpz! Kamu dimana?, Seta memanggil sembari berteriak.

Lalu, seekor simpanse menghampiri Seta sambil memakan pisang yang sudah terkupas. Simpanse itu langsung naik ke pundak Seta.

“Chimpz! Kamu kemana aja?! Kita kan udah mau pergi!”
“Uuukk uuukkk uukkkk!! *menunjuk-nunjuk pisang dan mulutnya*
“Ooh laper, yaudah ayo kita pergi, Chimpz! Ma.. Pa.. Aku pergi dulu! Aku gak bakal lupa nelpon kalian kok! Dadaaaahhh!

Seta pun berlari mengejar angkutan umum yang baru saja melintasi rumahnya. Tinggallah Rangga dan Melody berdua di teras rumah itu. Kemudian Melody kembali masuk ke dalam rumah. Rangga yang sudah selesai membaca koran ikut masuk ke dalam. Saat masuk kedalam, Rangga melihat Melody sedang berdiri menatap sebuah foto yang terpajang di salah satu sudut rumahnya.

“Pa.. Jadi inget dulu yah. Kamu dateng ke teater buat ngelindungin aku sama temen-temen yang lain dari Jenderal VVoshrek. Kuran666 banget deh kamu sama temen-temen kamu dulu. Hihihi.”, ujar Melody sambil tertawa kecil.
“Tapi sayang kan? Sayang doong?”, kata Rangga.
“Ah Papa!”

Rangga lalu memeluk Melody dari belakang. Mereka berdua sama-sama melihat foto yang terpajang disitu. Di potret itu terlihat Melody yang masih memakai seifuku di foto berdua dengan Rangga yang masih menggunakan Kuran666 Form tapi tanpa topeng yang menutupi wajahnya. Mereka tersenyum bahagia.

Side Story @kuran666er: Prolog

Malam itu, di sebuah restoran Asia, terjadilah percakapan antar 2 orang pemuda.

“Eh, Dena cantik banget ya hari ini! Ya walaupun cuma backdancer sih. Tapi tetep aja cantik ya. Hehe.”
“Iya Bov. Beby juga ya. Total banget perform nya malem ini.”
“Menurutmu, Dena bisa di promosiin ke tim laen gak. Yaa.. Kemana aja gitu. Pasti dia seneng banget deh!”
“Menurutku sih bisa dengan kemampuannya yang udah terus diasah banget gitu. Cuma ya keputusan tetap ada di manajemen kan, Bov? Kita fans bisa apa?”
“Iya sih ya. Sistemnya begitu ya kita cuma bisa nunggu aja, Mar. Eh balik yuk, udah malem banget ini. Udah kan makannya?”
“Udah kok, yok lah. Eh jangan lupa samperin yak besok pagi pas mau ke DS.”
“Okesip lah.”

Malam berlanjut sampai esok harinya, Bovie mengunjungi rumah Mario untuk mengajaknya pergi ke event direct selling. Sesampainya di depan pintu rumah dan akan mengetuk pintunya, terdengar suara Mario yang sepertinya sedang menelepon atau di telepon seseorang.

“Hahaha. Ya bukannya gabisa sih. Cuma yaa.. Kalo diliat dari usaha dan latihan, trainee memang selalu memperlihatkan usaha keras. Tapi ya lo tau sendiri. Manajemen gabisa langsung mengangkat mereka masuk suatu tim. Apalagi Bovie yang semangat banget support Dena. Kasian sama Bovie kalau tahu manajemen bakal lama masukin trainee ke dalem tim atau bahkan sebelum masuk tim, Dena udah jenuh dan grad. Kasian juga ya tim trainee. Sama temen segenerasinya malah kayak terpisah gitu. Terbuang..”

Tak sampai selesai percakapan itu, Bovie sudah tak tahan mendengarnya. Sakit hatinya sahabatnya sendiri mengatakan hal seperti itu di belakangnya. Dia bergegas masuk ke dalam mobil dengan perasaan kesal lalu memacu mobil dengan kencang. Mario yang sedang menelepon sepertinya kaget dengan suara mobil tersebut dan langsung menutup teleponnya.

“Suara mobilnya Bovie kan? Tapi kok bisa.. Ah, sial!”. Mario bergegas pergi ke garasi, mengambil motor sportnya lalu berusaha mengejar Bovie.

Di bekas pelabuhan kecil yang sudah tidak terawat itu, Bovie termenung. Dia benar-benar tak percaya, sahabatnya sendiri akan mengatakan hal yang bahkan tak berani dia katakan di hadapannya. Dia lebih memilih mengatakan hal itu di belakangnya, yang justru bagi Bovie sangat mengecewakan. Perlahan tapi pasti, kekesalan Bovie semakin memuncak. Ada yang tak biasa dalam dirinya. Seperti ada kekuatan besar dalam dirinya yang ingin berontak.

Tiba-tiba, Mario datang dengan motor sportnya. Dia pun langsung menghampiri Bovie sampai akhirnya..

“Diam disitu, Mar! Aku benar-benar tidak percaya kau.. Bisa-bisanya.. berkata begitu di belakangku. apakah salah, aku mendukung Dena yang masih trainee?!”
“Nggak, Bov. Nggak. tapi kan, kita harus realis..”
“Realistis? Manusia selalu punya harapan, Mar! Dan aku yakin dengan harapanku. Gapapa kalau kau sebagai sahabat tak setuju dengan harapanku. Aku bisa berharap sendiri!”
“Ooke. Oke, Sori, Bov, tapi yang tadi itu cuma sal..”
“Cukup! Tak usah banyak omong lagi, Mar!”

Tiba-tiba suasana di sekitar bekas pelabuhan itu menjadi gelap. Angin kencang berdatangan. Cuaca yang tadinya cerah tetiba saja menjadi sangat mengerikan.

“Bov, apa-apaan ini? Kenapa sebenernya?!”
“…”
“Bov! Sadar!”
“Kau akan merasakan akibatnya karena meremehkan Dena & juga trainee lainnya, Mar!”
“Bov! Aku kan bilang, itu cuma salah pah..”

Belum selesai Mario melanjutkan perkataannya, tiba-tiba badan Mario melayang jauh seperti didtabrak oleh sesuatu yang keras. Lebih seperti terkena hentakan sebuah gelombang tak terlihat. Mario jauh melayang dan menabrak tembok. Mario mulai kehilangan kesadaran. Dari jauh, nampak samar-samar, Bovie yang sedang menunjuk ke arahnya. Tangannya bergerak, dan tubuh Mario pun bergerak melayang mengikuti arah tangan Bovie.

“Kau harus tahu rasanya selalu diremehkan, Mario!”

Mario yang mulai benar-benar jatuh sadarkan diri, tiba-tiba merasakan sesuatu yang bergejolak dalam tubuhnya. Kesadarannya mulai pulih. Perlahan tapi pasti, Mario mengarahkan telapak tangannya ke arah Bovie, dan tiba-tiba.. WUUSSSHH!! Sebuah sinar keluar dari tangannya dan menuju ke arah Bovie lalu mementalkannya jauh ke belakang. Sementara Mario jatuh dari ketinggian ke permukaan tanah dengan lumayan keras.

“Apa ini? Aku.. Apa yang.. Aku kenapa?! Bovie! Kamu gak kenapa-kenapa?, ujar Mario sambil berlari ke arah Bovie.

Dengan terluka dan napas yang terengah-engah, Bovie pun bangkit.

“Jangan kesini, Mar! Aku bukan Bovie yang kau kenal. Aku bukan lagi seorang sahabat yang selalu bersamamu. Prinsip kita sudah berbeda.”
“Bov, dengerin gue dulu!”, ujar Mario sambil berjalan pincang. Keesadarannya kembali memudar.
“Aku bukan Bovie! Mulai sekarang, aku adalah Woshrek. Jenderal Woshrek. Aku akan buktikan, aku akan menghancurkan semuanya. JKT48 akan bubar! Dan kalian para wota-wota tak berguna akan meratapi kesedihan tak berujung!”
“Tapi Bov! Kau harus dengar! Aku tak pernah meremehkan trainee! Aku..”
“Tak usah banyak omong, Mar! Kita liat aja nanti siapa yang akan menang dari pertarungan ini. Mulai saat ini, aku nyatakan kita mulai pertarungan ini, Mar! Ya, kau dan aku! Bovie..ah, bukan! Woshrek dan Mario! Ada saatnya kita bertemu lagi nanti. Dan aku pastikan kau akan mendapatkan balasannya! TELEPORT!”, dan Bovie pun menghilang.

Mario tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Dia bingung. Dia kesakitan. Dia lemas. Dia bahkan tak percaya apa yang terjadi pada dia dan Bovie hari ini. Dan bahkan sekarang Bovie menghilang. Ya. Menghilang dalam arti sebenarnya. Hilang tak berbekas, tanpa jejak. Dan dia belum tahu kenapa tubuhnya tadi sesaat bergejolak dan merasakan sesuatu yang kuat memberontak. Langi sore itu cerah kembali, dan Mario perlahan menutup mata lalu tak sadarkan diri.

BEBERAPA BULAN KEMUDIAN..

Mario sedang bersantai di sebuah kedai kopi. Lalu sebuah suara menyapanya dari belakang.

“Lama tak bertemu, Mario.”
“Kemana saja kau? Aku mengkhawatirkanmu.”, balas Mario tanpa menoleh ke belakang.
“Aku sudah menyusun kekuatan dan strategi. Untuk menghancurkan kalian semua!”
“Kamu yakin, Bov..ah maksudku..Woshrek?”
“Kau selalu sombong, Mar. Lihat saja nanti.”
“Baiklah. Tapi ada baiknya kau berubah pikiran, Bov. Oh hei, temani aku minum kopi dulu..”

Tak ada siapapun di belakang Mario saat dia menoleh. Dan saat pandangannya beralih ke depan teras kedai tersebut, dia melihat sesosok orang yang sangat dikenalnya itu tersenyum lalu hilang di tengah kerumunan manusia. Mario pun menghela nafas panjang.

“Haaaahhh. Mungkin sudah saatnya aku mencari.”

Mario bangkit dari tempat duduknya, membayar bill di kasir, lalu keluar dari kedai kopi itu. Di tangan kirinya tergenggam 5 photopack yang bahkan tak pernah ada dimana pun. Dan dia pun sepertinya sudah menemukan apa yang dia cari.

“Hmm, langsung pada pergi makan ya? Apa mereka benar-benar wota JKT48? Harus aku periksa, apakah mereka benar-benar kuran666.”