#1Day1StoryForIkha: Diam-Diam Saja

“Ayo Ikha! Buruan! Barang-barang kamu udah belum?”, tanya Kak Naomi setengah berteriak.
“Udah Kak Omi. Udah siap!”
“Yaudah yuk buruan naik bus. Siapa lagi yang belum?”
“Kayaknya udah semua. Terakhir kan aku sama Nat. Itu Nat udah masuk.”
“Iya. Aku disini!”, kata Nat.
“Yaudah. Yuk berangkat.”, tutup Kak Naomi sambil masuk bus.

Hari ini kita berangkat untuk persiapan event meet and greet plus konser esok hari di Bandung. Jarang-jarang banget kita bisa perform dengan formasi penuh. Ya. Yang ke Bandung hari ini Semuanya adalah Tim KIII. Aku senang sekali. Ditambah lagi, aku jarang sekali pergi ke Bandung. Bahkan untuk berlibur. Makanya, ketika kita sampai nanti di Bandung, aku bersama yang lain sudah mempersiapkan banyak agenda untuk mengisi waktu kosong nanti. Jalan-jalan yeay! Haha. Tapi, ada hal lain juga yang sudah aku tunggu-tunggu untuk hari ini. Hmm..

***
“Bro, maneh nonton konser besok?”
“Gak tau euy. Kalo ada yang jual tiket murah mah gapapa deh.”
“Eh, kalo mau sama urang, yuk. Aing ada kenalan sama pantianya. Tadi sih udah mesen 1 tiket. Kalo mau 1 lagi bisa urang pesenin. Setengah harga, lho! Ambil gak?”
Serius?! Yaudah atuh, pesenin yak.”
“Tapi ada persenan buat aing dong ya! Hehehehe.”
“Eeeeuuuhh.. Iya deh, iya.. By the way, maneh gausah lah ngomong pake Bahasa Sunda lagi.”
“Lah, emangnya kenapa?”
“Maksa banget kedengerannya tauk.”
“Errrrrr..”

Selama berkecimpung di fandom ini, aku memang tak pernah memaksakan keuanganku untuk memenuhi hasrat idoling-ku ini. Kalau memang aku sedang tak punya uang atau memang sesuatu itu terlalu mahal untukku, ya aku tak akan memaksakan diri. Makanya, aku tak berniat membeli tiket untuk konser esok hari. Tapi, Anton temanku, ternyata memang orang baik. Hahaha. Akhirnya aku dapat tiket dengan setengah harga. Yaah sudahlah. Yang terpenting aku bisa bertemu oshimenku besok. Atau nanti?

***
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sudah sekitar 3 jam kita ada di Bandung. Sedari tadi sore, kita lebih banyak menghabiskan waktu dengan istirahat di hotel. Aahh.. Aku bosan terus-terusan disini. Aku sekamar dengan Tata, Nadila, Nat, Sinka dan Della. Sedari tadi kita hanya mengobrol dan ngemil. Kecuali Nat. Dia baru saja bangun dari tidurnya. Seakan tahu keinginan kita, manajer kita tiba-tiba masuk ke dalam kamar.

“Hei gals! Pada mau jalan-jalan gak? Aku yang ngawal kalian.”
“Wah! Serius nih?!”, ujar Hanna kaget.
“Yes! Jalan-jalan malem kita! Untung gue udah bangun.”, kata Nat lagi.
“Yaudah ayok semuanya, kita siap-siap yuk.”, kata Sinka.
“Aku tunggu kalian diluar ya. Akau mau manggil LO-nya dulu buat jadi guide kita nanti.”, ujar sang manajer.

Kita pun semua bersiap-siap. Yaa kalian ngerti lah gimana persiapannya para gadis-gadis muda kalau mau jalan-jalan. Hahaha. Rempong banget. Aku pun sedang bersiap-siap saat smartphone ku berbunyi. Ada pesan masuk. Kuambil ponselku dan kubaca pesannya. Aku pun tersenyum-senyum sendiri.

***
“Wah, Pi. Maneh udah dikosan aja. Tumben pulang cepet. Baru juga jam setengah 12.”
“Iya nih, Ton. Aku tidur duluan yak. Maneh begadang kan?”
“Nggg.. Iya sih. Emang kenapa?”
“Bangunin urang yah sekitar jam 3-an. Urang mau pergi?”
“Hah, kemana, Pi?”
“Gausah kepo, Ton. Gak baek, gak ada manfaatnya. Yaudah intinya gitu. Udah yah, urang tidur duluan. Oyasumikhaaa!”
“Terserah maneh! Bebas!

Aku langsung menuju kasurku. Dan tidur sambil tersenyum-senyum.

***
“Fiiuuhh.. Capek juga yak!”, kata Tata.
“Aku gak capek. Aku kenyang. Hohoho.”, Sinka tersenyum-senyum.
“Ah, Sinka mah makan mulu! Pantes gendut. Hahaha.”, timpal Della.
“Ih! Gak gendut-gendut amat kok. Weekkk.”

Nadila dan Nat langsung tertidur. Aku sendiri masih membereskan beberapa belanjaan yang tadi kubeli. Capek sekali rasanya. Setelah semuanya beres, aku langsung menuju kasur dan tidur. Tak sabar untuk esok hari.

***
Fajar mulai menampakkan dirinya. Dua orang muda-mudi ini sedang melihat proses terjadinya fenomena alam yang indah ini.

“Waaahh! Liat deh Kak! Udah mulai muncul mataharinya!”
“Bener kan? Di bukit ini tuh indah banget kalo menjelang fajar.”
“Waaahh! Cantik banget! Makasih yah udah bawa aku kesini, Kak!”
“Hahaha. Sama-sama. Ngomong-ngomong, kayaknya istilah “menculik” lebih pas buat aku. Dan istilah “kabur” pas buat kamu. Hahaha. Kan kamu kabur dari hotel buat ngeliat sunrise ini.”
“Iya nih. Kakak nyulik aku nih dari hotel. Hahaha.”
“Tapi seneng kan diculik gini?”, ucapku sambil setengah menggoda.
“Ah! Tau ah!”, jawabnya sambil tersipu malu. “Tapi, sekali lagi, makasih ya kak udah mau ngasih pengalaman yang berkesan di Bandung ini.” Ah! Manis sekali senyummu, dik.
“Iya Riskha Fairunissa. Sama-sama.”, ujarku sambil tersenyum.

#1Day1StoryForIkha: Untuk Perempuan Yang Menangis Tersedu Saat Hujan Di Stasiun

Aku baru sampai di stasiun
Aku sangat ingin bertemu kamu
Melihat senyum kamu
Melihat mata indahmu
Aku rindu

Aku menunggu pesan singkat darimu
Kutunggu di stasiun
Aku sudah bertekad
Berapa lamapun akan kutunggu
2 tahun tak bertemu denganmu
Aku merindu

Lama sekali
Siang berganti malam
Panas terik berganti hujan
Namun kamu belum juga datang
Aku masih menunggu

Bulan sudah muncul
Matahari sudah mengantuk dan pergi tidur
Aku bahkan sempat tertidur beberapa saat
Stasiun masih ramai
Hatiku tidak
Ikha, kemana kamu?

Kamu datang, aku berubah senang
Kamu tampak sayu
Sambil memgang payung
Namun pipimu kulihat basah
Kamu acungkan tanganmu
Terlihat cincin jari manismu

Aku menghampirimu
Kupeluk erat dirimu
Kubisikkan ucapan selamat
“Selamat yah. Kamu harus bahagia.”
Kamu makin menangis

Aku tahu bukan salahmu
Aku paham tabiat familimu
Kuhapus air mata yang jatuh di pipimu
Kucium lembut keningmu
“Aku pulang dulu ya. Aku tunggu undangannya.”

Aku melangkah ke loket
Kupesan tiket kepulanganku
Pulang dengan rasa lega
Lega karena kau bahagia
Dan aku pun masuk ke kereta terakhir di malam itu
Meninggalkanmu yang tersedu-sedu

#1Day1StoryForIkha: Jangkrik Sendu

“Ikha! Itu ada jangkriknya! Ayo kita tangkep!”
“Eh, mana..mana? Ayo kita kejar!”

Percakapan seperti itulah yang biasanya muncul setiap harinya saat aku masih kecil. Aku dan temanku, Dika namanya, seringkali mencari jangkrik sehabis pulang sekolah. Kami bermain-main di padang rumput yang ada di desa itu. Kami selalu bermain sampai sore hari menjelang maghrib. Jangkrik-jangkrik yang kami tangkap, kami pelihara beberapa hari sebelum akhirnya kami lepaskan lagi.

Waktu terus berjalan. Sampai akhirnya saat ku duduk di kelas 8, aku bersama orangtuaku harus pindah ke kota.

“Ikha, kamu gak bakal lupa kan sama aku? Sama desa ini?”
“Ya nggak dong, Dik. Tenang aja. Nanti aku bakal sering main kesini. Nanti kita main-main lagi lah ya. Ke sawah, sungai, kemana pun. Hehehe.”
“Ya takutnya kamu nggak bisa kesini dan gak ketemu aku lagi.”
“Hah?! Maksud kamu?”
“Hahaha. Nggak apa-apa kok. Nih, aku kasih kamu beberapa jangkrik buat dipelihara. Terserah kamu nanti mau dilepas apa nggak. Pelihara yang bener ya.”
“Wah, makasih Dika. Iya bakal aku pelihara kok. Eh, itu mobilnya udah mau berangkat. Aku pergi dulu ya. Sampai ketemu lagi.”

Setahun pun berlalu. Saat aku pindah ke kota, aku punya banyak teman baru. Aku seakan lupa akan kenanganku di desa. Lupa pada jangkrik-jangkrik, padang rumputnya dan juga Dika. Beberapa kali orangtuaku mengajak untuk berlibur ke desa. Aku selalu menolaknya, aku selalu memilih pergi bersama teman-temanku. Aku lupa, aku punya Dika. Sahabat kecilku. Hingga sampai hari itu datang. Aku sedang berada di rumah temanku saat Mama meneleponku.

*ringtone ponsel berbunyi*
“Halo Ma. Ada apa? Aku lagi main sama temen-temenku.”
“Kamu cepet pulang, nak. Kita harus cepet pergi ke desa.”
“Hah?! Mau ngapain? Nggak ah. Kayak biasanya aja. Mama sama Papa aja lah. Aku nunggu aja di rumah.”
“Ikha, tapi sekarang penting bang..”
“Nggak deh. Aku nggak ikut ma. Udah yah, Ma.”
*ponsel dimatikan*

Mamaku terus meneleponku berkali-kali. Aku kesal. Aku selalu menolak panggilannya. Terakhir kali Mama menelepon, kutolak, langsung kumatikan ponselku. Aku sedang asyik bersama geng ku. Teman-temanku. Aku tak mau mama merusak kegiatanku. Selesai bermain di rumah temanku, aku langsung pulang ke rumah dengan taksi. Setelah sampai rumah, ku tak menemukan siapapun. Cuma pembantuku yang asyik menonton televisi.

“Bibi, orang-orang rumah pada kemana?”
“Lho, Dek Ikha gatau? Kan pada pergi ke desa. Katanya darurat.”
“Oh iya, lupa. Emang ada apa sih, Bi? Kok ribut banget sih kayaknya tadi pas mama telepon?”
“Katanya sih, anak temennya Mama sama Papa Dek Ikha lagi sakit keras. Namanya kalo gak salah Dika.”
“Oh, Dika. Hmm. Hah?! Dika?!”
“I-iya non. Kok kaget gitu? Ada apa?”

Kutinggalkan pembantuku yang kebingungan melihatku. Aku langusng menyalakan ponselku lagi. Banyak pesan masuk dari Mama dan Papa. Hampir semua isinya sama.

“Dika sakit leukimia. Dia mungkin butuh kamu.”

Aku lemas. Aku sedih. Akuu merasa bersalah. Aku sangat sedih. Aku menangis disitu. Kubaca-baca lagi pesan masuk dari orangtuaku. Kubaca yang terakhir masuk ke kotak masuk.

“Mama sama Papa lagi di RS XXX sama Pak Andi & Bu Heni. Dika lagi kritis. Kalo kamu baca ini, cepet kesini.”

Aku tak bisa banyak berpikir lagi. Aku langsung keluar rumah. Kucegat taksi yang lewat dan langsung mengatakan untuk pergi ke rumah sakit itu. Setelah beberapa lama, akhirnya aku sampai ke rumah sakit. Aku langsung mencari orangtuaku. Kutanya pada resepsionis dimana tempat yang kucari. Aku langsung bergegas kesana. Setelah aku sampai kesana, semua orang langsung melihatku. Bu Heni yang sedang tertunduk, berjalan menghampiriku dan langsung memelukku erat. Aku masih bingung. Pak Andi pun menghampiriku juga.

“Maafkan Dika yah, kalau selama ini ada salah kata atau perbuatan sama kamu, Ikha.”

Kulihat Pak Andi menangis. Bu Heni yang sedang memelukku juga menangis. Kulihat sekitarku, Mama dana Papa hanya melihatku dengan tatapan sedih. Kakak-kakakku sedang tertunduk lesu. Aku melepas pelukan Bu Heni.

“Nggak. Nggak mungkin. Dika bakal sembuh kan? Dika bakal bangun lagi kan, Pak?”

Tidak ada orang yang menjawabku. Semua hanya diam.

“Dika pasti bangun lagi. Dika pasti sembuh! Nggak mungkin!”

Aku menangis sejadi-jadinya. Aku juga berteriak-teriak sampai perawat atau orang yang sedang lewat memperhatikanku. Mama dana Papa langsung berdiri dan memelukku. Bu Heni dan Pak Andi pun hanya bisa menitikkan air mata. Kakak-kakakku pun ikut menangis.
Aku takut.
Aku sedih.
Aku merasa bersalah.
Aku tak menyangka, persahabatanku dan Dika akan berakhir seperti ini. Bahkan setahun ini, aku tak sempat berkomunikasi deagannya lewat apapun. Aku menyesal. Sangat.

Pagi pun tiba. Kami sudah di desa. Dan baru saja prosesi pemakaman Dika selesai. Semua keluarga dan tamu masih diliputi atmosfir abu-abu. Penuh kesedihan. Tamu-tamu mengucapkan bela sungkawa kepada Pak Andi dan Bu Heni. Aku pun masih sedih. Aku hanya terdiam, memandangi kuburan Andi yang ada di hadapanku. Sesekali kutaburi bunga yang kuharap bisa mewakili rasa maafku. Tiba-tiba, Bu Heni datang kepadaku.

“Ikha, sebenernya, sebelum Dika benar-benar pergi, dia sempet titip surat ini buat kamu. Cuma karena kemarin situasi lagi tidak pas, jadi baru bisa kasih sekarang. Ini, bacalah.”

Aku menerima surat itu. Bu Heni kembali ke kerumunan orang-orang yang ada disitu. Aku agak melangkah jauh dari tempat itu agar aku bisa tenang membaca surat ini. Kubuka lipatan kertas itu, kulihat tulisan di dalamnya. Tak rapi. Sering kusebut seperti cakar ayam. Aku hanya tersenyum kecil sambil menitikkan air mata ketika mengingatnya.

Hai Ikha. Gimana kabar kamu? Udah setahun lebih kita gak ketemu. Kita gak ngobrol-ngobrol. Aku kangen masa-masa kita berdua suka maen-maen di desa, hehehe. Sebelumnya, aku mau minta maaf karena aku ga bilang sama kamu. Dan orangtuaku gak bilang sama keluarga kamu. Aku baru tau kalo aku mengidap leukimia ini, beberapa hari sebelum kepindahan kamu. Aku sengaja bilang sama orangtuaku biar mereka gak bilang ke kamu atau orangtua kamu. Aku gak mau kalian sedih.

Kamu udah lama gak ke desa. Katanya kamu udha punya banyak temen baru ya? Aku seneng dengernya. Akhirnya kamu punya banyak temen baru. Yang aku harap, kamu gak lupa sama aku dan yang lainnya di desa, hehehe. Tepat pas kamu baca surat ini munkgin aku udah pergi ke tempat yang lain. Yang belum bisa kamu jangkau saat ini. AKu cuma mau bilang, jangan lupain aku ya. Sering-seringlah main ke desa. Jangan lupain semua kenangan yang ada di desa. Dan aku sekarang lega, akhirnya aku bisa ngasih tau alasan kenapa aku bilang ‘aku takut kamu gak bisa ketemu aku lagi’ pas kamu mau pindahan. Semoga kamu maafin aku ya, karena aku gak bilang-bilang soal penyakitku ini. Jangan sedih ya. Karena aku selalu melihat kamu. Dimanapun, kapanpun. Sampai jumpa nanti di keabadian.

Sahabatmu,

Andika

Aku tak bisa menahan-nahan lagi air mataku. Aku sangat merasa bersalah, walau aku tahu itu sangat terlambat. Maafkan aku, Dika. Dan sayup-sayup aku mendengar jangkrik-jangkrik bersenandung di sekitar makam. Indah, namun dibalut kepedihan yang sendu.

Lirik Lagu JKT48 – Hanikami Lollipop

Cover JKT48 Flying Get

Hi guys! Ini pertama kalinya saya posting sesuatu yang eksplisit tentang JKT48 di blog. Gatau kenapa pengen aja. Jadi, udah pada tau kan tentang single JKT48 yang Flying Get ini? Nah, katanya sih ada lagu Hanikami Lollipop ini. Buat yang mau tau liriknya, monggo disimak.

Malu-malu lollipooppu
Setiap kali membayangkan dirimu
Aku pun tersenyum-senyum
Sampai jadi malu sendiri

Malu-malu lollipooppu
Jika kau mencoba rasa hatiku
Lebih dari semua permen
Pasti akan terasa sangat manis

Malu-malu lollipoppu
Malu-malu lollipoppu

Di sekolah itu memang, sangat mengherankan
Bahkan sampai laki-laki, yang biasa saja menjadi terlihat

keren
Pada awalnya kukira, hanya ilusi belaka
Ternyata dirikulah yang, salah sangka, a..a..kan tetapi

Di kursi belakang, kau menatap keluar
Wajah sampingmu yang indah, kenapa sampai sekarang
Ku tak menyadarinya, ada murid baru
Kamu sunguh, tidak terdeteksi!

Tiba-tiba lollipooppu
Bagaikan sedang mengeluarkan
Rasa sayang yang amat besar
Dari dalam saku celana

Tiba-tiba lollipooppu
Aku pun kembali jadi anak-anak
Mulai merengek memohon
Cinta searah yang luar biasa

Tiba-tiba lollipooppu
Tiba-tiba lollipooppu

Mengapakah cinta itu hanya terdiam saja?
Saat mata saling pandang, aku menunduk jadi tersipu malu
Tak mampu berkata-kata, semakin lama dipendam
Waktu makin memanasi, perasaan makin kental.. I Love you!

Tas berwarna biru tertinggal kau lupakan
Pada punggungmu itu ada sayap yang tumbuh
Ku ingin mengejar meski masih sempat
Fikiran yang sangat menyedihkan

Malu-malu lollipooppu
Setiap kali membayangkan dirimu
Aku pun tersenyum-senyum
Sampai jadi malu sendiri

Malu-malu lollipooppu
Jika kau mencoba rasa hatiku
Lebih dari semua permen
Pasti akan terasa sangat manis

Tiba-tiba lollipooppu
Bagaikan sedang mengeluarkan
Rasa sayang yang amat besar
Dari dalam saku celana

Tiba-tiba lollipooppu
Aku pun kembali jadi anak-anak
Mulai merengek memohon
Cinta searah yang luar biasa

Malu malu lollipooppu
Tiba-tiba lollipooppu
Malu malu lollipooppu
Tiba-tiba lollipooppu

Jangan lupa untuk beli CD original nya di tempat yang sudah disediakan oleh manajemen JKT48 ya ^^

#1Day1StoryForIkha: Sepenggal Memori di Petshop

Hari ini toko hewanku sepi. Eh, toko hewan yang menjadi tempat kerjaku maksudnya. Yah, memang sih, hari ini bukan hari libur, jadi memang pantaslah kalau sepi. Kadang rasanya bosan juga hanya melakukan hal itu-itu saja. Mengecek jumlah hewan, menghitung jumlah makanan hewan, mengecek kembali aksesoris yang kita jual dan lain-lain.
Baru saja aku selesai mengecek makanan hewan yang tersisa, tiba-tiba pintu toko terbuka. Seorang gadis muda masuk, masih dengan seragam sekolahnya, langsung lari ke arahku yang masih berada di bagian rak makanan kucing. Tampaknya dia sedang mencari-cari makanan kucing. Aku pun bergeser ke pinggir rak, agar dia bisa lebih leluasa mencari apa yang dia cari.
“Kak, ada makanan kucing yang mereknya XXXXX nggak?”, tanya si gadis itu.
“Wah, yang merek itu mah lagi kosong kayaknya. Tapi, biar saya coba cariin di gudang dulu ya.”
“Oh iya deh. Makasih ya.”
“Iya sama-sama.”, ujarku sambil mengangguk dan tersenyum.
Aku berjalan menuju gudang penyimpanan. Sekilas aku merasa ada yang mengganjal hatiku. Sepertinya aku pernah tahu siapa dia. Tapi siapa? Ah! Jangan-jangan..

***

“Mama, toko hewan langganan kita tutup. Aku harus kemana lagi, Ma?”
“Wah, ya gatau lagi, Kha. Coba yang deket rumah aja. Tau kan yang disitu? Sebelum perempatan yang mau ke rumah? Maaf ya Mama gabisa jemput kamu dan nganter nyari makanan kucingnya.”
“Tau sih, Ma. Hmm. Yaudah deh aku kesana dulu aja, Ma. Nanti aku telpon lagi ya, Ma. Dadah.”
“Iya, hati-hati ya, Kha.”
Toko hewan langgananku tutup dan aku harus mencari toko lain yang menjual makanan kucing untuk Mou & Umikha. Cuaca pun sedang panas-panasnya. Akhirnya aku menemukan angkot yang jalurnya menuju ke arah rumahku, sedang mengetem. Aku naik angkot itu, tak lama akhirnya sampai tempat yang kutuju. Aku belum pernah ke toko hewan yang satu ini. Padahal dekat dari rumahku. Aneh ya? Soalnya aku sudah punya toko langganan untuk masalah segala keperluan kucing-kucingku..
Buru-buru aku masuk ke toko itu, langsung kucari-kucari rak untuk makanan kucing. Kucari-cari merek makanan kucing yang biasanya aku beli. Tidak ada. Aku pun bertanya pada penjaga toko tersebut, apa makanan kucing yang kucari itu masih ada stok atau tidak. Aku menunggu disitu, sementar penjaga toko itu pergi ke belakang untuk mencari makanan kucingku. Tunggu, aku seperti pernah tahu penjaga toko ini. Tapi sudahlah, sepertinya cuma perasaanku saja.

Sampai akhirnya aku melihat papan nama di meja kasir. Sekelebat mencuat kembali memoriku yang tenggelam.

***

Setelah lama mencari, ternyata makanan kucing yang gadis itu cari masih ada di gudang. Fiiuuh. Aku tak jadi mengecewakan pembeli. Kukira tadi makanan kucing merek ini sudah habis. Aku yakin bahwa aku mengenalnya. Aku tak mungkin bisa lupa.
Dia adik kelasku dulu, 2 tahun dibawahku. Dia duduk kelas 10 saat itu dan aku di kelas 12. Aku tipikal lelaki yang pemalu dan cenderung pendiam. Aku mulai mengenalnya saat aku menjadi panitia MOS. Menurutku dia adalah tipe perempuan yang memang pantas untuk disukai dan di idolakan oleh lawan jenisnya. Ramah, murah senyum, cantik dan masih banyak lagi yang bahakn jika kusebutkan tak akan pernah habis. Waktu itu, teman-teman seangkatanku pun sudah mulai banyak yang mendekatinya. Yaaa, namanya juga lelaki. Tapi aku tak ikut-ikutan. Entah kenapa, mungkin karena aku pemalu.
Kuhapus semua kenangan lama itu. Kuambil beberapa kotak makanan kucing yang tadi dia pesan. Aku keluar dari gudang penyimpanan dan menuju ke arah meja kasir untuk menemuinya. Saat menuju meja kasir, kulihat dia sedang terdiam sambil memegang papan namaku yang tadinya di meja kasir. Lalu dia menatapku. Lekat.

***

Sammy. Kak Sammy! Ya, aku ingat namanya. Dia seniorku dulu di sekolah. Orangnya pendiam dan katanya pemalu. Justru itu yang membuatku penasaran padanya. Namun sampai hari kelulusannya, aku tak pernah bisa bicara banyak padanya. Dekat pun tidak, apalagi aku harus mengatakan perasaan sukaku padanya. Sejak saat itu, sukaku hanya kusimpan rapi dalam hati. Terkunci.
Mari kembali kepada kenyataan. Saat sedang membaca papan namanya, tiba-tiba dia keluar dari gudang sambil membawa beberapa kotak makanan kucing yang kupesan. Aku tertegun. Aku hanya bisa menatapnya. Tiba-tiba, tanpa aku pikirkan, aku memanggil namanya. Spontan.
“Kamu.. Sammy? Kak Sammy? Kelas 12-A SMA Nusantara?”

***

Hari sudah mulai sore. Aku bergegas pamit pada pemilik toko untuk keluar toko sebentar. Aku langsung menyalakan mesin motorku dan langsung menuju ke sekolah SMA Nusantara. Perjalanan yang lumayan lama karena memang tadi agak macet. Akhirnya aku sampai di depan gerbang sekolah. Kucari-cari sekeliling, tapi tak juga ketemukan orang yang kucari. Fiiuuh. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya dia muncul juga dari dalam gerbang sekolah. Tentunya, dengan membawa senyum manisnya itu.
“Hai Kak Sam! Hari ini kita langsung pulang aja ya. Nanti mampir aja dulu bentar di rumah. Aku udah bisa masak lho. Hehehe”, ujarnya sambil naik ke atas jok belakang motorku.
“Iya, iya.. Tuan Putri Riskha Fairunissa yang cerewet” jawabku sambil tersenyum.

Dan dia membalas senyumanku dengan senyuman termanisnya.

Sungguh.

#1Day1StoryForIkha: Kesempatan Yang Lain

“Walah! Udah jam segini aja. Balik ah!”
Aku baru saja membereskan peralatan sekolahku. Bel pulang sekolah sudah berbunyi dari tadi. Aku yang asyik bermain game di ponselku, tak sadar kalau sudah lewat setengah jam sejak bel pulang sekolah. Ketika aku akan berjalan keluar kelas, tiba-tiba perhatianku tertuju kepada bangku di pojok kelas. Ada yang masih tertidur. Kudekati dia yang tertidur di tempat duduknya. Tertidur dengan pulasnya. Kugoyang-goyangkan tubuhnya agar dia bangun.
“Kha, Ikha.. Bangun woi! Udah jam segini! Lu mau gue tinggal sendiri nih di kelas?”
Masih dengan wajah bangun tidur (kalian tau gimana kan wajah bangun tidur?), Ikha dengan malas-malasnya berusaha membuka mata.
“Hmmmhh.. Apaan sih? Gue lagi nyenyak gini..” ucapnya, sambil mengucek-ucek mata.
“Lu mau gue tinggal sendiri disini, Kha? Ayo balik. Udah jam segini tauk.”
Ikha melihat jam, dan terkaget setelahnya. “Hah! Waduh! Ayuk lah balik kita. Tumben amat yak gue tidur lama amat.”
“Kebo sih lu, dasar.”
“Apa-apaan lu, hih! Gue kan begadang semalem buat ulangan hari ini!”
“Yailah, kayak gue dong. Gausah belajar. Asal isi aja. Huehehehe.”
Yeee, gue kan rajin, nggak kaya elo!”
“Terserah lu aja deh, kebo. Hahaha”
“Hih! Tauk ah!”, Ikha melenggang keluar dari kelas.
“Ciee, ngambek. Tambah cantik aja sih.. Eh..”
“Hah, lu bilang apa, Pi? Gue emang cantik keleussss. Hahaha.”
“Iye iye lah, serah lu aja deh.” Ujarku seakan acuh sambil berjalan menuju parkiran sepeda. Bukan karena apa-apa. Aku masih malu setelah mengatakan kata-kata tadi.
“Woi, woi! Tungguin gue, Pi!”

***

Aku sudah sampai di depan sekolah, tepatnya di parkiran sepeda. Aku membuka kunci gembok sepedaku, dan aku berpamitan pada Ikha sambil menaiki sepedaku.
“Yaudah, gue pulang duluan yak, Kha. Sampe besok ya!”
Tidak ada jawaban. Bingung, lalu aku melihat kebelakang. Kulihat Ikha hanya diam sambil memasang tampang memelas sok imut. (Oke, jujur, emang imut sih). Aku tahu artinya jika dia sudah seperti itu. Kuhela nafas sebentar.
“Iye, iye. Ayo naik di belakang. Entar gue anter sampe pertigaan yah.”
Hening. Kulihat lagi kebelakang dia masih memasang pose wajah yang sama.
“Oke, Riskha Fairunissa. Sampe rumah.”
Kulihat dia akhirnya tersenyum. Ah! Aku tak kuat melihat senyum manisnya. “Nah, gitu dong! Baru sobat gue. Hahaha.” Dia langsung naik ke jok belakang sepedaku sambil menepuk-nepuk pundakku. “Ayo jalan pak supir! Cuussss!”
“Yelaaahh..” Lalu kukayuh sepedaku keluar dari sekolah dan berjalan pulang. Bersama Ikha.

***

Perjalanan dari sekolah menuju rumahku lumayan. Tidak jauh, tidak juga dekat. Lumayan jika selama perjalanan pulang dihabiskan untuk mengobrol. Tapi kami berdua diam saja. Ya. Hanya diam. Sepertinya aku mendustakan nikmat Tuhan bisa pulang bersama dengannya. Tak ingin membuang kesempatan, ada baiknya aku yang memulai percakapan.
“Ujian kenaikan kelas bentar lagi, Kha. Mau ke jurusan IPA apa IPS?”
“Mmm.. Apaan ya? Enaknya kemana, Pi?”
“Lah, elu gimana sih? Yang mau menjalani kan elu, Kha. Yaudah ke IPA aja yuk biar bareng gue.”
“Mau aja apa mau banget sejurusan sama gue? Cieeee.”
“Enngg.. Anuu.. Apaan sih? Biasa aja yeee. Kan elu nanya ke gue, ya gue jawab lah.”
“Ciee alesan aja. Hahaha. Yaudah, gue juga udah milih IPA kok. Soalnya gue suka aja sama beberapa pelajaran IPA. Eh, elu sendiri kemana nih?”
“Hmm.. Gue sih masih belum tau, Kha. Kayaknya sih IPA.”
“Nah, gitu dong! Kita kan sobat, Pi! Harus bareng mulu. Hehehe.”
“Hahaha. Persahabatan mah gak lekang dimakan waktu dan zaman. Eh, Ikha. Gue mau nanya dong.”
“Apaan Pi? Tanya aja. Sok iye banget, nanya aja pake ijin dulu.”
“Hmm.. Seandainya, gue suka sama..” Tiba-tiba ada suara telepon berdering. Ikha pun membuka ponselnya.
“Eh sori, Pi. Gue angkat telepon dulu ya.”
“Ahh.. Anu.. Iya-iya sok, gapapa.”
Sial! Aku sudah lama menantikan waktu seperti ini Dan kapan lagi aku harus mengatakan hal ini? Kapan aku harus bilang kalau sebenarnya aku suka padanya dari dulu? Aku sadar, kata sobat dan sahabat, sejatinya adalah kemunafikan kecil yang perlahan membesar yang aku lakukan sampai saat ini. Aku sudah bersiap akan resiko yang aku hadapi. Bahkan jika harus mengubur perasaanku. Tak apa.
Ikha selesai menerima teleponnya. Dia kembali bertanya lagi padaku. “Eh, tadi lu mau bilang apaan, Pi?”
“Ah, gapapa kok, Kha. Hahaha. Tadi siapa yang telpon? Ibu lo ya?”
“Iya nih. Nanya doang belom pulang. Eh, gue mau nanya dong, kalo dari status temen bisa jadi pacar gak sih?”

Jleb.
Mampus.
Speechless.
Sama persis dengan apa yang ingin aku tanyakan padanya.

“Hmm.. Ya bisa aja lah, Kha. Tapi biasanya masalah muncul kalau misalnya pas putus. Masih bisa temenan gak? Ya asal udah sama-sama dewasa dan pengertian mah gak masalah kok. Menurut gue sih gitu. Kenapa emang?”
“Ooh gitu. Hmm. Gapapa kok, Pi. Gue mengandaikan kalo kita tiba-tiba saling jatuh cinta atau salah satu diantara kita mencintai yang satunya lagi. Pasti lucu deh. Hehehehe. Tapi kita tetep sobat ye, ya kan, ya kan? Ya dong.”
“Sobat? Mmm.. Iye dah apa kata lu aja, Kha. Haha.”
Sobat ya? Baiklah.
Dan pada akhirnya, sepeda itu adalah saksi bisu penyesalanku. Andai Ikha tahu..

***

“Kha, ayo latihan yang semangat. Lu lemes banget kayaknya hari ini. Kenapa?, tanya Tata.
“Aku rapopo, hahaha. Candaaa.. Gue gak kenapa-kenapa kok, Tata sayaaaaaang.”
“Yaaa kirain aja lu inget temen sekelas lu dulu yang sampe sekarang gak pernah berani bilang suka ke lu. Lagian sih elunya juga ga berani.”
“Eh apaan?! Eh iya sih.. Tapi.. Ah yaudah sih gausah diingetin lagi! Udah yuk latihan ah..”
“Cieee..”

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam lewat. Aku masuk ke dalam sebuah mall besar. Aku naiki lift dan menuju lantai 4. Sesampainya disana, aku langsung menghampiri seorang petugas keamanan dari tempat yang kutuju., sebuah teater pertunjukan yang diisi oleh sekelompok gadis-gadis remaja. Mereka menyanyi, menari dan lain sebagainya. Mereka adalah sosok idola baru. Hebatnya, Ikha lulus audisi dan menjadi salah satu bagian dari mereka. Kuhampiri petugas kemanan tersebut, lalu dengan sedikit negosiasi, aku bisa menitipkan sepucuk surat untuk Ikha. Setelah melakukan semuanya, aku kembali turun ke lantai 1, memesan taksi, dan menikmati perjalanan pulang ke indekos temanku untuk beristirahat.

***

“Ikha, ini ada gift nih. Kayaknya sih fan letter. Tadi dapet dari security.” Ucap sang manajer kepada Ikha.
“Oh, yaudah taro aja dulu kak. Aku lagi beres-beres ini.”
“Kata security sih, yang ngasih namanya Upi.”
Terkejut, Ikha buru-buru mengambil kertas itu dari sang manajer.
“Makasih ya, kak. Yaudah aku mau beres-beres lagi nih. Udah keburu malem.” Kata Ikha. Manajer yang melihat tingkahnya, pergi sambil terheran-heran.
Ikha masih tak percaya dengan apa yang dipegangnya. Secarik kertas dari seseorang yang sangat dia kenal, yang tiba-tiba menghilang sejak hampir 2 tahun yang lalu. Dengan segenap rasa penasarannya, dia membuka kertas tersebut.

Hai Ikha! ^^
Gimana kabar lo? Baik kan? Baik dong? Hahaha. Sebelumnya, maaf ya gue tiba-tiba ngilang 2 tahun yang lalu. Gue pindah ke Bandung, Kha. Gue pindah karena ortu juga pindah kerja. Kenapa gue gak mau bilang ke lo? Yaaa, gapapa sih. Biar lo kangen aja. Huahaha. Gue udah niatin kok sebelum UN gue bakal ngehubungin lo. Eh, tapi sekarang kita gabisa kontekan ya? Kan sekarang lo udah jadi idol. Cieee, selamat yak  Katanya sih ada golden rules gitu ya yang bilang gaboleh komunikasi sama lawan jenis? Tapi buat temen mah mungkin ada pengecualian ya? Hehehe. Tenang, Kha. Gue tetep gue yang dulu kok, gue yang elo kenal sepenuhnya.
Tapi, gue akuin, Kha. Ada yang berubah dari gue sebenernya. Dan itu udah terjadi sejak kita masih sekolah dulu. Perasaan gue. Ya. Gue udah gak sayang sama lo..

..sebagai sahabat. Sayang gue ke lo, sejak itu sampai sekarang, lebih dari itu. Lebih dari cuma seorang temen atau sahabat. Lo ngerti kan? Gue yakin lo ngerti, karena cuma lo yg kenal gue luar dalem.
Nah, inti dari surat ini adalah, gue mau nanya. Apa lo punya perasaan yang sama kayak gue? Bisa nggak gue punya kesempatan kedua? Mungkin gue pengecut, cuma berani lewat tulisan aja. Tapi ya ini lah gue, Kha. Gue udah mencoba waktu itu, dan kayaknya Tuhan belum ngijinin. Inget terakhir kali kita naik sepeda pulang bareng, dan tiba-tiba ibu lo nelpon? Gue berpikir kesempatan gue ilang disitu dan akhirnya gue gak pernah ngomongin perasaan ini sampe selesai ujian kenaikan kelas.
Besok gue nonton lu di teater itu. Gue mau liat penampilan lo, jadi kasih yang terbaik ya buat gue, hehehe. Terserah lo mau jawab kapan pertanyaan gue. Semoga besok ada waktu untuk kita.

Salam kangen buat mata sipit,
Luthfi

Surat itupun dibasahi oleh air mata Ikha. Dan senyum yang dulu pernah ada untuk Upi, kembali bersemi.

#1Day1StoryForIkha: Masih Berbicara Tentang Kebetulan

Aku berada di suatu tempat. Terang. Nyaris menyilaukan mata. Seperti di sebuah padang rumput. Angin berhembus lembut berirama. Masih dengan sangat kebingungan, aku terkejut dengan kedatangan sesosok gadis yang muncul dari kejauhan. Dengan dress putih panjang, tersenyum dengan sangat manis. “Sial! Aku sedang dimana? Aku sudah di surga? Kenapa disini indah sekali? Itu berarti, apakah aku sudah mati?”. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang begitu meledak di benakku. Bahkan andai saja aku sudah mati, aku akan sangat menyesal. Aku belum lunas membayar uang sewa indekos-ku bulan ini kepada Bu Odah, aku belum selesai mengerjakan desain baliho yang dipesan Pak Jarwo, dan bahkan, aku belum bertemu Emak dan Abah di pertengahan tahun ini.

Kembali kepada sesosok gadis yang tadi muncul, dia berjalan menuju ke arahku. Aku hanya bisa menatapnya dengan heran. Ditambah lagi dengan dia yang tiba-tiba duduk di sebelahku, bahkan tanpa permisi. Seakan dia sudah mengenalku sejak lama. Jika saja aku mengenalnya, seharusnya aku merasa de javu dengan situasi seperti ini. Tapi, aku sama sekali tidak merasakannya. Aku belum pernah mengenalnya.

“Namaku Riskha. Panggil aja Ikha.” sembari menyunggingkan senyum manisnya. Aku sampai terpana dibuatnya.

“Hei.. Hei.. Kok bengong sih?” sambil menggoyang-goyangkan bahuku.

“Eh.. anu.. nggg.. Aku gapapa kok. Gapapa. Hehehe.” Ucapku sambil tertawa kecil menahan malu. Bagaimana tidak, dia membuatku tanpa sadar bengong sambil melihat wajahnya. Ah! Senyumnya! Aku ingat sekali! Aku yakin, jika kalian melihatnya juga pasti akan terpana.

“Iiihh.. Kakak tuh aneh yah. Hahaha. Kakak pasti bertanya-tanya, sebenarnya tempat apa ini

. Ya kan?”

“Lah kok tahu? Kamu perhatian amat, padahal kita baru ketemu. Hahaha.”

“Yeee, kegeeran dia. Bukan gitu, kak. Sewaktu aku pertama kali kesini, aku juga mikir gitu. Bahkan, aku sendirian malah. Kakak mah enak gak bosen, kan udah ada aku disini.”

“Ooh gitu. Bentar, bentar.. Kita Cuma berdua disini? Dan kenapa kamu manggil aku kakak? Emang lebih muda kamu ya daripada aku?”

“Iyap. Cuma kita berdua. Dan aku lebih muda, jadi biar lebih akrab aja aku panggil kamu ‘kakak’. Hihihi.”

“Duh, bingung ah! Jadi kenapa kita ada dis..” belum sempat aku menyelesaikan pertanyaanku, dia sudah menarik tanganku dan mengajak aku berjalan.

“Ih Ikha! Ada apa? Mau kemana kita?”

“Udah lah, Kak Upi ikutin aku aja. Kita bakal ngeliat sesuatu yang baguuusss banget!”

“Lho, lho, lho.. Kok kamu tau namak..”

“Sssttt. Diem! Ayo jalan aja!”

Dan aku pun berjalan di belakangnya sembari tanganku masih berpegangan dengan tangannya. Halus. Lembut. Dan hangat. Ada sensasi yang muncul saat kami berpegangan saat itu. Sensasi yang perlahan makin menjalar ke seluruh tubuhku. Seakan aku sedang mendapatkan suatu kebahagian tanpa batas.

Setelah berjalan agak lama, kami pun berhenti di suatu tempat seperti di tebing jurang. Dan pemandangan di depannya adalah..

“Waaaahh! Indah banget disini, Kha! Woaaahh! Aku udah udah lama banget gak ke tempat yang ada air terjunnya. Kereeennn!” Aku berteriak-teriak sendiri seperti seorang anak kecil yang akhirnya dibelikan mainan impiannya.

“Eh tapi, kenapa kamu tahu aku lagi pengen banget ngeliat sesuatu yang indah? Kenapa kamu tahu nama panggilan aku? Cuma orang-orang yang aku kenal dekat yang manggil aku gitu. Kenapa cuma kita berdua disini? Siapa kamu sebenarnya?” Aku mencecarnya dengan banyak pertanyaan yang sedari tadi aku ingin ungkapkan.

“Siapa yang peduli dengan pertanyaan-pertanyaan kayak gitu, kak? Aku sudah beberapa kali kesini, dan aku menikmatinya. Bukannya yang lebih penting sekarang, kita menikmati keindahan yang tempat ini suguhkan ke kita? Nah kan, tuh liat tuh, kak” sembari menunjuk ke dekat air terjun itu berada.

“Ada pelangi tuh, kak. Pelangi adalah simbol keindahan. Keindahan, kebahagiaan.. Bukannya itu yang diidamkan semua orang kak? Hidup indah dan berbahagia. Semua orang menginginkannya, kak.”

Aku masih tidak mengerti dengan apa yang Ikha katakan. Belum jauh aku berpikir, tiba-tiba..

“Kalau aku bertanya ke diri aku sendiri, kenapa aku ada disini, mungkin aku udah tau jawabannya.”

Dengan penasaran, aku bertanya, “Apa? Emangnya apa alasan kamu disini?”

“Ih, mau tau yah, kak? Mau tau banget apa mau tau aja? Kepo dasar! Hahahaha!”

“……”, aku tidak tahu harus berkata apa.

“Hahaha. Gini lho, kak.. Kalau menurut aku sih, tempat ini menyajikan suatu pemandangan yang memang sebenarnya ingin kita lihat. Kita sedang mencari-cari perasaan itu, tapi gak juga ketemu. Makanya tempat ini menghadirkannya. Gitu, kak.”

“Ikha, aku masih gak ngerti.”, ucapku sambil menggarukgaruk kepala. (Eh, orang bingung biasanya garuk-garuk kepala kan?)

Setelah menghela nafas dalam-dalam, akhirnya Ikha berkata lagi..

“Fuuuuhh. Kak Upi, jadi gini.. Ini cuma teori aku ya. AKu mau sedikit cerita. Aku merindukan sosok seorang ayah. Aku pengen kebahagiaanku lengkap. Aku pengen hidup aku kerasa indah. Selama ini aku nyari cara biar aku bisa ngerasain itu semua, tapi gak bisa. Dan, ketika aku terus mengharapkan aku bisa ngerasain suatu kebahagiaan yang aku cari-cari itu, tanpa sadar aku udah ada disini. Tempat ini membuat aku nyaman. Disini aku bisa melihat keindahan dan merasakan kebahagiaan itu. Ngerti?”

“Oh gitu, maaf ya ya sebelumnya, Kha”, aku menjawabnya pertanda aku mengerti maksud dari perkataannya.

“Iya gapapa kok, kak.” Jawab Ikha.

“Aku ngerti sekarang, Kha. Soalnya kehidupan aku sekarang juga lagi nggak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Ekonomi keluargaku sedang pas-pasan. Semua serba pas-pasan. Ditambah dengan berbagai masalahku di lingkungan kampus. Ah! Dan aku emang lagi mengharapkan hidup aku bisa santai gitu. Jadi, mungkin itu alasan aku ada disini?”

“Mmm.. Iya, kak. Mungkin gitu.” Lagi-lagi dia memberikan senyumannya padaku. Manis sekali.

“Eh, terus kenapa kamu bisa tau namaku, Kha?”, aku kembali bertanya pada Ikha.

“Mmm.. Kalo soal itu..  Entahlah. Bukannya suatu kebetulan kita berdua bisa bertemu disini dan sekarang bisa saling kenal? Tetiba aja aku bisa tau nama kakak. Tetiba aja kita bisa jadi akrab gini. Tuhan selalu punya skenario untuk ciptaan-Nya. Tapi, aku seneng kok bisa kenal sama kakak.”

“Hmm.. Aneh ya.. Haha, aku juga seneng kok bisa kenal sama kamu.”

Kami pun saling mengobrol banyak hal disitu. Hal-hal yang disukai, tentang teman, tentang apapun. Panjang lebar. Aku tertawa, dia tertawa. Aku merasa beban yang selama ini aku rasakan, hilang seketika saat aku berbicara banyak hal dengannya.

Namun tiba-tiba saja, kepalaku terasa berat. Mataku terasa berputar-putar. Pusing sekali. Hingga perlahan, aku mulai merasa ngantuk. Aku tiba-tiba ingin merasa tidur. “Kenapa ini? Kenapa tidak bisa biarkan aku berlama-lama dengan Ikha?”

Tak kuat lagi, aku jatuh di atas hamparan rumput di tepi tebing itu, dan mulai tertidur. Samar-samar aku melihat Ikha yang bangun dari duduknya. Samar-samar pula aku mendengar Ikha mengucapkan sesuatu.

“Kebetulan itu skenario yang telah disiapkan. Tuhan punya berjuta rencana untuk kita. Bahkan untuk dua orang yang tetiba saja akrab dan merasa nyaman satu sama lain. Sampai juga lagi, kak” Dan gadis itu akhirnya pergi lalu hilang dari pandanganku. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kepalaku makin terasa berat, hingga sangat sulit aku melawan rasa kantukku. Aku hanya bisa menyebut-nyebut nama Ikha. Yang kurasa, semakin lama, semakin kencang.

“Ikha..”

“Ikhaa..”

“Ikhaaa..”

“Ikhaaaaaa!!”

BYUUUUURRRRRRR!!!!

Aku kaget! Tiba-tiba aku merasa dingin. Perlahan aku mulai mencoba membuka mata. Aku lihat sekeliling, dan aku menyadari bahwa aku ada di kamar indekos-ku. Dan kulihat di sampingku, Bu Odah sedang memegang ember kosong. Sepertinya dia menyiramku tadi.

“Kamu dari tadi berisik banget, tau nggak?! Subuh-subuh kok udah berisik?! Kamu mimpi apa sih, hah?!” Bu Odah marah-marah, lalu pergi keluar dari kamarku. Sepertinya dia akan membangunkan anak kos yang lain.

“Mimpi? Jadi yang kualami itu sebuah mimpi? Tapi aku merasa, itu terlalu nyata kalau itu Cuma sebuah mimpi!” gumamku dalam hati. Masih dengan langkah malas-malasan, kusimpan semua kebingungan ini dan aku berusaha merapikan kasurku yang sudah basah. Akan kujemur nanti sebelum aku ke kampus. Ah iya! Hari ini adalah hari pertama aku menjadi panitia orientasi mahasiswa baru di kampusku. Aku langsung bergegas menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk pergi.

Setelah semua persiapan selesai, aku menjemur kasur dan lain-lainnya yang tadi basah disiram oleh Bu Odah. Sembari memanaskan motorku, aku membuat beberapa roti lapis plus susu hangat untuk sarapan pagi ini. Semuanya selesai, dan aku pun berangkat menuju kampusku.

—||—

Aku sendirian sedang menjaga pintu gerbang kampus, kalau-kalau ada mahasiswa baru yang telat lagi. Sebelum mereka masuk, aku memberi mereka sedikit hukuman. Cuma push-up 10x kali kok. Aku tidak terlalu tega memberikan hukuman untuk orang lain. Tiba-tiba, di depanku sana, aku melihat ada motor yang berhenti. Seorang gadis turun dari motor itu dan memberikan sejumlah uang kepada si pengendara motor. Sepertinya tukang ojek. Setelah itu, sambil setengah berlari, dia lari menghampiriku. Masih dengan sedikit ngos-ngosan, dia menunduk dan meminta maaf padaku, “Maaf kak. Aku telat. Tadi macet banget. Sampe akhirnya aku turun di tengah jalan terus.. terus aku naik ojek deh. Maaf banget ya kak. Jangan dihukum dong. Plisss.. Capek nih..”

“Eh, anak baru udah nawar-nawar aja! Gak sopan banget! Harusnya kamu lebih pagi dong biar gak kena macet! Udah lah, cepat kamu ambil posisi push-“, belum sempat aku melanjutkan sandiwara marah-marahku, dia bangun dari posisinya tadi dan aku bisa melihat wajahnya sekarang.

“I-Ikha? Kamu kok.. Kamu beneran Ikha?”

Dengan tatapan yang kaget dia menjawab, “Lho, kok kakak tau nama aku?”

“Nggg.. anuu.. itu..” Aku tidak tahu harus menjawab apa. Konyol sekali kalau aku menceritakan mimpi anehku kepada seseorang yang bahkan belum ku kenal.

“Udah lah, sana ikut barisan mahasiswa baru yang lain. Untung belum dimulai tuh. Sana masuk!”, ujarku sambil masih mencoba sedikit marah.

“Hahahahaha..” Tiba-tiba dia malah tertawa melihatku sok-sok marah tadi. Aku bingung.

“Udah aku tebak, Kak Upi mah gabisa marah orangnya. Gak usah sok-sok marah deh.. Gak serem wee.. Hahaha. Yaudah aku masuk dulu yah. Makasih ya, Kak Upi. Aku gak dikasih push-up. Hehehe.”

Gadis itu melenggang masuk ke dalam kampus lalu bergabung dengan barisan mahasiswa baru yang lainnya.

Dan aku hanya bisa mematung keheranan.