#1Day1StoryForIkha: Diam-Diam Saja

“Ayo Ikha! Buruan! Barang-barang kamu udah belum?”, tanya Kak Naomi setengah berteriak.
“Udah Kak Omi. Udah siap!”
“Yaudah yuk buruan naik bus. Siapa lagi yang belum?”
“Kayaknya udah semua. Terakhir kan aku sama Nat. Itu Nat udah masuk.”
“Iya. Aku disini!”, kata Nat.
“Yaudah. Yuk berangkat.”, tutup Kak Naomi sambil masuk bus.

Hari ini kita berangkat untuk persiapan event meet and greet plus konser esok hari di Bandung. Jarang-jarang banget kita bisa perform dengan formasi penuh. Ya. Yang ke Bandung hari ini Semuanya adalah Tim KIII. Aku senang sekali. Ditambah lagi, aku jarang sekali pergi ke Bandung. Bahkan untuk berlibur. Makanya, ketika kita sampai nanti di Bandung, aku bersama yang lain sudah mempersiapkan banyak agenda untuk mengisi waktu kosong nanti. Jalan-jalan yeay! Haha. Tapi, ada hal lain juga yang sudah aku tunggu-tunggu untuk hari ini. Hmm..

***
“Bro, maneh nonton konser besok?”
“Gak tau euy. Kalo ada yang jual tiket murah mah gapapa deh.”
“Eh, kalo mau sama urang, yuk. Aing ada kenalan sama pantianya. Tadi sih udah mesen 1 tiket. Kalo mau 1 lagi bisa urang pesenin. Setengah harga, lho! Ambil gak?”
Serius?! Yaudah atuh, pesenin yak.”
“Tapi ada persenan buat aing dong ya! Hehehehe.”
“Eeeeuuuhh.. Iya deh, iya.. By the way, maneh gausah lah ngomong pake Bahasa Sunda lagi.”
“Lah, emangnya kenapa?”
“Maksa banget kedengerannya tauk.”
“Errrrrr..”

Selama berkecimpung di fandom ini, aku memang tak pernah memaksakan keuanganku untuk memenuhi hasrat idoling-ku ini. Kalau memang aku sedang tak punya uang atau memang sesuatu itu terlalu mahal untukku, ya aku tak akan memaksakan diri. Makanya, aku tak berniat membeli tiket untuk konser esok hari. Tapi, Anton temanku, ternyata memang orang baik. Hahaha. Akhirnya aku dapat tiket dengan setengah harga. Yaah sudahlah. Yang terpenting aku bisa bertemu oshimenku besok. Atau nanti?

***
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sudah sekitar 3 jam kita ada di Bandung. Sedari tadi sore, kita lebih banyak menghabiskan waktu dengan istirahat di hotel. Aahh.. Aku bosan terus-terusan disini. Aku sekamar dengan Tata, Nadila, Nat, Sinka dan Della. Sedari tadi kita hanya mengobrol dan ngemil. Kecuali Nat. Dia baru saja bangun dari tidurnya. Seakan tahu keinginan kita, manajer kita tiba-tiba masuk ke dalam kamar.

“Hei gals! Pada mau jalan-jalan gak? Aku yang ngawal kalian.”
“Wah! Serius nih?!”, ujar Hanna kaget.
“Yes! Jalan-jalan malem kita! Untung gue udah bangun.”, kata Nat lagi.
“Yaudah ayok semuanya, kita siap-siap yuk.”, kata Sinka.
“Aku tunggu kalian diluar ya. Akau mau manggil LO-nya dulu buat jadi guide kita nanti.”, ujar sang manajer.

Kita pun semua bersiap-siap. Yaa kalian ngerti lah gimana persiapannya para gadis-gadis muda kalau mau jalan-jalan. Hahaha. Rempong banget. Aku pun sedang bersiap-siap saat smartphone ku berbunyi. Ada pesan masuk. Kuambil ponselku dan kubaca pesannya. Aku pun tersenyum-senyum sendiri.

***
“Wah, Pi. Maneh udah dikosan aja. Tumben pulang cepet. Baru juga jam setengah 12.”
“Iya nih, Ton. Aku tidur duluan yak. Maneh begadang kan?”
“Nggg.. Iya sih. Emang kenapa?”
“Bangunin urang yah sekitar jam 3-an. Urang mau pergi?”
“Hah, kemana, Pi?”
“Gausah kepo, Ton. Gak baek, gak ada manfaatnya. Yaudah intinya gitu. Udah yah, urang tidur duluan. Oyasumikhaaa!”
“Terserah maneh! Bebas!

Aku langsung menuju kasurku. Dan tidur sambil tersenyum-senyum.

***
“Fiiuuhh.. Capek juga yak!”, kata Tata.
“Aku gak capek. Aku kenyang. Hohoho.”, Sinka tersenyum-senyum.
“Ah, Sinka mah makan mulu! Pantes gendut. Hahaha.”, timpal Della.
“Ih! Gak gendut-gendut amat kok. Weekkk.”

Nadila dan Nat langsung tertidur. Aku sendiri masih membereskan beberapa belanjaan yang tadi kubeli. Capek sekali rasanya. Setelah semuanya beres, aku langsung menuju kasur dan tidur. Tak sabar untuk esok hari.

***
Fajar mulai menampakkan dirinya. Dua orang muda-mudi ini sedang melihat proses terjadinya fenomena alam yang indah ini.

“Waaahh! Liat deh Kak! Udah mulai muncul mataharinya!”
“Bener kan? Di bukit ini tuh indah banget kalo menjelang fajar.”
“Waaahh! Cantik banget! Makasih yah udah bawa aku kesini, Kak!”
“Hahaha. Sama-sama. Ngomong-ngomong, kayaknya istilah “menculik” lebih pas buat aku. Dan istilah “kabur” pas buat kamu. Hahaha. Kan kamu kabur dari hotel buat ngeliat sunrise ini.”
“Iya nih. Kakak nyulik aku nih dari hotel. Hahaha.”
“Tapi seneng kan diculik gini?”, ucapku sambil setengah menggoda.
“Ah! Tau ah!”, jawabnya sambil tersipu malu. “Tapi, sekali lagi, makasih ya kak udah mau ngasih pengalaman yang berkesan di Bandung ini.” Ah! Manis sekali senyummu, dik.
“Iya Riskha Fairunissa. Sama-sama.”, ujarku sambil tersenyum.

Advertisements

#1Day1StoryForIkha: Suatu Pagi di London

Seisi mall sudah mulai gelap. Maklum saja, sudah benar-benar malam saat itu. Tapi, aku tetap menunggu dia keluar dari teater untuk menemuinya.

“Aku gak nyangka kakak bakal bener-bener masih ada disini. Ini kan udah malem banget.”
“Aku laki-laki. Mana mungkin aku mencederai janji yang kubuat sendiri? Toh, intinya, aku dan kamu udah bisa ketemu.”
“Hahaha. Iya, Kak. Eh, bukannya hari ini juga kakak pertama kalinya nonotn teater?”
“Oh, iya. Hari ini pertama kali aku nonton teater. Kamu lucu banget di setlist ini. Perjaka teater aku udah direnggut sama kamu hari ini.”
“Ih apaan coba? Bisa aja sih. Hahaha. Makasih yah udah nonton dan bilang aku lucu.”
“Eh gak lucu deh. Cantik.”

Kita banyak mengobrol malam itu. Teman-temannya masih ada di dalam teater. Jemputannya pun belum datang. Kita masih asyik saja berbincang-bincang.

“Nanti di teater selanjutnya aku mau demachi ah di depan mall. Nungguin kamu pulang.”
“Hahaha. Buat apa demachi kalo kakak bisa nemuin aku disini.”
“Aku juga fans kamu, kan? Wajar-wajar aja dong?”
“Ahh, iya-iya lah. Terserah kakak aja. Hahaha. Eh, kakak jadi pergi ke London?”
“Alhamdulillah, minggu depan. Mungkin 3 tahun disana. Aku seneng bisa banggain ortu aku akhirnya aku bisa dapet beasiswa kesana. Kamu gak bakal kangen kan?”
“Kangen? Enak aja. Buat apa? Kita kan baru kenal seminggu.”
“Tapi kan aku udah sering mention kamu di Twitter.”
“Kan aku gak bales.”
“Tapi dibaca kan? Kamu juga beberapa kali ketangkep Reupload nge-favorite tweet aku. Hehehehe.”
“Eh, anu.. Ya gitu doang mah biasa aja keleeuuss. Gak cuma aku. Member yang lain juga.”
“Tapi akhirnya kamu DM aku. Weeeekk.”
“….”
“Gak bisa ngomong lagi yaa? Hehehe.”
“Ihhh! Apaan sih?! Pukul juga nih!” Wajahmu memerah. Sepertinya kamu tak bisa lagi menyembunyikan malu.
“Sini kalo bisa! Hahaha.” Aku pun berlari berkeliling lantai 4 sambil kamu mengejar-ngejarku. Tak lama, karena kamu lelah juga. Kamu berhenti, terduduk, masih mencoba mengatur nafas.

“Ah kakak mah. Aku capek tau.”
“Kuberikan air minum yang ada di tasku. “Nih, minum dulu cantik.”
“Ah, ngegombal mulu.” Lalu kamu meninum air mineral itu sampai habis.
“Gapapa kan ngegombalnya dari hati.”
“Ah elah, gombal mulu. DM-nya dihapusin nggak?”
“Ya iyalah. Untuk menjaga karir kamu. Aku gamau kalau kamu harus tiba-tiba berurusan dengan manajemen karena hubungan ini.”
“Hubungan? Emangnya hubungan kita apa? Hahaha.”, sambil tertawa jahil.
“Oh gitu. Jadi aku di PHP-in? Yaudah, aku pulang sekarang ya.”, ujarku sambil mengambil tasku. Aku bergegas melangkah pergi.
“Ih kakak. Aku bercanda doang ih. Ngambekan gitu.”

Aku masih berpura-pura tak mendengarnya. Aku tetap melanjutkan langkahku. Ku dengar dia setengah berteriak.

“Kakak! Aku gak PHP-in kakak kok! Aku beneran suka sama kakak. Jangan marah dong.” Suaranya sudah terdengar lirih. Ah, aku memang tak berbakat menjadi orang jahat. Aku berbalik ke arah, lalu di depannya aku berteriak, “Surprise!! Aku gak marah kok. Weeekkk!!”

Seketika wajahnya tampak marah, “Ih jahat! Jahat! Bodo ah, aku marah ah!”
“Ya ampun, kan aku bercanda. Jangan marah gitu laaah.”
“Bodo amat! Aku kesel!”
“Hmm. Yaudah deh aku pulang beneran yaa.”
“Yaudah sana! Bodo amat!”
“Yaudah, sampai ketemu 3 tahun lagi ya. Aku mungkin bakal jarang ngontek kamu disana paling sesekali. Dan aku juga bakal jarang pulang ke Indonesia soalnya tiket mahal dan itu gak disediain di paket beasiswa aku. Aku juga kayanya gak bisa ngasih kamu gift ataupun fanletter soalnya..”
“Ah! Kakak mah bisa aja bikin aku biar gak marah. Huh!”, katanya sambil masih cemberut.
Sembari tersenyum aku mendekati dia. Aku mengambil saputangan dari saku celana ku, kuhapus air matanya yang tadi membasahi pipinya.

“Gak usah nangis lagi ya. Itu yang aku bilang bohong kok. Hehehe. Tapi kamu gak PHP-in aku kan?”
“Nggak kak. Kan aku udah bilang tadi. Suaranya masih terdengar lirih. “Emang kakak suka sama aku? Jangan-jangan kakak yang PHP-in aku. Huh!”
“Iya, aku nggak suka sama kamu..”
“Tuh kan! Aku benci sama kakak! Aku benci!”
“Eits.. Aku emang gak suka sama kamu. Tapi aku udah sayang sama kamu.”
Dia terdiam. Lalu berkata, “Hmmm. Tau ah! Kakak mah gitu..” Dia tersenyum, tertawa, tapi sambil menangis.
“Hahaha. Kamu emang lucu yah. Eh udah jam segini. Kayaknya member yang lain udah pada mau keluar. Aku pulang dulu yah. Baik-baik yah kamu disini. AKu berangkat ke London besok pagi.”
“Umm, iya kak. Nanti ngontek kakak lewat apa?”
“Yaa kayak biasa Line aja. Nanti gampang lah. KAu berangkat kesana aja belom, udah kangen aja.”
“Iiih! Apaan sih?! Sana pergi, katanya mau pulang?”
“Hehehe. Iya iya. Aku pulang dulu ya.” Aku berjalan ke arah lift.
“Iyaa, eh kak..”, dia berlari menghampiriku.
“Ada apa lag..” Dia mencium pipiku. Aku diam. Waktu seakan berhenti berjalan.
Aku mencoba sadar kembali. Dengan sedikit kaku aku pamit padanya.
“M..ma..makasih ya. Aku pulang dulu ya.”
“Iya, kak. Hati-hati ya.” Dia tersenyum dan.. Ah! Manis sekali senyumnya ditambah matanya yang sipit itu.
“Iya, Ikha. Daaahh.”

***

Aku terbangun. London pagi ini cerah. Walau agak sedikit dingin. Aku langsung mencuci muka. Lalu aku melakukan ibadah pagi, walau tak ada panggilan karena masjid agak jauh dari sini. Setelah selesai, aku membaca kicauan-kicauan di linimasa Twitter ku. Tiba-tiba muncul pop-up chatting Line di ponselku.

“Ikha: Bangun ih! Di Indonesia udah siang tauk. Hahaha :p Selamat pagi ^^”

Muncul lagi pesan baru selang beberapa detik.

“Ikha: Semalem kakak mimpi aneh gak? Aku mimpi lho. Ceritanya kayak pas kita pertama ketemu waktu kakak mau pamit ke London.”

Aku tersenyum.

#1Day1StoryForIkha: Untuk Perempuan Yang Menangis Tersedu Saat Hujan Di Stasiun

Aku baru sampai di stasiun
Aku sangat ingin bertemu kamu
Melihat senyum kamu
Melihat mata indahmu
Aku rindu

Aku menunggu pesan singkat darimu
Kutunggu di stasiun
Aku sudah bertekad
Berapa lamapun akan kutunggu
2 tahun tak bertemu denganmu
Aku merindu

Lama sekali
Siang berganti malam
Panas terik berganti hujan
Namun kamu belum juga datang
Aku masih menunggu

Bulan sudah muncul
Matahari sudah mengantuk dan pergi tidur
Aku bahkan sempat tertidur beberapa saat
Stasiun masih ramai
Hatiku tidak
Ikha, kemana kamu?

Kamu datang, aku berubah senang
Kamu tampak sayu
Sambil memgang payung
Namun pipimu kulihat basah
Kamu acungkan tanganmu
Terlihat cincin jari manismu

Aku menghampirimu
Kupeluk erat dirimu
Kubisikkan ucapan selamat
“Selamat yah. Kamu harus bahagia.”
Kamu makin menangis

Aku tahu bukan salahmu
Aku paham tabiat familimu
Kuhapus air mata yang jatuh di pipimu
Kucium lembut keningmu
“Aku pulang dulu ya. Aku tunggu undangannya.”

Aku melangkah ke loket
Kupesan tiket kepulanganku
Pulang dengan rasa lega
Lega karena kau bahagia
Dan aku pun masuk ke kereta terakhir di malam itu
Meninggalkanmu yang tersedu-sedu

#1Day1StoryForIkha: Sepenggal Memori di Petshop

Hari ini toko hewanku sepi. Eh, toko hewan yang menjadi tempat kerjaku maksudnya. Yah, memang sih, hari ini bukan hari libur, jadi memang pantaslah kalau sepi. Kadang rasanya bosan juga hanya melakukan hal itu-itu saja. Mengecek jumlah hewan, menghitung jumlah makanan hewan, mengecek kembali aksesoris yang kita jual dan lain-lain.
Baru saja aku selesai mengecek makanan hewan yang tersisa, tiba-tiba pintu toko terbuka. Seorang gadis muda masuk, masih dengan seragam sekolahnya, langsung lari ke arahku yang masih berada di bagian rak makanan kucing. Tampaknya dia sedang mencari-cari makanan kucing. Aku pun bergeser ke pinggir rak, agar dia bisa lebih leluasa mencari apa yang dia cari.
“Kak, ada makanan kucing yang mereknya XXXXX nggak?”, tanya si gadis itu.
“Wah, yang merek itu mah lagi kosong kayaknya. Tapi, biar saya coba cariin di gudang dulu ya.”
“Oh iya deh. Makasih ya.”
“Iya sama-sama.”, ujarku sambil mengangguk dan tersenyum.
Aku berjalan menuju gudang penyimpanan. Sekilas aku merasa ada yang mengganjal hatiku. Sepertinya aku pernah tahu siapa dia. Tapi siapa? Ah! Jangan-jangan..

***

“Mama, toko hewan langganan kita tutup. Aku harus kemana lagi, Ma?”
“Wah, ya gatau lagi, Kha. Coba yang deket rumah aja. Tau kan yang disitu? Sebelum perempatan yang mau ke rumah? Maaf ya Mama gabisa jemput kamu dan nganter nyari makanan kucingnya.”
“Tau sih, Ma. Hmm. Yaudah deh aku kesana dulu aja, Ma. Nanti aku telpon lagi ya, Ma. Dadah.”
“Iya, hati-hati ya, Kha.”
Toko hewan langgananku tutup dan aku harus mencari toko lain yang menjual makanan kucing untuk Mou & Umikha. Cuaca pun sedang panas-panasnya. Akhirnya aku menemukan angkot yang jalurnya menuju ke arah rumahku, sedang mengetem. Aku naik angkot itu, tak lama akhirnya sampai tempat yang kutuju. Aku belum pernah ke toko hewan yang satu ini. Padahal dekat dari rumahku. Aneh ya? Soalnya aku sudah punya toko langganan untuk masalah segala keperluan kucing-kucingku..
Buru-buru aku masuk ke toko itu, langsung kucari-kucari rak untuk makanan kucing. Kucari-cari merek makanan kucing yang biasanya aku beli. Tidak ada. Aku pun bertanya pada penjaga toko tersebut, apa makanan kucing yang kucari itu masih ada stok atau tidak. Aku menunggu disitu, sementar penjaga toko itu pergi ke belakang untuk mencari makanan kucingku. Tunggu, aku seperti pernah tahu penjaga toko ini. Tapi sudahlah, sepertinya cuma perasaanku saja.

Sampai akhirnya aku melihat papan nama di meja kasir. Sekelebat mencuat kembali memoriku yang tenggelam.

***

Setelah lama mencari, ternyata makanan kucing yang gadis itu cari masih ada di gudang. Fiiuuh. Aku tak jadi mengecewakan pembeli. Kukira tadi makanan kucing merek ini sudah habis. Aku yakin bahwa aku mengenalnya. Aku tak mungkin bisa lupa.
Dia adik kelasku dulu, 2 tahun dibawahku. Dia duduk kelas 10 saat itu dan aku di kelas 12. Aku tipikal lelaki yang pemalu dan cenderung pendiam. Aku mulai mengenalnya saat aku menjadi panitia MOS. Menurutku dia adalah tipe perempuan yang memang pantas untuk disukai dan di idolakan oleh lawan jenisnya. Ramah, murah senyum, cantik dan masih banyak lagi yang bahakn jika kusebutkan tak akan pernah habis. Waktu itu, teman-teman seangkatanku pun sudah mulai banyak yang mendekatinya. Yaaa, namanya juga lelaki. Tapi aku tak ikut-ikutan. Entah kenapa, mungkin karena aku pemalu.
Kuhapus semua kenangan lama itu. Kuambil beberapa kotak makanan kucing yang tadi dia pesan. Aku keluar dari gudang penyimpanan dan menuju ke arah meja kasir untuk menemuinya. Saat menuju meja kasir, kulihat dia sedang terdiam sambil memegang papan namaku yang tadinya di meja kasir. Lalu dia menatapku. Lekat.

***

Sammy. Kak Sammy! Ya, aku ingat namanya. Dia seniorku dulu di sekolah. Orangnya pendiam dan katanya pemalu. Justru itu yang membuatku penasaran padanya. Namun sampai hari kelulusannya, aku tak pernah bisa bicara banyak padanya. Dekat pun tidak, apalagi aku harus mengatakan perasaan sukaku padanya. Sejak saat itu, sukaku hanya kusimpan rapi dalam hati. Terkunci.
Mari kembali kepada kenyataan. Saat sedang membaca papan namanya, tiba-tiba dia keluar dari gudang sambil membawa beberapa kotak makanan kucing yang kupesan. Aku tertegun. Aku hanya bisa menatapnya. Tiba-tiba, tanpa aku pikirkan, aku memanggil namanya. Spontan.
“Kamu.. Sammy? Kak Sammy? Kelas 12-A SMA Nusantara?”

***

Hari sudah mulai sore. Aku bergegas pamit pada pemilik toko untuk keluar toko sebentar. Aku langsung menyalakan mesin motorku dan langsung menuju ke sekolah SMA Nusantara. Perjalanan yang lumayan lama karena memang tadi agak macet. Akhirnya aku sampai di depan gerbang sekolah. Kucari-cari sekeliling, tapi tak juga ketemukan orang yang kucari. Fiiuuh. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya dia muncul juga dari dalam gerbang sekolah. Tentunya, dengan membawa senyum manisnya itu.
“Hai Kak Sam! Hari ini kita langsung pulang aja ya. Nanti mampir aja dulu bentar di rumah. Aku udah bisa masak lho. Hehehe”, ujarnya sambil naik ke atas jok belakang motorku.
“Iya, iya.. Tuan Putri Riskha Fairunissa yang cerewet” jawabku sambil tersenyum.

Dan dia membalas senyumanku dengan senyuman termanisnya.

Sungguh.

#1Day1StoryForIkha: Kesempatan Yang Lain

“Walah! Udah jam segini aja. Balik ah!”
Aku baru saja membereskan peralatan sekolahku. Bel pulang sekolah sudah berbunyi dari tadi. Aku yang asyik bermain game di ponselku, tak sadar kalau sudah lewat setengah jam sejak bel pulang sekolah. Ketika aku akan berjalan keluar kelas, tiba-tiba perhatianku tertuju kepada bangku di pojok kelas. Ada yang masih tertidur. Kudekati dia yang tertidur di tempat duduknya. Tertidur dengan pulasnya. Kugoyang-goyangkan tubuhnya agar dia bangun.
“Kha, Ikha.. Bangun woi! Udah jam segini! Lu mau gue tinggal sendiri nih di kelas?”
Masih dengan wajah bangun tidur (kalian tau gimana kan wajah bangun tidur?), Ikha dengan malas-malasnya berusaha membuka mata.
“Hmmmhh.. Apaan sih? Gue lagi nyenyak gini..” ucapnya, sambil mengucek-ucek mata.
“Lu mau gue tinggal sendiri disini, Kha? Ayo balik. Udah jam segini tauk.”
Ikha melihat jam, dan terkaget setelahnya. “Hah! Waduh! Ayuk lah balik kita. Tumben amat yak gue tidur lama amat.”
“Kebo sih lu, dasar.”
“Apa-apaan lu, hih! Gue kan begadang semalem buat ulangan hari ini!”
“Yailah, kayak gue dong. Gausah belajar. Asal isi aja. Huehehehe.”
Yeee, gue kan rajin, nggak kaya elo!”
“Terserah lu aja deh, kebo. Hahaha”
“Hih! Tauk ah!”, Ikha melenggang keluar dari kelas.
“Ciee, ngambek. Tambah cantik aja sih.. Eh..”
“Hah, lu bilang apa, Pi? Gue emang cantik keleussss. Hahaha.”
“Iye iye lah, serah lu aja deh.” Ujarku seakan acuh sambil berjalan menuju parkiran sepeda. Bukan karena apa-apa. Aku masih malu setelah mengatakan kata-kata tadi.
“Woi, woi! Tungguin gue, Pi!”

***

Aku sudah sampai di depan sekolah, tepatnya di parkiran sepeda. Aku membuka kunci gembok sepedaku, dan aku berpamitan pada Ikha sambil menaiki sepedaku.
“Yaudah, gue pulang duluan yak, Kha. Sampe besok ya!”
Tidak ada jawaban. Bingung, lalu aku melihat kebelakang. Kulihat Ikha hanya diam sambil memasang tampang memelas sok imut. (Oke, jujur, emang imut sih). Aku tahu artinya jika dia sudah seperti itu. Kuhela nafas sebentar.
“Iye, iye. Ayo naik di belakang. Entar gue anter sampe pertigaan yah.”
Hening. Kulihat lagi kebelakang dia masih memasang pose wajah yang sama.
“Oke, Riskha Fairunissa. Sampe rumah.”
Kulihat dia akhirnya tersenyum. Ah! Aku tak kuat melihat senyum manisnya. “Nah, gitu dong! Baru sobat gue. Hahaha.” Dia langsung naik ke jok belakang sepedaku sambil menepuk-nepuk pundakku. “Ayo jalan pak supir! Cuussss!”
“Yelaaahh..” Lalu kukayuh sepedaku keluar dari sekolah dan berjalan pulang. Bersama Ikha.

***

Perjalanan dari sekolah menuju rumahku lumayan. Tidak jauh, tidak juga dekat. Lumayan jika selama perjalanan pulang dihabiskan untuk mengobrol. Tapi kami berdua diam saja. Ya. Hanya diam. Sepertinya aku mendustakan nikmat Tuhan bisa pulang bersama dengannya. Tak ingin membuang kesempatan, ada baiknya aku yang memulai percakapan.
“Ujian kenaikan kelas bentar lagi, Kha. Mau ke jurusan IPA apa IPS?”
“Mmm.. Apaan ya? Enaknya kemana, Pi?”
“Lah, elu gimana sih? Yang mau menjalani kan elu, Kha. Yaudah ke IPA aja yuk biar bareng gue.”
“Mau aja apa mau banget sejurusan sama gue? Cieeee.”
“Enngg.. Anuu.. Apaan sih? Biasa aja yeee. Kan elu nanya ke gue, ya gue jawab lah.”
“Ciee alesan aja. Hahaha. Yaudah, gue juga udah milih IPA kok. Soalnya gue suka aja sama beberapa pelajaran IPA. Eh, elu sendiri kemana nih?”
“Hmm.. Gue sih masih belum tau, Kha. Kayaknya sih IPA.”
“Nah, gitu dong! Kita kan sobat, Pi! Harus bareng mulu. Hehehe.”
“Hahaha. Persahabatan mah gak lekang dimakan waktu dan zaman. Eh, Ikha. Gue mau nanya dong.”
“Apaan Pi? Tanya aja. Sok iye banget, nanya aja pake ijin dulu.”
“Hmm.. Seandainya, gue suka sama..” Tiba-tiba ada suara telepon berdering. Ikha pun membuka ponselnya.
“Eh sori, Pi. Gue angkat telepon dulu ya.”
“Ahh.. Anu.. Iya-iya sok, gapapa.”
Sial! Aku sudah lama menantikan waktu seperti ini Dan kapan lagi aku harus mengatakan hal ini? Kapan aku harus bilang kalau sebenarnya aku suka padanya dari dulu? Aku sadar, kata sobat dan sahabat, sejatinya adalah kemunafikan kecil yang perlahan membesar yang aku lakukan sampai saat ini. Aku sudah bersiap akan resiko yang aku hadapi. Bahkan jika harus mengubur perasaanku. Tak apa.
Ikha selesai menerima teleponnya. Dia kembali bertanya lagi padaku. “Eh, tadi lu mau bilang apaan, Pi?”
“Ah, gapapa kok, Kha. Hahaha. Tadi siapa yang telpon? Ibu lo ya?”
“Iya nih. Nanya doang belom pulang. Eh, gue mau nanya dong, kalo dari status temen bisa jadi pacar gak sih?”

Jleb.
Mampus.
Speechless.
Sama persis dengan apa yang ingin aku tanyakan padanya.

“Hmm.. Ya bisa aja lah, Kha. Tapi biasanya masalah muncul kalau misalnya pas putus. Masih bisa temenan gak? Ya asal udah sama-sama dewasa dan pengertian mah gak masalah kok. Menurut gue sih gitu. Kenapa emang?”
“Ooh gitu. Hmm. Gapapa kok, Pi. Gue mengandaikan kalo kita tiba-tiba saling jatuh cinta atau salah satu diantara kita mencintai yang satunya lagi. Pasti lucu deh. Hehehehe. Tapi kita tetep sobat ye, ya kan, ya kan? Ya dong.”
“Sobat? Mmm.. Iye dah apa kata lu aja, Kha. Haha.”
Sobat ya? Baiklah.
Dan pada akhirnya, sepeda itu adalah saksi bisu penyesalanku. Andai Ikha tahu..

***

“Kha, ayo latihan yang semangat. Lu lemes banget kayaknya hari ini. Kenapa?, tanya Tata.
“Aku rapopo, hahaha. Candaaa.. Gue gak kenapa-kenapa kok, Tata sayaaaaaang.”
“Yaaa kirain aja lu inget temen sekelas lu dulu yang sampe sekarang gak pernah berani bilang suka ke lu. Lagian sih elunya juga ga berani.”
“Eh apaan?! Eh iya sih.. Tapi.. Ah yaudah sih gausah diingetin lagi! Udah yuk latihan ah..”
“Cieee..”

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam lewat. Aku masuk ke dalam sebuah mall besar. Aku naiki lift dan menuju lantai 4. Sesampainya disana, aku langsung menghampiri seorang petugas keamanan dari tempat yang kutuju., sebuah teater pertunjukan yang diisi oleh sekelompok gadis-gadis remaja. Mereka menyanyi, menari dan lain sebagainya. Mereka adalah sosok idola baru. Hebatnya, Ikha lulus audisi dan menjadi salah satu bagian dari mereka. Kuhampiri petugas kemanan tersebut, lalu dengan sedikit negosiasi, aku bisa menitipkan sepucuk surat untuk Ikha. Setelah melakukan semuanya, aku kembali turun ke lantai 1, memesan taksi, dan menikmati perjalanan pulang ke indekos temanku untuk beristirahat.

***

“Ikha, ini ada gift nih. Kayaknya sih fan letter. Tadi dapet dari security.” Ucap sang manajer kepada Ikha.
“Oh, yaudah taro aja dulu kak. Aku lagi beres-beres ini.”
“Kata security sih, yang ngasih namanya Upi.”
Terkejut, Ikha buru-buru mengambil kertas itu dari sang manajer.
“Makasih ya, kak. Yaudah aku mau beres-beres lagi nih. Udah keburu malem.” Kata Ikha. Manajer yang melihat tingkahnya, pergi sambil terheran-heran.
Ikha masih tak percaya dengan apa yang dipegangnya. Secarik kertas dari seseorang yang sangat dia kenal, yang tiba-tiba menghilang sejak hampir 2 tahun yang lalu. Dengan segenap rasa penasarannya, dia membuka kertas tersebut.

Hai Ikha! ^^
Gimana kabar lo? Baik kan? Baik dong? Hahaha. Sebelumnya, maaf ya gue tiba-tiba ngilang 2 tahun yang lalu. Gue pindah ke Bandung, Kha. Gue pindah karena ortu juga pindah kerja. Kenapa gue gak mau bilang ke lo? Yaaa, gapapa sih. Biar lo kangen aja. Huahaha. Gue udah niatin kok sebelum UN gue bakal ngehubungin lo. Eh, tapi sekarang kita gabisa kontekan ya? Kan sekarang lo udah jadi idol. Cieee, selamat yak  Katanya sih ada golden rules gitu ya yang bilang gaboleh komunikasi sama lawan jenis? Tapi buat temen mah mungkin ada pengecualian ya? Hehehe. Tenang, Kha. Gue tetep gue yang dulu kok, gue yang elo kenal sepenuhnya.
Tapi, gue akuin, Kha. Ada yang berubah dari gue sebenernya. Dan itu udah terjadi sejak kita masih sekolah dulu. Perasaan gue. Ya. Gue udah gak sayang sama lo..

..sebagai sahabat. Sayang gue ke lo, sejak itu sampai sekarang, lebih dari itu. Lebih dari cuma seorang temen atau sahabat. Lo ngerti kan? Gue yakin lo ngerti, karena cuma lo yg kenal gue luar dalem.
Nah, inti dari surat ini adalah, gue mau nanya. Apa lo punya perasaan yang sama kayak gue? Bisa nggak gue punya kesempatan kedua? Mungkin gue pengecut, cuma berani lewat tulisan aja. Tapi ya ini lah gue, Kha. Gue udah mencoba waktu itu, dan kayaknya Tuhan belum ngijinin. Inget terakhir kali kita naik sepeda pulang bareng, dan tiba-tiba ibu lo nelpon? Gue berpikir kesempatan gue ilang disitu dan akhirnya gue gak pernah ngomongin perasaan ini sampe selesai ujian kenaikan kelas.
Besok gue nonton lu di teater itu. Gue mau liat penampilan lo, jadi kasih yang terbaik ya buat gue, hehehe. Terserah lo mau jawab kapan pertanyaan gue. Semoga besok ada waktu untuk kita.

Salam kangen buat mata sipit,
Luthfi

Surat itupun dibasahi oleh air mata Ikha. Dan senyum yang dulu pernah ada untuk Upi, kembali bersemi.