Mempertanyakan Esensi Berpuasa

Alhamdulillah, tahun ini kita masih mendapat kesempatan untuk bertemu kembali dengan bulan suci Ramadan. Dan bulan puasa tahun ini terasa sekali perbedaannya, khususnya untuk para pemerhati media sosial atau berita-berita lainnya. Bagaimana tidak? Banyak sekali peristiwa-peristiwa yang terjadi selama bulan Ramadan ini.

Yang paling mencolok tentu adalah kasus Ibu Saeni. Ibu-ibu penjual warteg yang dirazia oleh Satpol PP dan selanjutnya mendapat bantuan dana dari banyak pihak hingga ratusan juta. Wow! Dan dimana ada sesuatu yang menarik perhatian, disitulah ada banyak kontroversi. Mulai dari Ibu Saeni yang katanya adalah seseorang yang mampu secara ekonomi dan punya tiga warteg, pemberian bantuan yang katanya settingan dan banyak lah pokoknya semua dijadikan perdebatan. Yang mana yang benar? Wallahu’alam.

Ada pula kicauan-kicauan di Twitter yang jadi bahan perbincangan. Ehm, kicauan di Twitter memang sering juga menjadi bahan obrolan dan perdebatan bahkan di saat bukan bulan puasa. Entah saya yang tidak terlalu memantau Twitter di setiap bulan puasa atau memang baru kali ini saja, banyak sekali orang-orang yang berkicau perihal orang-orang yang tidak berpuasa haruslah menghormati yang puasa. Melalui pengamatan pribadi saya (ndak ilmiah ya, karena saya ndak punya data, ngira-ngira saja), kicauan sejenis ini banyak sekali bermunculan di tahun ini dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Entah kenapa, saya tidak terlalu paham. Mungkin karena prinsip minoritas harus mengikuti jalannya pihak mayoritas, katanya. Ndak paham juga saya. Kalau perkara hormat-menghormati yang menjadi masalah, ya harusnya sebuah penghormatan lahir dari keinginan sadar dan bukan paksaan ya? Bukan begitu idealnya? Sudah banyak pula tokoh-tokoh sekaliber Pak Lukman dan Gus Mus yang memberikan pernyataan bahwa puasa ya seyogyanya tidak perlu sampai bergesekan dengan kegiatan muamalah lainnya. Tapi ya seperti inilah yang terjadi.

Banyak artikel dan literatur mengenai hukum berjualan di bulan dipublikasikan. Kita bisa melihatnya banyak di internet. Silakan anda bisa baca sendiri. Kebanyakan artikel tersebut mengatakan bahwa tidak diperbolehkan berjualan di saat bulan Ramadan dengan alasan setidaknya berusaha menghindari dosa yang mungkin bisa terjadi kalau ada yang berjualanan makanan di siang hari saat puasa. Banyak sekali ragam dalil yang diberikan. Tapi mungkin ada yang luput dari pengamatan bahwa Tuhan juga tidak memperkenankan seseorang untuk menghalangi, merampas atau mengambil hak dan rejeki orang lain.

Banyak pendapat dari orang-orang yang bilang “Buat apa puasa kalau semua hal yang jadi pantangannya hilang? Bukankah puasa adalah menahan diri dari yang tidak diperbolehkan?” atau “Puasa tapi godaannya gak ada, lalu merayakan hari kemenangan. Kemenangan atas melawan apa?”. Saya sendiri setuju dengan pendapat seperti ini karena memang menurut saya benar seperti ini prinsipnya. Toh, di luar bulan Ramadan, banyak juga orang-orang yang berpuasa sunah, dan ya biasa saja. Puasa jalan, kegiatan yang lain juga jalan. Apa karena lantas ini bulan Ramadan maka semuanya harus menjalani ibadah Ramadan? Lah, yang tidak berkewajiban dan yang berkeyakinan lain bagaimana?

Saya yakin bahwa terjadinya banyak fenomena-fenomena yang kita saksikan selama bulan puasa tahun ini pasti ada hikmahnya. Semua pasti bisa menyimpulkan dan mengambil kesimpulan dari berbagai kejadian tersebut. Kalau saya pribadi percaya, hanya Tuhan dan makhluk-Nya yang tahu betul atas apa-apa yang dilakukan makhluk-Nya tersebut. Hubungan satu arah. Hablumminallah. Jadi, ya, masalah saya puasa atau nggak, dosa atau nggak, benar atau salah, ya nanti juga Gusti Allah yang menilai.

Pada akhirnya, timbullah pertanyaan, untuk apa saya berpuasa? Dan bagaimana saya harus berpuasa? Ah, saya yakin semuanya sudah paham dan pasti bisa menjawabnya masing-masing. Udah ah, saya mah mau ngabuburit main Twitter dulu nih. Mumpung belum ada peraturan yang melarang Twitter-an selama bulan puasa dengan alasan banyak foto makanan berseliweran di linimasa.

Advertisements

Cuap-cuap Tentang Kemal, JKT48 dan Stand Up Comedy Indonesia

Hari ini, tepatnya 29 November 2013, linimasa Twitter gue dari jam sekitar abis dzuhur sampe jam setengah 5-an (kira-kira yah, ngapain juga gue itungin?) rame banget sama video. Gue sih berharap video yang diomongin itu sekuel video SMPN 4 & SMPN 3, tapi sayangnya bukan. Jadi pas gue cek link nya, ternyata itu adalah video stand up comedy-nya Kemal Palevi di acara hajatnya Genderuwota48 dan katanya.. materi jokes tentang JKT48 yang disampaikan dinilai sudah terlalu kelewatan. Dan sangat kebetulan sekali, beberapa menit sebelum video tersebut di privat oleh Roadkill Pictures, gue masih sempet aja melakukan kejahatan digital (sebut saja mengunduh)-(maaf ya om, itu karena gue belom nonton jadi penasaran).

Nah, setelah gue nonton itu, ternyata ya.. gue ketawa-ketawa aja. Refleks gue atau gimana gue juga kurang paham. Ya, tapi kan kita bisa membedakan ketawa itu jadi 2 macem. Ketawa suka sama ketawa sebel. Sebenernya gitu sih. (Kalo gak salah itu kata twitnya Om Isman HS). Gue mengambil beberapa poin yang (menurut gue) ‘fenomenal’ bagi para fans jeketi.

1. Muka Sisil gaenak 1:32
2. “Ada yg suka sisil? Gila selera lo sengklek juga” 1:46
3. 3 orang member yg “kurang” termasuk yg udah graduate, Diasta 1:59
4. Shafa gak ada yg nge-oshiin 2:14
5. Dibuat bahan dikamar mandi gak bisa 2:35
6. Ngebahas sepinya HS Sisil dan Shafa 3:15
7. Melody, Nabilah dan Allah 4:40
8. Member lagi pake baju seksi pas ngomong soal Allah 5:00
9. Jibril nolak negur member karena mensyen gadibales 5:38

Sebenernya poin nomer 9 gak terlalu ngaruh secara langsung ke member yah, cuma karena memang lucu aja jadi gue masukin juga. Dan untuk beberapa menit ke akhirnya gak usah gue bahas karena menurut gue gak tajem-tajem amat. Bagi sebagian orang, terlepas apakah dia sensitif atau nggak, materi jokes Kemal ini bisa dibilang tajam. Bahkan sangat tajam bagi orang yang bener-bener awam tentang Stand Up Comedy karena komedi jenis ini materinya cenderung ke arah provokatif ato apalah sejenisnya. Menyangkut ras, suatu komunitas, agama dll.

Dalam konteks Kemal ini, menurut gue, dia secara nggak langsung (atau langsung (?) ) mengklaim dirinya adalah wota atau fans jeketi atau apalah itu). Dan dia membawakan materi yang sebenarnya masih ada dalam komunitas yang dia klaim. Terlepas dari apakah dia sering berkomunikasi dengan para wota yang lainnya atau tidak, tapi imej “Kemal itu wota” sudah banyak orang tahu. Maka, saat dia “menjelek-jelekkan” beberapa member jeketi di dalam materinya, secara otomatis pasti akan memancing emosi beberapa fans. Yaa, umumnya sih gitu. Respek terhadap Kemal mungkin akan banyak berkurang di komunitas fandom tersebut. Apalagi sampek ada yang mau bikin petisi menolak Kemal main di film tersebut. Gilee!! Serius bener yah? (–, )

Namun, dalam masalah materi tersebut, disaat gue memposisikan diri sebagai orang biasa, yang gatau jeketi dan gatau Stand Up Comedy, gue pikir-pikir lagi sih ya memang udah agak kelewatan sih. Gak bisa dipungkiri, komedi di negeri kita belum bisa lepas dari eksploitasi fisik. Apapun bentuknya. Baik komedi jenis apapun itu. Harapan gue sih, semoga apa yang udah terjadi ini gak membawa pendapat-pendapat yang kurang baik untuk pihak-pihak terkait seperti: “Ah, wota sensitif banget sih!”, “Para komika semua materinya kelewatan banget!”, “Jekate mah ngumbar aurat mulu! (eh bener kan ya?)” atau “Ini presiden mana? Kok kasus Kemal gak di ditanggepin? Oiya, negara aja belum bener diurusnya.”

Oke, kayaknya gue udah mulai banyak gak nyambungnya. Yaa, yasudah lah karena sudah berlalu biarlah berlalu. Biar jadi pelajaran untuk semua pihak. Mohon maaf untuk semua pihak yang tidak suka kelakuan saya dalam menulis opini ini, reupload video tersebut dll.
BTW, saya fans jeketi yang belom pernah nge-live di acara mereka, ada yang mau ajak saya?

UPDATE:

Ada pesen dari authornya nih. Maap-maap kata ya pembaca..

Demi menghindari hal hal yang tidak diinginkan terhadap pihak yang bersangkutan (Kemal, JKT48, Genderuwota) lebih bijak bila video ini dihapus saja. Karena kalau terendus media gosip, urusan bakal makin panjang. Terimakasih atas pengertiannya.

HIPradana,
PR Roadkill Pictures

UPDATE (30-11-2013):

Gue sadar, artikel gue ini masih banyak kekurangan. Termasuk tentang Aaron Ashab dan kakaknya yang masih sempat-sempatnya berusaha merebut perhatian teman-teman dunia maya dengan mencoba ‘berdebat’ kembali dengan Kemal. Padahal situasinya lagi agak runyem ye kemaren. Lagi ‘hot’ kemaren fandom jeketi vs Kemal, bisa-bisanya ada yang nyelip. Kesempatan dalam kesempitan 🙂
((( OPORTUNIS SOUNDS GOOD )))

UPDATE (1 Desember 2013)

Gue kirain di awal bulan ini, itu kasus bakal selese dan tenggelam lalu sepi. Subhanallah! Masih ada aja yang memperpanjang bahkan sampai mengira-ngira yang nggak-nggak. Berprasangka buruk. Huft. Sifat asli manusia Indonesia.

Gue ikutin kasus ini dari awal dan udah lewat 1×48 jam dan mulai miris + geli. Liat aja, beberapa oknum yang terus menekan Kemal seakan berada diatas angin dan terus-terusan memojokkannya. Ini aneh lho. Padahal Kemal udah menunjukkan itikad baik untuk menyelesaikan masalah. Kemal juga udah pasrah mau dicap apapun, mau diomongin begimana pun, Kemal mau nyelesein masalah ini dengan cara apapun.

Mari kita agak sedikit relijius *ehem*. Gue tau materinya emang rada rada. Memaafkan memang bukan berarti melupakan. Tapi, bukannya Tuhan itu Maha Pemaaf? Oke, kalau pembaca ateis atau agnostik bisa di skip.

Gue sih lebih prefer kalo masalah ini wota, kroni-kroninya dan simpatisan gak terlalu berkoar banyak-banyak. Mari kita dukung Kemal dan keluarga terkait eh pihak pihak terkait juga untuk menyelesaikannya. Kita gausah ikut banyak banyak lah. Cukup memantau. Mantaunya juga biasa aja kali..gausah sampe nyinyir ngetwit mulu :p Siapalah kita inyi..eh ini.. Yaa, itu sih menurut gue. Karena, gue memandang ini udah berlebihan.

Fin.